Waktu = Kesempatan

Ini Bukan Apa-apa..



Ini bukan nasihat, bukan pesan, bukan amanat, dan juga bukan permintaan..
Ini hanyalah ungkapan hati..

Untukmu yang akan meninggalkan..

Aku tahu kamu cukup ragu. Aku tahu kamu takut akan canggung. Aku juga tahu kamu berusaha menguatkan hati. Namun, kamu ingatlah duhai yang akan meninggalkan, semua ini karena cinta. Langkah baru yang akan ditempuh ini adalah lanjutan dari perjalanan cintamu hari ini. Ya, walau sebelum melanjutkan perjalanan indah ini, kamu harus meninggalkan. Ragu? Takut? Merasa tak sanggup? Ah, itu biasa. Namanya juga perjalanan. Rasulullah saja mesti melakukan hijrah—untuk bisa mempersaudarkan Anshar dan Muhajirin. Bukankah persaudaraan itu indah? Ya, hijrah lah mulanya.

Untukmu yang akan meninggalkan..

Move On Itu Perlu..



Kawanku, semoga dirimu selalu berada dalam limpahan cinta dan kasihNya..

Susah sangat bagiku menelannya. Tenang, bukan menelan air mata yang kumaksud. Itu sudah kulakukan—lama sebelum ini. Tak bisa bagiku untuk makan seenak dulu, meneguk nasi senikmat dulu. Kering sudah rasa-rasaku. Ah, lagi-lagi ceritaku tak seru. Haha..mohon kesabaranmu, kawan.

Syukurnya, nasi di tepi piring itu dapat kuhabiskan meski dalam waktu lumayan lama. Aku tetap usahakan menelannya dengan penuh syukur dan cinta. Mana mau diriku jadi abdi yang kufur lagi? Sudah kapok.

Lucunya, mataku mengantuk setelah itu. Kurebahkan sejenak tubuhku di kasur itu. Tidak ada niat untuk tidur—tapi mataku terasa berat. Ah, apalagi ini? Bukankah sebentar lagi isya? Apa-apaan mataku ini? Sudahlah, lebih baik kupejamkan mata ini sejenak. Belum sempat merealisasikan niatku itu, adzan isya sampai ke telingaku—semoga juga ke hatiku—kuharap. Ya, bukan waktunya tidur. Lebih baik aku berkumur-kumur dan membasuh mukaku. Bukankah itu panggilan Allah? Mana berani aku mengacuhkanNya.

Ah, dunia..




Sulit sungguh mulutku untuk berucap. Lagi-lagi aku tertegun. Tidak satu kali dua kali. Berkali-kali sudah Dia membuatku tertegun. Subhanallah..tahukah kamu, kawan? Itu tepat menohok dadaku. Entah apa rasanya, aku tak bisa ungkapkan. Ya, ungkapkan syukur ini. Bahagia sangat, hidup jauh dari kufur.

Jatuh—terpuruk—bangkit—renovasi hidup..

Itulah perjalananku, kawan. Aku bahagia diizinkan untuk sempat menempuhnya. Setidaknya, sebelum nyawaku diambil, aku sempat—untuk benar-benar mempertanggungjawabkan kesaksianku. Ya, syahadat itu.

Aku kehilangan teman dalam hidup. Dan rasanya amat pedih, kawan. Sudah tak punya orang tua. Ya, saat itu aku begitu merasa jatuh. Serasa kehilangan tempat bersandar—kehilangan tempat bergantung. Entahlah, apa masih bisa aku menempuh hidup ini?—begitu aku memikir. Rumahku sepi. Kursi tempat orang tuaku sering duduk, kosong sudah. Kemana pun pandangan ini kulayangkan, hanya benda mati yang kulihat. Ya, hari-hariku sepi. Sunyi sangat aku merasa.

Untuk Presdir yang Kuhormati..

Singkat, memang—semua ini.

Berawal disaat itu. Seseorang memberi nomor handphone mu padaku. Saat itu biasa saja. Tak ada yang istimewa—begitu aku merasa. Ya, dirimu tahu presdir—aku bukanlah orang yang penuh dengan kelembutan. Namun, aku hanya pandai berterus terang. Ya, walau terkadang keberterusteranganku itu, belum pada tempatnya. Maklum, aku masih belajar.

Hari itu, aku takut untuk menemuimu. Walau sebenarnya, mungkin kamu sedang menunggu. Ya, kamu tahu—saat itu aku benar-benar sedang terpuruk. Takut—kalau-kalau akan membuat kesalahan jika aku datang. Maka aku putuskan untuk tidak datang dan juga tidak memberi kabar.

Ada yang Tahu Kapan Aku Mati?

Sampai kapan harus begini?
Mungkin sampai mati

Entah kapan napas ini akan berhenti berhembus
Ada yang tahu?

Bukan aku yang meminta ini
Bukan aku yang inginkan ini
Tapi, memang ini yang terjadi
Ada yang tahu kapan aku mati?

Tanggung semua ini sampai mati
Tapi, tak usah minta mati
Tak ada guna

Epilog..

Lima belas tahun sudah aku berjalan. Berjalan jauh. Ya, jauh dari rasa sedih, kecewa, menyesal—seluruh rasa yang kurasa akan merapuhkan jiwaku. Sejak lima belas tahun silam itu, aku tak suka air mata. Bukan karena aku membencinya. Tapi, aku bisa lemah karenanya. Banyak yang heran dengan perubahanku. Tapi, aku tak ambil pusing. Jalanku masih panjang—itu pikirku. Dan nyatanya, memang iya—lima belas tahun sudah aku berjalan—bermula di sore itu. Bahagia benar rasanya dengan keputusanku. Aku akui, tidak mudah membuat keputusan seperti itu. Tapi, apalah guna menjadi orang lemah yang selalu mengharap dia kembali dan berjalan bersama lagi? Apalah guna menanti bermandikan air mata duka? Meski saat itu kutahu ini sulit, tapi semuanya sudah menjadi keputusanku. Berbekal harapan untuk bahagia, aku rela menepis semua asa untuk berjalan di sampingnya.

Benar, dia sahabat kecilku. Kami dipertemukan saat ombak menggulung dengan indahnya. Mereka berkejar-kejaran menyambut jabat erat tangan kami. Seketika angin membelai lembut pipi kami yang baru saja bersentuhan. Sejuk benar duhai Allah. Tak disangka, para burung pun terbang merendah menyaksikan sinar mata kami yang beradu. Duhai, lengkap sudah pertemuan sepasang manusia itu. Indah—teramat indah.

Prolog..part 2

Memutar semuanya. Tanpa satu pun terlupa. Bersih. Sangat bersih gulungan film itu di dalam memoriku. Gores pun tidak. Aku yakin, dia sama sepertiku. Juga tak gores olehnya. Dia tersimpan jauh ke dalam—agar tidak tersentuh oleh sekecil apa pun kemungkaran. Ya, dialah cinta. Cinta itulah yang memberiku kekuatan untuk bertahan selama ini. Cinta itu yang membuatku tetap tersenyum di atas pahitnya dunia. Begitu banyak sandiwara—yang tentu menggelisahkanku. Tapi, itu bukanlah apa-apa. Karena aku punya cinta—di sini—di hati ini.

Makin nyaman aku merasa. Jauh dari hiruk pikuk dunia—yang tentu memuakkanku. Tempat ini masih sama seperti dulu. Tak berubah sedikit pun bagiku. Ya, sama dengan cintaku. Tak berubah sedikit pun. Di sini, di batu ini kami selalu duduk. Memandang laut lepas sambil menghirup aroma segar—air, pasir, batu. Sesekali kami meneguk cappuccino dingin—di tangan masing-masing. Tak lama, cerita pun bermulai. Selalu begitu. Tak jarang pula, pecahlah sedikit tawa di tengah cerita kami. Ya, percikan air tak henti menusuk kulit kami. Tidak afdhol rasanya jika tak basah—begitu kami berkata.

Ini Kufur atau Rindu?

Sudah..terima saja
Pedih sangatkah?
Bercakaplah dengan hati sendiri
Tanya..

Biarkan sejenak..

Mencoba menjawab seluruh pertanyaan itu sendiri
Hendak kemana harus kutanyai semua ini?
Kufurkah aku?

Larut malam mata takkan mampu terpejam
Bagaimana bisa?
Hati tak tentram
Kufurkah aku?

Prolog..part 1

Nyaman sekali duduk di sini. Anginnya membelai kulitku lembut. Percikannya menusukku halus. Aromanya menyegarkan kembali napasku. Duhai, indah sungguh tempat ini. Tentram sangat aku merasa.
Tidaklah ada penyesalan di hati dan pikiranku. Bijak sangat dengan melangkahkan kakiku ke tempat ini. Awalnya ragu memang. Tapi, tetap aku coba untuk kuatkan hati. Dan ternyata, sampai juga.
Betapa tidak ragu? Sudah lama yang teramat sangat aku tidak berkunjung ke tempat ini. Tempat—yang menyimpan banyak asa. Di tempat ini kami bertemu. Di tempat ini pula kami berpisah. Di sini kami pertama kali bertatap muka. Ada senyum di wajahnya. Ada sinar di matanya. Jelas. Dan masih akan tetap jelas.
Ya, bertahun-tahun sudah itu berlalu. Tanpa sedikit pun aku melupakan. Benar, tempat ini sudah lama tak ku kunjungi. Tapi, tak sedikit pun terlihat jauh. Amat dekat kurasa. Serasa, selalu ada di depan mataku.

Ah..Lagi-lagi Rindu

Apa kabar Ibu?
Semoga ibu baik-baik saja di sana
Ibu, aku punya cerita untuk ibu. Ibu mau kan, mendengarnya?
Ini cerita tentang petualanganku bu
Sungguh bu, aku merasa jadi petualang terhebat
Aku merasa, akulah petualang paling berani
Petualanganku menyenangkan ibu
Sungguh, teramat menyenangkan
Walau, tak jarang aku tersandung
Bahkan.. terjatuh pun, sudah menjadi sahabat dalam perjalananku

Ibu..aku rindu
Aku rindu dibelai oleh ibu
Aku rindu didekap dalam pelukan ibu
Aku rindu keningku dicium ibu