Memutar semuanya.
Tanpa satu pun terlupa. Bersih. Sangat bersih gulungan film itu di dalam
memoriku. Gores pun tidak. Aku yakin, dia sama sepertiku. Juga tak gores
olehnya. Dia tersimpan jauh ke dalam—agar tidak tersentuh oleh sekecil apa pun
kemungkaran. Ya, dialah cinta. Cinta itulah yang memberiku kekuatan untuk
bertahan selama ini. Cinta itu yang membuatku tetap tersenyum di atas pahitnya
dunia. Begitu banyak sandiwara—yang tentu menggelisahkanku. Tapi, itu bukanlah
apa-apa. Karena aku punya cinta—di sini—di hati ini.
Makin nyaman aku
merasa. Jauh dari hiruk pikuk dunia—yang tentu memuakkanku. Tempat ini masih
sama seperti dulu. Tak berubah sedikit pun bagiku. Ya, sama dengan cintaku. Tak
berubah sedikit pun. Di sini, di batu ini kami selalu duduk. Memandang laut
lepas sambil menghirup aroma segar—air, pasir, batu. Sesekali kami meneguk
cappuccino dingin—di tangan masing-masing. Tak lama, cerita pun bermulai. Selalu
begitu. Tak jarang pula, pecahlah sedikit tawa di tengah cerita kami. Ya,
percikan air tak henti menusuk kulit kami. Tidak afdhol rasanya jika tak basah—begitu
kami berkata.
Jelas sangat
diingatanku, lima belas tahun silam itu. Saat itu, kami bebas bermimpi. Tidak
pernah memikirkan—apakah pantas atau tidak. Apakah mungkin atau tidak. Yang
kami tau, kami harus punya mimpi. Benar, saat itu kamilah pemenang seluruh
pertandingan. Kami adalah sang juara. Dan sampai saat ini. Tentu, sampai saat
ini masih kamilah pemenang itu.
Allah, alamMu telah
mengajarkanku untuk bermimpi. Aku hari ini, tidaklah apa-apa tanpa mimpi lima
belas tahun silam itu. Aku rindu. Teramat rindu. Engkau tau duhai Allah, lima
belas tahun sudah aku tidak berjumpa dengannya. Lima belas tahun sudah aku
hidup tanpa tatapan nyatanya. Engkau telah pautkan hati ini. Allah, jika boleh
aku bertanya—kapankah masa itu akan terulang kembali? Rindu sangat aku menatap
matanya, menjabat tangannya, meneguk cappuccino bersama. Semuanya ya Allah, aku
rindu semuanya.
Sekarang, aku sudah
bisa kembali duduk di batu ini. Bahagia sangat bathinku. Kucoba meneguknya
sedikit demi sedikit. Cappuccinoku agak berubah duhai Allah. Tidak lengkap
rasanya, jika dia tak ada. Dia—yang lima belas tahun silam selalu duduk menemaniku
meneguk cappuccino dingin ini. Dimanakah dia sekarang duhai Allah?
Benar, sepasang
manusia itu belajar bagaimana untuk bermimpi—di sana. Jelas sangat di depan
matanya. Jika ingin bermimpi, tidak boleh setengah-setengah. Bagaimana bisa
nelayan itu membawa pulang banyak ikan, jika mereka tidak sungguh dan sabar?
Kadang jalanya berisi banyak ikan, kadang sedikit, dan kadang pun tak ada. Ya,
ombak itu juga. Pernahkah ombak itu berhenti menghempas?
Damai benar hatiku,
bisa kembali duduk di batu ini. Ya, air itu masih menggenang. Sampai sekarang.
Jernih. Persis seperti lima belas tahun lalu. Tentu, aku masih bisa melihat
wajahku di dalamnya. Kucoba tersenyum—dan sangat jelas, ada senyumku juga di
genangan itu. Sungguh, campur aduk yang teramat sangat hatiku saat ini. Susah
benar, untuk berkata-kata. Tak kering sedikit pun. Duhai Allah, sama persis
dengan hatiku—tak kering sedikit pun. Sungguh hebat kuasaMu. Lima belas tahun
sudah aku tak duduk di sini, tapi—air itu tetap menggenang. Ya, batu itu ada di
antara batuku dan batunya. Batu—yang sering kami duduki.
Lagi-lagi memori
lima belas tahun silam itu, tayang kembali di alam pikirku. Lebih jelas
dibanding bioskop. Waktu itu, aku dan dia duduk di batu kami masing-masing.
Tentu, cappuccino dingin menemani pembicaraan asyik kami. Mengalir dengan
sangat natural. Sesekali aku menatapnya—dia pun begitu. Tak ada air mata. Gelak
tawa memenuhi sudah suasana sore itu. Di tengah pembicaraan kami, xperia miliknya
berdering. Benar, dia harus segera pergi. Tanpa pikir panjang, dia langsung
merenggut cappuccino dinginku. Ya, cappuccino miliknya telah habis terlebih
dulu. Agak kesal memang. Tapi, tak sedetik pun dia membiarkan kekesalanku.
Cepat-cepat dia ambil air mineral dari dalam ransel di punggungnya. Dia buka
tutupnya dan dia suruh aku meminumnya. Ya, tepatnya dia paksa aku untuk
meminumnya. Karena kaget, ya—aku respon untuk segera meneguk air mineral itu. Dengan
cepat yang teramat sangat, dia taruh botol air mineral di batu itu. Segera sangat dia berdiri dan berlari.
Tentu, aku juga terbawa olehnya. Aku pun mengantarnya ke mobil. Tak ada air
mata. Dengan senyum yang amat damai, dia berlalu dari hadapanku. Benar,
lambaian tanganku tak lupa mengiringi. Berjalan empat atau lima meter, dia teriakkan
ini, “Sampai jumpa di satu waktu yang tak pasti”. Aku hanya tersenyum dan menurunkan
lambaianku seiring hilangnya mobil itu dari pandanganku.
Aku rasa, cukup sudah
untuk hari ini. Aku kembali mengambil ranselku yang tertinggal. Sayang sangat, air
mineralku tumpah semua. Padahal, aku masih haus. Ini pasti gara-gara dia terburu-buru—sampai-sampai
menyenggol botol air mineralku yang belum tertutup rapat. Ah, sedikit kesal memang.
Namun, saat botol itu
kuangkat—ternyata air itu telah menggenang di batu. Benar, batu antara batuku dan
batunya. Jelas. Amat jelas wajahku di genangan itu. Spontan aku tersenyum—dan persis
sama wajah orang di dalamnya dengan wajahku. Itu artinya, aku sedang bercermin..
Mulai hari itu, aku
tidak bisa meninggalkan kebiasaanku untuk selalu bercermin—walau tidak di genangan
itu. Bercermin pada hati dan pikiran—itu yang kumaksud. Lahirlah “Aku dan Aku”.
Aku di dunia nyata,
dan aku di genangan air. Benar, mencoba berbicara dengan bayanganku sendiri..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar