Waktu = Kesempatan

Prolog..part 2

Kindly Bookmark and Share it:
Memutar semuanya. Tanpa satu pun terlupa. Bersih. Sangat bersih gulungan film itu di dalam memoriku. Gores pun tidak. Aku yakin, dia sama sepertiku. Juga tak gores olehnya. Dia tersimpan jauh ke dalam—agar tidak tersentuh oleh sekecil apa pun kemungkaran. Ya, dialah cinta. Cinta itulah yang memberiku kekuatan untuk bertahan selama ini. Cinta itu yang membuatku tetap tersenyum di atas pahitnya dunia. Begitu banyak sandiwara—yang tentu menggelisahkanku. Tapi, itu bukanlah apa-apa. Karena aku punya cinta—di sini—di hati ini.

Makin nyaman aku merasa. Jauh dari hiruk pikuk dunia—yang tentu memuakkanku. Tempat ini masih sama seperti dulu. Tak berubah sedikit pun bagiku. Ya, sama dengan cintaku. Tak berubah sedikit pun. Di sini, di batu ini kami selalu duduk. Memandang laut lepas sambil menghirup aroma segar—air, pasir, batu. Sesekali kami meneguk cappuccino dingin—di tangan masing-masing. Tak lama, cerita pun bermulai. Selalu begitu. Tak jarang pula, pecahlah sedikit tawa di tengah cerita kami. Ya, percikan air tak henti menusuk kulit kami. Tidak afdhol rasanya jika tak basah—begitu kami berkata.


Jelas sangat diingatanku, lima belas tahun silam itu. Saat itu, kami bebas bermimpi. Tidak pernah memikirkan—apakah pantas atau tidak. Apakah mungkin atau tidak. Yang kami tau, kami harus punya mimpi. Benar, saat itu kamilah pemenang seluruh pertandingan. Kami adalah sang juara. Dan sampai saat ini. Tentu, sampai saat ini masih kamilah pemenang itu.

Allah, alamMu telah mengajarkanku untuk bermimpi. Aku hari ini, tidaklah apa-apa tanpa mimpi lima belas tahun silam itu. Aku rindu. Teramat rindu. Engkau tau duhai Allah, lima belas tahun sudah aku tidak berjumpa dengannya. Lima belas tahun sudah aku hidup tanpa tatapan nyatanya. Engkau telah pautkan hati ini. Allah, jika boleh aku bertanya—kapankah masa itu akan terulang kembali? Rindu sangat aku menatap matanya, menjabat tangannya, meneguk cappuccino bersama. Semuanya ya Allah, aku rindu semuanya.
Sekarang, aku sudah bisa kembali duduk di batu ini. Bahagia sangat bathinku. Kucoba meneguknya sedikit demi sedikit. Cappuccinoku agak berubah duhai Allah. Tidak lengkap rasanya, jika dia tak ada. Dia—yang lima belas tahun silam selalu duduk menemaniku meneguk cappuccino dingin ini. Dimanakah dia sekarang duhai Allah?

Benar, sepasang manusia itu belajar bagaimana untuk bermimpi—di sana. Jelas sangat di depan matanya. Jika ingin bermimpi, tidak boleh setengah-setengah. Bagaimana bisa nelayan itu membawa pulang banyak ikan, jika mereka tidak sungguh dan sabar? Kadang jalanya berisi banyak ikan, kadang sedikit, dan kadang pun tak ada. Ya, ombak itu juga. Pernahkah ombak itu berhenti menghempas?

Damai benar hatiku, bisa kembali duduk di batu ini. Ya, air itu masih menggenang. Sampai sekarang. Jernih. Persis seperti lima belas tahun lalu. Tentu, aku masih bisa melihat wajahku di dalamnya. Kucoba tersenyum—dan sangat jelas, ada senyumku juga di genangan itu. Sungguh, campur aduk yang teramat sangat hatiku saat ini. Susah benar, untuk berkata-kata. Tak kering sedikit pun. Duhai Allah, sama persis dengan hatiku—tak kering sedikit pun. Sungguh hebat kuasaMu. Lima belas tahun sudah aku tak duduk di sini, tapi—air itu tetap menggenang. Ya, batu itu ada di antara batuku dan batunya. Batu—yang sering kami duduki.

Lagi-lagi memori lima belas tahun silam itu, tayang kembali di alam pikirku. Lebih jelas dibanding bioskop. Waktu itu, aku dan dia duduk di batu kami masing-masing. Tentu, cappuccino dingin menemani pembicaraan asyik kami. Mengalir dengan sangat natural. Sesekali aku menatapnya—dia pun begitu. Tak ada air mata. Gelak tawa memenuhi sudah suasana sore itu. Di tengah pembicaraan kami, xperia miliknya berdering. Benar, dia harus segera pergi. Tanpa pikir panjang, dia langsung merenggut cappuccino dinginku. Ya, cappuccino miliknya telah habis terlebih dulu. Agak kesal memang. Tapi, tak sedetik pun dia membiarkan kekesalanku. Cepat-cepat dia ambil air mineral dari dalam ransel di punggungnya. Dia buka tutupnya dan dia suruh aku meminumnya. Ya, tepatnya dia paksa aku untuk meminumnya. Karena kaget, ya—aku respon untuk segera meneguk air mineral itu. Dengan cepat yang teramat sangat, dia taruh botol air mineral di batu  itu. Segera sangat dia berdiri dan berlari. Tentu, aku juga terbawa olehnya. Aku pun mengantarnya ke mobil. Tak ada air mata. Dengan senyum yang amat damai, dia berlalu dari hadapanku. Benar, lambaian tanganku tak lupa mengiringi. Berjalan empat atau lima meter, dia teriakkan ini, “Sampai jumpa di satu waktu yang tak pasti”. Aku hanya tersenyum dan menurunkan lambaianku seiring hilangnya mobil itu dari pandanganku.
Aku rasa, cukup sudah untuk hari ini. Aku kembali mengambil ranselku yang tertinggal. Sayang sangat, air mineralku tumpah semua. Padahal, aku masih haus. Ini pasti gara-gara dia terburu-buru—sampai-sampai menyenggol botol air mineralku yang belum tertutup rapat. Ah, sedikit kesal memang.
Namun, saat botol itu kuangkat—ternyata air itu telah menggenang di batu. Benar, batu antara batuku dan batunya. Jelas. Amat jelas wajahku di genangan itu. Spontan aku tersenyum—dan persis sama wajah orang di dalamnya dengan wajahku. Itu artinya, aku sedang bercermin..

Mulai hari itu, aku tidak bisa meninggalkan kebiasaanku untuk selalu bercermin—walau tidak di genangan itu. Bercermin pada hati dan pikiran—itu yang kumaksud. Lahirlah “Aku dan Aku”.
Aku di dunia nyata, dan aku di genangan air. Benar, mencoba berbicara dengan bayanganku sendiri..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar