Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 28)

Kindly Bookmark and Share it:
Hai kawan. Aku punya cerita. Ini tentang seseorang yang selalu jatuh bangun dalam hidup. Haha. Aku rasa semua orang pernah jatuh bangun. Tapi, yang ini beda. Orangnya bodoh. Jatuh di lubang yang sama berkali-kali. Dihadapkan pada masalah yang sama—yang dia selalu tidak bisa untuk menyelesaikannya.

Aku tidak bermaksud untuk menertawakan orang ini. Hanya saja, aku ingin menceritakan tentangnya padamu. Semoga, kamu bisa mengambil pelajaran. Itu saja.

Orang ini tidak jujur. Senyum disaat hatinya menangis. Tertawa disaat bathinnya merintih. Ya, dia suka sekali menampakkan yang tidak sesuai dengan hatinya. Entah apa tujuannya, aku tak tahu. Aku hanya heran dengannya. Berkali-kali dia mencoba untuk menjadi lebih baik. Tapi apa? Apa yang malah dia dapatkan? Tidak pernah tepat keputusannya itu. Aku rasa, karena mungkin—dia tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dia kurang bijak, kurasa.


Orang ini kesendiriannya dipenuhi oleh air mata. Harapannya terlalu besar untuk menjadi makhluk yang berguna. Harapannya terlalu besar untuk membahagiakan orang-orang yang ia kasihi. Ya, aku amat kasihan dengannya. Bagaimana bisa hari-harinya hanya air mata? Tidakkah ada yang bisa membuat dia tersenyum?? Entahlah kawan, aku tak tau.

Ya, orang itu adalah aku. Aku bodoh. Hanya bisa menangisi masalah tanpa bisa mengatasinya. Aku harap, kamu tidak sepertiku.

Biar pun begitu, aku bahagia dengan diriku saat itu. Perlu aku tegaskan. Itu diriku di masa lalu. Itu diriku saat aku belum bersedia mengambil hikmah dalam hidup ini. Dan itu juga diriku saat aku tidak mengagungkan cinta Allah. Ya, aku bersyukur pernah begitu. Nyatanya, hari ini aku merasa lebih baik. Aku menjadi lebih optimis dan penuh dengan semangat.

Mungkin, memang saat itu aku tidak bijak menyikapi masalah dalam hidupku. Tapi, aku akui tidak sepenuhnya diriku bodoh saat itu. Di dalam ketidakbijakan itu, aku rasa perlu diakui bahwa ada sikap bertahan di sana. Ya, aku tetap bertahan melewati kondisi buruk itu. Meski, saat itu aku belum sanggup untuk berbuat apa-apa. Biar pun bodoh, itu patut diakui—kurasa.

Aku juga cukup mengapresiasi diriku saat itu. Maaf, bukan maksudku membanggakan diri. Apalah yang dapat kubanggakan dari diri ini? Diri yang kecil dan bodoh ini? Tetap saja, kasih sayang Allah yang hanya bisa memuliakanku. Yang aku apresiasi dari diriku saat itu adalah—dengan tidak banyak bicara saat aku diliputi masalah. Aku hanya tidak ingin menambah masalah dengan mengatakan—yang pada waktu itu aku tidak tau apakah itu pantas untuk diucapkan atau tidak. Ya, setidaknya keputusanku untuk diam itu dapat meredam energi negatif—yang mungkin dapat tersebar ke sekitarku. Bukan tidak mungkin, aku membuat kesalahan dengan kondisiku saat itu  jika aku banyak bicara. Ya, aku harap itu juga dapat menjadi pelajaran bagimu, kawan.

Aku bersyukur telah bisa melewati masa-masa itu. Sekarang, aku seperti terlahir kembali sebagai jiwa baru yang lebih optimis dan lebih beruntung. Ya, siapa pun kamu—sudah pernah atau belum dihadapkan pada kondisi sepertiku itu, tetaplah yakin bahwa kamu adalah sosok yang hebat. Apa pun kondisimu dan juga kondisiku, Allah tidak pernah meninggalkan. Allah akan selalu ada walau apa pun yang terjadi.

Ini perlu kutegaskan. Tidak ada alasan untuk lari dari masalah. Karena, pemberi masalah adalah Allah. Dan Allah juga telah menyediakan solusi untuk masalah itu. Tinggal di aku atau kamu nya saja. Ingin mencari pertolongan Allah, atau malah mengharapkan pertolongan makhluk—yang juga sudah tentu membutuhkan pertolongan.

Ya, mintalah pada yang Maha Memiliki.
Salam..

1 komentar:

  1. Sesungguhnya ketika kita dihadapkan pada banyak masalah, keresahan hati yang tida berujung, lautan airmata kesedihan, rencana dan keinginna yang belum jadi kenyataan,, ketahuilah bahwa itu semua adalah bentuk kasih sayang Allah pada kita.. bukan apa apa, Allah hanya ingin kita datang mendekatiNya, bersimpuh dalam naungan ridhoNya.. berdo'a memohon yang terbaik menurutNya, senantiasa berhusnuzhon padaNya dan bersyukur atas segala pemberianNya.. beruntunglah ketika Allah masih menguji kita hari ini..

    BalasHapus