Waktu = Kesempatan

Shalat Berjamaah..





Kenapa?
Sudah biasa ya, melakukan shalat berjamaah? Sudah familiar? Berarti gak asing lagi dong? Oke oke, di sini bukan membahas tentang tata cara shalat berjamaah.

Sekedar cuap-cuap saja. Entah pernah menyadari entah tidak, ada pesan penting yang disampaikan oleh shalat berjamaah. Yuk mari, kita coba lihat..

Imam pada shalat berjamaah bukanlah sembarang orang. Ia adalah orang terbaik yang dipilih di antara mereka yang akan melaksanakn shalat. Ini beberapa indikatornya (kondisi lapangan) mengatakan, bahwa yang dipilih menjadi imam itu adalah yang paling bagus (fasih) bacaannya, yang paling banyak hafalannya, yang paling paham tentang agama, dan yang paling-yang paling lainnya. Tidak jarang tho, yang menolak untuk menjadi imam dalam shalat berjamaah? Kenapa itu ya? Dengar-dengar, katanya merasa belum pantas, bacaan yang masih berantakan, hafalan yang baru sepuluh halaman terakhir Al-Qur’an. Aduh, alasannya lumayan banyak dan bikin rempong kalau ditulis satu per satu. Ya, kira-kira itulah alasan yang paling top cer.

give me..


Give me some sunshine
give me some rain
give me another chance
i wanna grow up once again..

Sang Penyimak Kisah (FULL)


Aku ada karena aku dicipta. Aku diberi masa untuk selalu hadir menemani keramaian maupun kesepian. Selesai di belahan bumi ini, aku diperintahkan untuk berpindah ke belahan bumi lain. Aku tetap ada, walau kadang bersama titik-titik air. Aku semakin cantik saat warna jingga mendominasi, semakin gagah saat burung-burung berbaris rapi membentuk formasi. Aku juga bisa berkilau jika mendapat bias sang mentari. Terlebih lagi saat mentari memantulkan silau kilaunya ke hamparan air yang luas itu—entah dimana tepi dan ujungnya. Akulah senja.
Kabarnya, banyak sangat yang menantikan kedatanganku. Seperti artis saja—dinanti-nanti kehadirannya. Ada yang berkata bahwa aku sangat cocok dijadikan teman untuk melepas lelah. Istilah kerennya refreshing. Saat mengunjungiku, banyak lensa penangkap gambar yang beredar di sekelilingku—sudah makin banyak saja ragamnya, kulihat. Terbukti, teknologi semakin canggih. Tapi, ada juga yang cuma duduk-duduk sambil bercerita. Tidak hanya itu—yang duduk sendiri pun ada. Wah wah, ternyata keluarga besar juga mengunjungiku. Ah, aku sudah merasa lebih hebat dari artis terkenal.

Sang Penyimak Kisah..#2



 Aku tidak heran. Kalau cerah begini, memang ramai yang datang ke sini. Mereka mulai berdatangan selepas ashar, kira-kira saat anak-anak pergi mengaji. Aduh aduh, ada sesuatu yang hampir lupa kuberitahu. Rata-rata, orang di sini ingin mempererat tali persaudaraan. Lihat saja. Mereka saling mengambil gambar satu sama lain, saling berangkulan, dan ada juga yang berbagi makanan. Mereka tidak ragu-ragu untuk turun ke pasir (yang sudah jelas basah dan mengotori). Dan apa yang mereka lakukan? Yup, mereka terlihat sedang mengambil posisi untuk ditangkap lensa. Kalau aku tidak salah, namanya berpose. Hmmm..menyenangkan dan amat enak dipandang.

Sang Penyimak Kisah..



Aku ada karena aku dicipta. Aku diberi masa untuk selalu hadir menemani keramaian maupun kesepian. Selesai di belahan bumi ini, aku diperintahkan untuk berpindah ke belahan bumi lain. Aku tetap ada, walau kadang bersama titik-titik air. Aku semakin cantik saat warna jingga mendominasi, semakin gagah saat burung-burung berbaris rapi membentuk formasi. Aku juga bisa berkilau jika mendapat bias sang mentari. Terlebih lagi saat mentari memantulkan silau kilaunya ke hamparan air yang luas itu—entah dimana tepi dan ujungnya. Akulah senja.

Pasa Pabukoan



“Ikuik kuliah umum bisuak?”, aku bertanya
“Mmmmm..caliak lu. Ija??”
“Ndak do, maleh”
“Oo..yo lah”

Sedikit penggalan dialog dengan kawanku di kampus, kemarin (versi Minang). Pagi ini pukul 08.00 WIB, ada kuliah umum PSIKOLOGI BENCANA di fakultas. Ah, tidak cukup menarik bagiku. Beda dengan semangat mahasiswa lainnya. Mungkin mereka sudah berbondong-bondong karena penasaran atau alasan lain. Tapi, itu tidak cukup untuk membuat alasanku menjadi baik seperti mereka. Alasanku cuma malas dan tidak menarik minatku.

Sekitar pukul 10.00 WIB, aku naik angkot (mau ke fakultas). Sesampainya di sana, tepat di gerbang terpampang spanduk besar bertuliskan, “KULIAH UMUM PSIKOLOGI BENCANA bla bla bla..”. Aku cuma duduk di dekat pos satpam (menunggu kakak). Waktu duduk menunggu, lewatlah beberapa kawanku se-jurusan (kira-kira empat orang).

Biarkan aku mencintaimu..



Allah, mohon perkenankanlah hamba menulis ini..
Sekali ini saja..

Bismillah..
Duhai Baginda, saat ini kuberanikan diri untuk menulis ini..

Lama sangat, aku hendak menulis ini. Lama sangat nyaliku bisa muncul untuk menulis ini. Lama sangat aku hendak menumpahkan seluruh kegundahanku selama ini padamu.

Hikmah, tak selamanya bersembunyi..




Siapa yang tidak pernah jatuh dalam hidup? Siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan? Siapa yang tidak pernah menganiaya diri sendiri? Siapa yang tidak pernah dikungkung hawa nafsu?

Kawan, malam ini terasa dingin dibanding malam-malam sebelumnya. Tahukah kamu? Perjalananku sepi, hari-hariku mendung, tak ada matahari yang menemani. Tahukah kamu? Pagiku, kumulai dengan semangat seadanya. Andai saja kamu ada di sini, maka tentu aku akan lebih bersemangat—setidaknya karena melihat senyum di wajahmu yang selalu kurindukan itu.

Kubiarkan dia hancur..




Kenalkan, namaku Reza. Aku seorang mahasiwa. Hari ini aku baru saja melewati ujian akhir semester. Aku datang sebelum waktunya. Aku juga sudah membaca materi ujian dua jam sebelum ujian berlangsung. Aku sering bolos. Aku tidak memperhatikan dosen. Aku tidak mencatat inti perkuliahan. Aku juga tidak antusias dalam diskusi.

Bukan apa-apa. Memang semua itu tidak menarik bagiku. Datang, duduk manis, dengarkan dosen, catat. Ah, itu ke itu saja yang harus kulakukan—selama bertahun-tahun. Ditambah lagi beban tugas yang bukan main banyaknya. Entah untuk apa para mahasiswa diberi tugas. Kabarnya, mencetak sarjana. Memangnya sarjana itu apa?

Ah, aku hanyalah seorang Reza. Tidak dipandang di antara mahasiswa lainnya. Bagaimana bisa dipandang? Aku saja tidak pantas untuk “dipandang” versi mereka. Ah, tujuan hidupku juga bukan untuk pandangan—apalagi pandangan manusia. Manusia itu suka yang enak-enak saja. Ya, kira-kira seperti aku—yang sampai hari ini masih bingung mengapa harus suka dengan dunia perkuliahan. Entahlah..

Mereka Menunggumu..




Kawan, aku menulis ini saat malam tengah berlalu. Ini kutulis terkhusus untukmu duhai yatim, piatu, yatim piatu. Lepas dari itu, ini untukmu juga duhai kawanku yang masih dilimpahkan belaian nyata dua orang manusia mulia. *bersyukurlah..

Duhai yatim piatu..
Tidak usah sedih. Aku tahu kamu sungguh merindukan sosok itu. Aku tahu kamu sering termenung dikala sendiri. Aku juga tahu kamu cukup iri melihat mereka. 

Duhai yatim piatu..
Jangan siksa dirimu dengan penyesalan itu. Jika kamu menyesal, berarti kamu tidak ridho dengan keputusan Allah. Memang, dikala itu kamu belum tahu apa-apa. Belum tahu bagaimana berperilaku santun. Aku paham, kamu sangat ingin memberi sesuatu yang berharga darimu untuk mereka. Tapi sungguh, jangan sesalkan semua ini. Tidak sadarkah kamu? Bukankah adikmu lebih tidak tahu apa-apa saat dia menyandang ‘status’ yatim piatu? Bukankah adikmu lebih tidak tahu berperilaku santun dikala itu? Bukankah adikmu terlalu muda untuk semua ini?

Satu sama




Sudahkah kamu menyapanya hari ini?
Tahukah kamu bagaimana kabarnya?
Apakah dia baik-baik saja?
Bahagia atau sedihkah dia hari ini?
Apakah kamu mengira dia tidak pernah membutuhkanmu?
Apakah kamu mengira dia memandang semua ini tak berharga?
Apakah kamu mengira bahwa dia tidak pernah merindukanmu?
Tak yakinkah kamu bahwa namamu selalu disebutnya ditiap doanya?
Lupakah kamu bahwa kalian pernah sama-sama merajut mimpi?
Apa kamu kira dia tidak berjuang untuk mimpi itu?
Apa lagi yang kamu cemaskan?
Siapa bilang kamu tidak ada di hatinya?
Siapa bilang dia menjauh darimu?
Siapa bilang kalian tidak akan pernah bersua lagi?

Andai aku punya mobil..



Sore itu aku baru saja pulang kuliah. Dikatakan badai—hampir. Awalnya gerimis biasa saja. Ya, aku putuskan untuk tidak memakai payung. Dua temanku yang lain juga begitu. Kami sedang menikmati tusukan-tusukan halus dari air langit yang jatuh. Wah wah, sepertinya tidak bisa lama-lama. Semakin deras saja air yang turun. Tentu, kami putuskan untuk mengembangkan si umbrella. Meski cuma ada satu payung—laa baksa (tidak apa-apa). Kami sedang sangat menikmati kebersamaan itu.

Duduk saja ketiga anak itu di tangga masjid. Menatap butiran air yang semakin deras. Mulailah pikiran ini melanglang buana. Mobil-mobil bagus sudah mulai berjejer rapi di parkiran depan masjid. Tidak sedikit juga motor yang pasrah menerima air hujan yang menusuknya tanpa henti.

Di masa nan abadi..



Duhai, beda benar rasanya malam ini. Tak seperti malam-malam sebelumnya. Sungguh berbeda aku merasa. Entah apa namanya ini, aku tak bisa ungkapkan. Mungkin saja aku sudah tak lama lagi. Setelah ini atau pun saat ini, aku bisa saja disuruh pulang. Jika itu benar, aku hanya ingin pulang dengan tenang. Tanpa gelisah, tanpa takut, tanpa jeritan. Ah, andai saja..

Beberapa hari belakangan ini aku merasa semuanya amat berharga. Tidak seperti hari-hari sebelumnya—yang hanya ingin melakukan apa yang kuinginkan, dengan selalu menganggap semua yang tak kuminati adalah masa bodoh. Syukurlah aku sempat menyadarinya. Sadar—bahwa nyawa ini amat berharga. Sadar—bahwa hidupku saat ini adalah anugerah. Sadar—bahwa mereka di sekelilingku amat harus kusayangi dan kujaga perasaannya. Sadar—bahwa semuanya untuk Allah. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk tidak bersyukur, untuk takut, untuk gelisah. Karena ada Allah yang akan selalu menguatkan perjalananku—hingga aku pulang nanti.

Ini untukmu



Bismillah..
Ini untukmu duhai aku. Rasakanlah, rasakanlah, rasakanlah..

Duhai aku, hidupmu cuma sekali. Nyawa ini amanah. Hidupmu akan tetap bernyawa selagi Allah menghendakinya.

Aku yang ingin bahagia, lihatlah dirimu. Tataplah wajahmu di cermin. Apa yang kau lihat? Bukankah kau melihat sosok hebat yang pundaknya dipikulkan amanah besar oleh Allah?

Aku yang ingin berguna, cukupkan keluh kesahmu dalam shalat dan doa-doamu. Tapakilah jalan ini dan tinggalkan jejak-jejak indah nan amat berharga bagi mereka yang kemudian.

Aku yang air matanya sering jatuh di penghujung malam, tabahkanlah hatimu saat perih menghampiri. Usap lembut saja dadamu itu. Jika buliran bening itu jatuh, seka saja dengan tanganmu. Tidak usah terlalu berharap ada sosok yang selalu siap menyekanya. Hanya Allah lah yang selalu ada.

Ayo! Baca, renungkan, bergerak..

Salam..
Kemarin hari terakhirku di bulan Ramadhan. Hehe..bukan hanya aku. Tapi hari terakhir di bulan Ramadhan bagi seluruh muslim sedunia..

Apa sudah tertebak ceritaku hari ini, kawan? Hehe..benar. Aku tentu bercerita sesuai apa yang kurasa dan momen apa yang sedang kualami. Yup, tepat. Lebaran. Dari semalam, kumandang takbir, tahmid, dan tahlil sudah memenuhi langit komplek perumahanku. He, iya..seluruh langit dunia. Eh, sedikit iseng. Aku pernah mempertanyakan, “Kenapa irama takbiran, itu ke itu saja. Tidak adakah irama lain?”. Silakan yang bersedia menjawab. Jika tidak, juga tak apa. Hehe..

Sampai pagi. Kumandang takbir tetap memenuhi langit dan bumi. Duhai, luar biasa sekali kondisi pagi ini (andai, tiap hari begini..*berharap). Tentu, umat muslim di komplek perumahanku sudah berbondong-bondong menuju mushala—tepatnya lapangan mushala (hehe..karena tidak muat di dalam mushala. Eh, bukan. Kan lebih baik shalat id itu dilaksanakan di tanah lapang..hehe). *cukup tidak penting..

Kurasa itu cukup



Aku cukup bingung hendak memulai dari mana. Rasa-rasanya aku sudah tidak tahu lagi cara untuk mengungkapkan. Ya, bicara sudah jelas aku tak bisa. Sekarang, menulis—satu-satunya cara yang kubisa, juga tak mampu untuk memulainya. Entah apa namanya. Aku juga tak harapkan untuk bisa merangkai kata-kata indah lagi dalam makna. Tidak juga rangkaian kata yang asal-asalan. Hh..susah juga rasanya. Kamu tahu kawan, aku hanya mampu untuk menulis. Lebih dari itu, wallahua’lam. Dan sekarang, menulis itu yang sulit bagiku. Aku merasa tidak ada yang mampu kuungkapkan.

Haha. Lucu juga rasanya. Tidak ada yang menuntutku untuk menulis. Tapi, aku malah seperti dibebani tuntutan yang mengharuskanku untuk terus dan terus menulis. Entahlah.

Rindu juga rasanya ingin merangkai cerita tentang senja—yang tentu sangat kucinta. Tidak banyak orang yang berkenan untuk mendengar ceritaku—yang sudah jelas tak pernah meninggalkan senja. Aku paham itu. Karena, memang tidak banyak orang yang mencintai senja seperti aku mencintainya. Ya, mungkin saat ini aku teramat merindukan senjaku itu. Aku percaya, senjaku akan tetap di sana. Ia takkan pergi. Aku saja yang merasa tak enak. Sudah lama yang cukup sangat aku tak menampakkan raga. Aduh, maafkan aku.

Peluk eratlah ia..



Duhai jiwa, dengarkanlah ini..

Aku sungguh kufur. Sungguh tak tahu diri. Sungguh angkuh dalam melangkah. Jika boleh jujur, sebenarnya aku takut—amat takut. Takut mati dalam kekufuran. Takut mati dalam ketaktahuan diri. Takut mati dalam keangkuhan.

Duhai jiwa, dengarkanlah ini..

Sungguh, aku ingin kembali. Aku ingin memperbaiki. Aku ingin kembali suci. Ingin sangat dijemput dalam khusnul khatimah. Duhai, lemah benar hati ini. Rapuh benar jiwa ini. Terlalu mudah terpengaruh. Sungguh, itu karena aku amat jauh. Jauh dari Allah, jauh dari Al-Qur’an.

Duhai jiwa, dengarkanlah ini..

Aku malu dengan Allah. Dengan amat tegas Allah berkata dalam Al-Qur’an, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (At-Tin, 95:4)”. Aduh, luluh sudah perasaanku. Mulia benar kasih Allah. Agung benar kekuasaan Allah. Aku hanya bisa menunduk, merasa tak layak untuk menengadah.

Duhai hati..



Duhai hati yang gelisah..renungkanlah sejenak

Apa yang kau cari dalam hidup ini?
Apa yang membuat bathinmu sering tak tentram?
Apa yang membuatmu takut berhadapan dengan hari ini?

Duhai hati yang bimbang..renungkanlah sejenak

Kapankah hatimu merasa damai?
Kapankah hidupmu terasa berarti?
Kapankah langkahmu terasa pasti?

Duhai hati yang merindukan kelembutan..renungkanlah sejenak

Hidupmu bukanlah kemarin, esok, atau pun lusa. Hidupmu adalah hari ini. Ingin menjadi lebih baik di hari esok? Duhai, kapankah esok itu akan datang? Bukankah yang kau temui hanya hari ini?

So difficult to say..



Ya, aku cuma bisa diam dan tersenyum. Entahlah, tak bisa lagi bibir ini merangkai kata. Ah, lucu sangat semua ini. Bukankah aku sudah terbiasa melihat orang pergi? Apa-apaan semua ini?

Memang, aku sudah biasa melihat orang pergi—menyaksikan punggung yang perlahan semakin menjauh, hingga hilang dari hadapanku. Kafan tertimbun tanah pun, sudah menjadi sahabat pemandangan bagiku.

Bukan, bukan itu yang membuatku diam dan tersenyum. Itu sudah kawan bagiku.

Aku tak bisa berkata-kata, jika air mata tumpah di depan mataku. Aku tak sanggup menyaksikan kepedihan yang mereka derita. Air mata begitu deras membanjiri pipi lembutnya. Duhai Allah, tidak tega aku menyaksikannya. Tentu, aku hanya bisa diam. Harus pulakah aku menangis? Oh tidak, apalah gunanya jika aku menambah duka yang mereka rasakan? Karena sesungguhnya, aku juga turut berduka. Ya, air mata mereka adalah duka besar bagiku.

Ini Bukan Apa-apa..



Ini bukan nasihat, bukan pesan, bukan amanat, dan juga bukan permintaan..
Ini hanyalah ungkapan hati..

Untukmu yang akan meninggalkan..

Aku tahu kamu cukup ragu. Aku tahu kamu takut akan canggung. Aku juga tahu kamu berusaha menguatkan hati. Namun, kamu ingatlah duhai yang akan meninggalkan, semua ini karena cinta. Langkah baru yang akan ditempuh ini adalah lanjutan dari perjalanan cintamu hari ini. Ya, walau sebelum melanjutkan perjalanan indah ini, kamu harus meninggalkan. Ragu? Takut? Merasa tak sanggup? Ah, itu biasa. Namanya juga perjalanan. Rasulullah saja mesti melakukan hijrah—untuk bisa mempersaudarkan Anshar dan Muhajirin. Bukankah persaudaraan itu indah? Ya, hijrah lah mulanya.

Untukmu yang akan meninggalkan..

Move On Itu Perlu..



Kawanku, semoga dirimu selalu berada dalam limpahan cinta dan kasihNya..

Susah sangat bagiku menelannya. Tenang, bukan menelan air mata yang kumaksud. Itu sudah kulakukan—lama sebelum ini. Tak bisa bagiku untuk makan seenak dulu, meneguk nasi senikmat dulu. Kering sudah rasa-rasaku. Ah, lagi-lagi ceritaku tak seru. Haha..mohon kesabaranmu, kawan.

Syukurnya, nasi di tepi piring itu dapat kuhabiskan meski dalam waktu lumayan lama. Aku tetap usahakan menelannya dengan penuh syukur dan cinta. Mana mau diriku jadi abdi yang kufur lagi? Sudah kapok.

Lucunya, mataku mengantuk setelah itu. Kurebahkan sejenak tubuhku di kasur itu. Tidak ada niat untuk tidur—tapi mataku terasa berat. Ah, apalagi ini? Bukankah sebentar lagi isya? Apa-apaan mataku ini? Sudahlah, lebih baik kupejamkan mata ini sejenak. Belum sempat merealisasikan niatku itu, adzan isya sampai ke telingaku—semoga juga ke hatiku—kuharap. Ya, bukan waktunya tidur. Lebih baik aku berkumur-kumur dan membasuh mukaku. Bukankah itu panggilan Allah? Mana berani aku mengacuhkanNya.

Ah, dunia..




Sulit sungguh mulutku untuk berucap. Lagi-lagi aku tertegun. Tidak satu kali dua kali. Berkali-kali sudah Dia membuatku tertegun. Subhanallah..tahukah kamu, kawan? Itu tepat menohok dadaku. Entah apa rasanya, aku tak bisa ungkapkan. Ya, ungkapkan syukur ini. Bahagia sangat, hidup jauh dari kufur.

Jatuh—terpuruk—bangkit—renovasi hidup..

Itulah perjalananku, kawan. Aku bahagia diizinkan untuk sempat menempuhnya. Setidaknya, sebelum nyawaku diambil, aku sempat—untuk benar-benar mempertanggungjawabkan kesaksianku. Ya, syahadat itu.

Aku kehilangan teman dalam hidup. Dan rasanya amat pedih, kawan. Sudah tak punya orang tua. Ya, saat itu aku begitu merasa jatuh. Serasa kehilangan tempat bersandar—kehilangan tempat bergantung. Entahlah, apa masih bisa aku menempuh hidup ini?—begitu aku memikir. Rumahku sepi. Kursi tempat orang tuaku sering duduk, kosong sudah. Kemana pun pandangan ini kulayangkan, hanya benda mati yang kulihat. Ya, hari-hariku sepi. Sunyi sangat aku merasa.

Untuk Presdir yang Kuhormati..

Singkat, memang—semua ini.

Berawal disaat itu. Seseorang memberi nomor handphone mu padaku. Saat itu biasa saja. Tak ada yang istimewa—begitu aku merasa. Ya, dirimu tahu presdir—aku bukanlah orang yang penuh dengan kelembutan. Namun, aku hanya pandai berterus terang. Ya, walau terkadang keberterusteranganku itu, belum pada tempatnya. Maklum, aku masih belajar.

Hari itu, aku takut untuk menemuimu. Walau sebenarnya, mungkin kamu sedang menunggu. Ya, kamu tahu—saat itu aku benar-benar sedang terpuruk. Takut—kalau-kalau akan membuat kesalahan jika aku datang. Maka aku putuskan untuk tidak datang dan juga tidak memberi kabar.

Ada yang Tahu Kapan Aku Mati?

Sampai kapan harus begini?
Mungkin sampai mati

Entah kapan napas ini akan berhenti berhembus
Ada yang tahu?

Bukan aku yang meminta ini
Bukan aku yang inginkan ini
Tapi, memang ini yang terjadi
Ada yang tahu kapan aku mati?

Tanggung semua ini sampai mati
Tapi, tak usah minta mati
Tak ada guna

Epilog..

Lima belas tahun sudah aku berjalan. Berjalan jauh. Ya, jauh dari rasa sedih, kecewa, menyesal—seluruh rasa yang kurasa akan merapuhkan jiwaku. Sejak lima belas tahun silam itu, aku tak suka air mata. Bukan karena aku membencinya. Tapi, aku bisa lemah karenanya. Banyak yang heran dengan perubahanku. Tapi, aku tak ambil pusing. Jalanku masih panjang—itu pikirku. Dan nyatanya, memang iya—lima belas tahun sudah aku berjalan—bermula di sore itu. Bahagia benar rasanya dengan keputusanku. Aku akui, tidak mudah membuat keputusan seperti itu. Tapi, apalah guna menjadi orang lemah yang selalu mengharap dia kembali dan berjalan bersama lagi? Apalah guna menanti bermandikan air mata duka? Meski saat itu kutahu ini sulit, tapi semuanya sudah menjadi keputusanku. Berbekal harapan untuk bahagia, aku rela menepis semua asa untuk berjalan di sampingnya.

Benar, dia sahabat kecilku. Kami dipertemukan saat ombak menggulung dengan indahnya. Mereka berkejar-kejaran menyambut jabat erat tangan kami. Seketika angin membelai lembut pipi kami yang baru saja bersentuhan. Sejuk benar duhai Allah. Tak disangka, para burung pun terbang merendah menyaksikan sinar mata kami yang beradu. Duhai, lengkap sudah pertemuan sepasang manusia itu. Indah—teramat indah.

Prolog..part 2

Memutar semuanya. Tanpa satu pun terlupa. Bersih. Sangat bersih gulungan film itu di dalam memoriku. Gores pun tidak. Aku yakin, dia sama sepertiku. Juga tak gores olehnya. Dia tersimpan jauh ke dalam—agar tidak tersentuh oleh sekecil apa pun kemungkaran. Ya, dialah cinta. Cinta itulah yang memberiku kekuatan untuk bertahan selama ini. Cinta itu yang membuatku tetap tersenyum di atas pahitnya dunia. Begitu banyak sandiwara—yang tentu menggelisahkanku. Tapi, itu bukanlah apa-apa. Karena aku punya cinta—di sini—di hati ini.

Makin nyaman aku merasa. Jauh dari hiruk pikuk dunia—yang tentu memuakkanku. Tempat ini masih sama seperti dulu. Tak berubah sedikit pun bagiku. Ya, sama dengan cintaku. Tak berubah sedikit pun. Di sini, di batu ini kami selalu duduk. Memandang laut lepas sambil menghirup aroma segar—air, pasir, batu. Sesekali kami meneguk cappuccino dingin—di tangan masing-masing. Tak lama, cerita pun bermulai. Selalu begitu. Tak jarang pula, pecahlah sedikit tawa di tengah cerita kami. Ya, percikan air tak henti menusuk kulit kami. Tidak afdhol rasanya jika tak basah—begitu kami berkata.

Ini Kufur atau Rindu?

Sudah..terima saja
Pedih sangatkah?
Bercakaplah dengan hati sendiri
Tanya..

Biarkan sejenak..

Mencoba menjawab seluruh pertanyaan itu sendiri
Hendak kemana harus kutanyai semua ini?
Kufurkah aku?

Larut malam mata takkan mampu terpejam
Bagaimana bisa?
Hati tak tentram
Kufurkah aku?

Prolog..part 1

Nyaman sekali duduk di sini. Anginnya membelai kulitku lembut. Percikannya menusukku halus. Aromanya menyegarkan kembali napasku. Duhai, indah sungguh tempat ini. Tentram sangat aku merasa.
Tidaklah ada penyesalan di hati dan pikiranku. Bijak sangat dengan melangkahkan kakiku ke tempat ini. Awalnya ragu memang. Tapi, tetap aku coba untuk kuatkan hati. Dan ternyata, sampai juga.
Betapa tidak ragu? Sudah lama yang teramat sangat aku tidak berkunjung ke tempat ini. Tempat—yang menyimpan banyak asa. Di tempat ini kami bertemu. Di tempat ini pula kami berpisah. Di sini kami pertama kali bertatap muka. Ada senyum di wajahnya. Ada sinar di matanya. Jelas. Dan masih akan tetap jelas.
Ya, bertahun-tahun sudah itu berlalu. Tanpa sedikit pun aku melupakan. Benar, tempat ini sudah lama tak ku kunjungi. Tapi, tak sedikit pun terlihat jauh. Amat dekat kurasa. Serasa, selalu ada di depan mataku.

Ah..Lagi-lagi Rindu

Apa kabar Ibu?
Semoga ibu baik-baik saja di sana
Ibu, aku punya cerita untuk ibu. Ibu mau kan, mendengarnya?
Ini cerita tentang petualanganku bu
Sungguh bu, aku merasa jadi petualang terhebat
Aku merasa, akulah petualang paling berani
Petualanganku menyenangkan ibu
Sungguh, teramat menyenangkan
Walau, tak jarang aku tersandung
Bahkan.. terjatuh pun, sudah menjadi sahabat dalam perjalananku

Ibu..aku rindu
Aku rindu dibelai oleh ibu
Aku rindu didekap dalam pelukan ibu
Aku rindu keningku dicium ibu

Aku dan Aku (# 33)

Aku mulai ini dengan nama Allah. Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang..

Kawan, aku mengerti mengapa dulu kamu selalu bersikap cuek padaku. Khususnya, cuek saat aku melakukan hal-hal yang sia-sia. Ya, aku paham sekarang maksud sikapmu beberapa tahun silam itu. Terima kasih kawan, kamu ajarkan aku dengan caramu sendiri. Hha..entah kamu berniat mengajariku entah tidak. Yang jelas, aku dapat belajar dari cara dan sikapmu itu.

Kamu memang kawanku yang hebat. Hebat, karena kamu mau berteman denganku. Hha..aku rasa tak apa aku sedikit ge er.
Apalah yang aku bicarakan ini?? Se kacau bin balau itukah?

Ya, aku suka kamu tersenyum seperti itu.

Aku dan Aku (# 32)

Sedikit pusing malam ini. Ah, sudah biasa..
Apa kabarmu kawan?

Aku ada cerita malam ini. Tentang siapa ya?? Hmm..anggap saja tokoh ini adalah aku atau kamu. Hha..daripada kita anggap orang lain. Nanti malah jadi membicarakan orang. Hha..ada-ada saja.

Sebelumnya aku minta izin, untuk memanggil tokoh ini dengan sebutan “teman”. Itu hanya untuk memudahkanku dalam bercerita. Terserah kamu ingin membayangkan siapa. Dirimu sendiri juga boleh. Sepakat?

Baik, aku mulai. Ada seorang teman yang sudah hidup kira-kira 20 tahun. Beliau sedang duduk di bangku kuliah. Yup, beliau seorang mahasiswa. Beliau cerdas dan sangat optimis. Kehadirannya dapat membuat sekitarnya menjadi semakin cemerlang. Ya, beliau adalah sosok yang hebat.

Aku dan Aku (# 31)

Aku tau kamu juga manusia. Walau telah lama kamu hidup, kamu tetap saja manusia. Jika semakin lama hidup bisa jadi malaikat, sesuatu yang sangat mengejutkan. Tapi tentu tidak. Manusia tetap manusia dan malaikat tetaplah malaikat.

Apa pun yang kamu coba ungkapkan, itu benar adanya. Dan apa pun yang kamu coba simpan, juga benar adanya. Pilihan itu di tanganmu, kawan.

Aku tidak kaget saat kamu bicara soal rasa. Karena tentu, semua kita memilikinya. Aku juga tidak kaget saat kamu berharap dipertemukan dengan sosok yang serasa denganmu. Karena, aku juga begitu. Ingin berbuat dengan rasa. Maaf, mungkin lebih tepatnya—berbuat karena rasa. Rasa itu yang mendorongmu untuk melakukan itu. Sabar saja kawan, kamu tidak sendiri.

Aku dan Aku (# 30)

Hhh.....lumayan letih aku hari ini. Seharian sudah melanglang buana. Aku keliling dunia hari ini. Ya, keliling dunia versiku sendiri.

Aku ingin sampaikan sesuatu padamu, kawan. Ini tentang diriku. Aku dan hidupku. Kamu tentu tau, aku bukanlah anak yang jenius dan cerdas versi mereka—kebanyakan orang. Termasuk bagi keluargaku sendiri. Boleh dibilang, aku adalah anak paling bodoh di antara kami bersaudara. Entah dari kaca mata mana mereka memandangku. Tapi, kurasa tak hanya mereka yang memandangku begitu. Orang-orang di luar sana memandang sama, kurasa.

Ya, benar. Aku bukan sosok yang rajin. Bukan sosok yang bisa dibanggakan oleh mereka. Tak apa bagiku. Karena, bukan itulah tujuan hidupku. Bukan! Sesekali bukan itu. Aku hidup tidak untuk membuat mereka bangga. Aku hidup bukan untuk menjadi barang yang dijajakan kesana kemari demi prestise. Aku hidup untuk Allah, Tuhanku—Tuhan semesta alam. Biarlah aku tidak bisa menaikkan prestise keluargaku di mata orang banyak. Bukan di sana jalanku.

Aku dan Aku (# 29)

Apa yang kamu lihat hari ini kawan? Adakah kamu keluar dari rumahmu hari ini? Menyenangkankah hari ini bagimu? Berartikah hari ini bagimu?

Maafkan aku jika banyak tanya. Aku ucapkan selamat atas hari ini. Cerah atau pun kelam, tetap kata selamat ini untukmu, kawan. Ya, aku hanya rindu menyapamu. Semoga, ada senyuman di wajahmu.

Sudah beberapa hari ini aku tidak keluar rumah. Bosan memang. Hanya bisa melihat dunia melalui layar kaca. Ya, tentu sudah beberapa hari itu juga aku tidak melihat saudara-saudaraku. Hmm..tak apalah.

Cukup lama aku berdiam di rumah. Dan aku merasa, tak satu pun yang dapat kulakukan dengan baik. Ya, aku sakit. Walau nikmat sehat itu tak terganti—sakit juga ada nikmatnya. Siapa bilang dalam sakit tidak ada nikmat? Siapa bilang dalam sakit tidak ada hikmah?

Aku dan Aku (# 28)

Hai kawan. Aku punya cerita. Ini tentang seseorang yang selalu jatuh bangun dalam hidup. Haha. Aku rasa semua orang pernah jatuh bangun. Tapi, yang ini beda. Orangnya bodoh. Jatuh di lubang yang sama berkali-kali. Dihadapkan pada masalah yang sama—yang dia selalu tidak bisa untuk menyelesaikannya.

Aku tidak bermaksud untuk menertawakan orang ini. Hanya saja, aku ingin menceritakan tentangnya padamu. Semoga, kamu bisa mengambil pelajaran. Itu saja.

Orang ini tidak jujur. Senyum disaat hatinya menangis. Tertawa disaat bathinnya merintih. Ya, dia suka sekali menampakkan yang tidak sesuai dengan hatinya. Entah apa tujuannya, aku tak tahu. Aku hanya heran dengannya. Berkali-kali dia mencoba untuk menjadi lebih baik. Tapi apa? Apa yang malah dia dapatkan? Tidak pernah tepat keputusannya itu. Aku rasa, karena mungkin—dia tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dia kurang bijak, kurasa.

Aku dan Aku (# 27)

Aku suka saat diriku bersedih, aku juga suka saat diriku bahagia. Aku suka nilai rendah, aku juga suka nilai tinggi. Aku suka huruf A, aku juga suka huruf E. Aku suka dimanja, aku juga suka dimarahi.

Ya..aku suka saat-saat itu. Meski, tak semua kondisi dapat kuuraikan satu per satu.

Jika tidak ada sedih, bagaimana kutahu bahwa bahagia itu sebenarnya anugerah?? Bukankah di saat aku sedih, aku sangat ingin untuk kembali tertawa?? Mungkin, jika aku tak pernah sedih—aku tidak akan merasakan betapa harusnya aku bersyukur dengan kebahagiaan yang kumiliki. Begitu juga dengan nilai rendah, huruf E, dan dimarahi.

Aku dan Aku (# 26)

Aku cukup heran dengan orang-orang yang tidak jujur. Semoga, aku dan kamu dilindungi dan dijauhkan oleh Allah dari ketidakjujuran. Aamiin..

Aku harus ulangi. Aku heran dengan mereka yang tidak jujur. Padahal, jujur itu adalah hal prinsip yang sudah jelas tidak boleh dilanggar. Tentu, tak sedikit pun boleh diabaikan. Kamu tentu tau kawan, apa makna dari tidak jujur itu? Ya, sebut saja—bohong. Bohong, jelas tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Aku amati dan aku rasakan, kebohongan telah merasuk lini-lini kehidupan.

Kamu tidak usah kaget saat aku begitu yakin untuk ungkapkan, bahwa kebohongan telah merasuki lini-lini kehidupan. Dan mungkin, seluruhnya.

Aku dan Aku (# 25)

Salam kawan..
Aku tau dan sangat yakin, bahwa kelelahan selalu menghampiri hari-harimu. Lelah memang—tapi kamu tetap bertindak walau sebenarnya mata ini minta untuk dipejamkan. Aku tau kamu lelah. Aku juga tau kalau kamu tidak ingin menghentikan semua kebaikan ini. Kamu tidak sadar, kawan—bahwa kamu telah menerjang tembok lelah itu. Sampai-sampai, kamu sendiri lupa kalau kamu cukup lelah.

Aku tidak ragukan lagi. Kelelahanmu bukan berarti apa-apa jika dibandingkan dengan panjangnya jalan kebaikan ini. Seujung jarum pun, belum kurasa. Walaupun begitu, itu usaha yang bagus, kawan. Bisa-bisanya manusia yang sangat kikir dan penuh dengan keluh kesah, tidak ingat kalau sebenarnya dia lelah. Sungguh, sangat hebat. Aku apresiasi itu.

Aku dan Aku (# 24)

Aku tau tidak ada orang yang bisa hidup sendiri. Tapi, ternyata tidak cukup hanya dengan aku mengetahuinya saja. Lebih dari itu, sebenarnya aku mesti memahaminya.

Aku menemukan sesuatu malam ini, kawan. Aku menemukan arti sebuah kesetiaan. Ternyata, tanpa aku dan kamu sadari—dengan selalu berceritanya aku dan kamu, itu adalah wujud dari kesetiaan. Mengapa bisa begitu?? Ya, bisa saja. Sebelumnya, apa perlu aku jelaskan arti kata setia padamu? Kurasa tidak usah kawan. Tentu, kamu sudah tau arti kata itu. Jikalau kamu berkata tidak tau, aku rasa bukan tidak tau. Aku yakin, kamu tau. Hanya saja, tidak mudah untuk diuraikan dalam bentuk kata-kata. Benar kan?

Aku dan Aku (# 23)

Kemarin aku buka internet. Aku buka email di yahoomail.com. Kemudian, dihadapkan ke muka-ku beberapa headline. Dan aku cukup tertarik pada satu judul. Maaf, aku lupa judul lengkapnya. Yang jelas, maksud judul itu mengatakan bahwa DPR setuju dengan keputusan Polda Metro Jaya untuk menolak kedatangan Lady Gaga ke Indonesia. Ya, menolak untuk konser di Indonesia. Kamu tentu tau kawan? di Negara kita sedang marak-maraknya budaya asing—yang semoga tidak menenggelamkan budaya asli Indonesia, kuharap.

Karena tertarik, kemudian aku bacalah berita itu. Senyum-senyum sendiri aku saat membacanya. Kira-kira isinya begini. Di sana dikatakan, bahwa alasan penolakan konser Lady Gaga di Indonesia adalah karena budaya barat yang dijunjung oleh Lady Gaga tidak sesuai dengan ideologi Pancasila—yang tentu sangat dijunjung tinggi oleh Indonesia. Di samping itu, juga dikatakan, bahwa aksi panggung Lady Gaga yang terlalu vulgar—sangat dikhawatirkan akan merusak moral bangsa. Scara, Indonesia berbeda dengan barat. Indonesia sangat menjunjung tinggi budaya. Sedangkan barat, tidak berbudaya.

Aku dan Aku (# 22)

Hhhh….baru saja aku berbagi cerita dengan seseorang—yang sudah lumayan lama menghirup udara dunia. Cukup jauh memang—jarak kami. Maksudku jarak usia. Tapi, pembicaraan kami sangat menyenangkan, kurasa.

Aku ingin menyampaikan ini. Baru saja beliau mengatakan, bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat. Dan aku rasa, memang benar. Karena, tadi baru saja aku menonton televisi. Di dalamnya muncullah orang-orang yang memamerkan barang-barang mewah miliknya. Kemudian, bermainlah analisaku. Hha. Lucu juga jika aku membahasakannya analisa. Tapi, whatever lah. Yang penting maksudnya itu. Yup, aku lanjutkan. Dengan mereka memamerkan barang-barang mewah itu, apa akan berpengaruh pada kehidupanku? Seandainya jika sekarang aku sedang ada masalah, apa mereka bisa memberi solusi dengan tindakan pemernya itu?? Kurasa tidak, kawan. Malah itu seperti angin lalu, menurutku. Tak ada rasa, tak ada tanda.

Aku dan Aku (# 21)

Pernah aku begitu terobsesi menjadi manusia yang sempurna. Sempurna kemampuannya, sempurna gaya hidupnya, sempurna segala sisi kehidupannya. Jika boleh jujur, aku mengalami kesulitan dalam menjalaninya. Gerak langkahku menjadi tidak natural—dibuat-buat rasanya. Tidak hanya itu. Aku juga terbebani dalam menjalaninya. Maka, aku putuskan untuk mengevaluasi dan memperbaiki tujuanku.

Dan memang benar. Itu saja, sudah kuawali dari sebuah obsesi. Tentu, tidak tepat kurasa. Karena, hidup ini bukan obsesi. Hidup adalah cinta yang berisi penuh dengan pengorbanan dan pengabdian. Syukurlah, aku sadar itu.