Waktu = Kesempatan

Sang Penyimak Kisah..

Kindly Bookmark and Share it:


Aku ada karena aku dicipta. Aku diberi masa untuk selalu hadir menemani keramaian maupun kesepian. Selesai di belahan bumi ini, aku diperintahkan untuk berpindah ke belahan bumi lain. Aku tetap ada, walau kadang bersama titik-titik air. Aku semakin cantik saat warna jingga mendominasi, semakin gagah saat burung-burung berbaris rapi membentuk formasi. Aku juga bisa berkilau jika mendapat bias sang mentari. Terlebih lagi saat mentari memantulkan silau kilaunya ke hamparan air yang luas itu—entah dimana tepi dan ujungnya. Akulah senja.

Kabarnya, banyak sangat yang menantikan kedatanganku. Seperti artis saja—dinanti-nanti kehadirannya. Ada yang berkata bahwa aku sangat cocok dijadikan teman untuk melepas lelah. Istilah kerennya refreshing. Saat mengunjungiku, banyak lensa penangkap gambar yang beredar di sekelilingku—sudah makin banyak saja ragamnya, kulihat. Terbukti, teknologi semakin canggih. Tapi, ada juga yang cuma duduk-duduk sambil bercerita. Tidak hanya itu—yang duduk sendiri pun ada. Wah wah, ternyata keluarga besar juga mengunjungiku. Ah, aku sudah merasa lebih hebat dari artis terkenal.
Padahal, aku tidak membawa apa-apa. Aku hanya menunaikan perintah Rajaku—datang dan berpindah—itu saja. Serius! tak satu pun yang kubawa. Bukankah kawan-kawanku itu yang bersedia datang bersamaan denganku? Itu saja. Sepertinya aku harus berterima kasih kepada mereka—titik-titik air, mentari, burung-burung, hamparan air nan luas, tentu juga si jingga kawan baikku. Ups, ralat—semuanya kawan baikku. Berkat mereka ada, aku jadi sangat dinanti dan mungkin bisa saja dirindukan.

***

            “Berangkat pukul berapa?”
            “............”, diam.
            “Sudah packing?”
            “............”, masih diam.
            “Diantar atau sendiri?”
            “............”, lagi-lagi tetap diam.

***

            Aku suka jika sudah diperintahkan untuk bertugas di sini. Ramai sangat yang menyambut kedatanganku. Ada manusia, kendaraan, aroma makanan yang mengudara, minuman berasap hingga berembun, biduk-biduk itu juga menambah kecantikanku. Kawan-kawanku para nelayan sedang melepas tali ikatannya—ya, mereka mulai membawa biduk itu ke tengah lautan.
            Ombak sore ini sangat cantik. Kuperhatikan, kira-kira sampai menggulung hingga lima gulungan. Buihnya putih seperti susu. Mereka saling berkejaran, walau takkan mungkin terkejar. Gulungan pertama tetap akan sampai lebih dulu di bibir pantai—walau sekeras apa pun gulungan kedua berusaha mengejar—karena begitulah hakikat mereka, para gulungan ombak. Indahnya lagi, saat ombak yang surut bertemu dengan ombak yang datang. Duhai, indah sangat pertemuan itu—air laut menaik beberapa sentimeter karenanya. Cantik.
            Anak para manusia itu juga turun ke pasirnya. Ada yang saling melempar pasir, yang lari karena dikejar ombak, mengukir di pasir, juga ada yang bermain agak ke tengah laut. Ya, apa pun lah itu—itu hak mereka untuk menikmati kedatanganku hari ini. Aku senang menyaksikannya.
           
***

            “Ada buku baru?”, sudah mulai bicara. 
            “Ini.”, sambil menyodorkan buku yang covernya didominasi oleh warna biru.
            “..........”, menerima buku dengan ukuran 14×21 sentimeter itu sambil tersenyum.
            “Bacalah, nice story. Aku rasa kamu suka.”
            “..........”
            Tatapan mereka beradu dalam diam. Beberapa detik kemudian pecahlah sedikit tawa—ya, percikan air sampai ke wajah mereka. Tampak sangat, mereka begitu menikmati suasana ini. Satu di antaranya membolak-balik halaman demi halaman buku—yang lain meneguk minuman yang botolnya terlihat berembun.
            “Tuliskan namamu di buku itu.”
            “.....??” wajahnya bertanya.
            “Iya, tulis saja. Itu milikmu.”
            “............”
            Diamnya tetap mendominasi. Tidak peduli, masih saja membolak-balik buku bersampul biru itu. Yang lain juga begitu. Terlihat, setengah botol minumannya sudah kosong. Mereka memang keras kepala.

*bersambung..

4 komentar:

  1. *menunggu lanjutan ceritanya.. ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kisah itu akan tetap berlanjut (insyaAllah)..
      jadilah "sang penyimak kisah" yang baik..
      ;)..

      Hapus
    2. diri ini diberi dua telinga agar lebih banyak "mendengar", dua mata agar lebih banyak "melihat".., agar bisa menjadi "penyimak" yang baik.... ;)

      Hapus
    3. ;)..
      that's right *setujusetuju

      Hapus