Hai kawan. Aku punya cerita. Ini
tentang seseorang yang selalu jatuh bangun dalam hidup. Haha. Aku rasa semua
orang pernah jatuh bangun. Tapi, yang ini beda. Orangnya bodoh. Jatuh di lubang
yang sama berkali-kali. Dihadapkan pada masalah yang sama—yang dia selalu tidak
bisa untuk menyelesaikannya.
Aku tidak bermaksud untuk
menertawakan orang ini. Hanya
saja, aku ingin menceritakan tentangnya padamu. Semoga, kamu bisa mengambil pelajaran.
Itu saja.
Orang ini tidak jujur. Senyum disaat hatinya menangis.
Tertawa disaat bathinnya
merintih. Ya, dia suka sekali menampakkan yang tidak sesuai dengan hatinya.
Entah apa tujuannya, aku tak tahu. Aku hanya heran dengannya. Berkali-kali dia
mencoba untuk menjadi lebih baik. Tapi apa? Apa yang malah dia dapatkan? Tidak
pernah tepat keputusannya itu. Aku rasa, karena mungkin—dia tidak meletakkan
sesuatu pada tempatnya. Dia kurang bijak, kurasa.
Orang ini kesendiriannya dipenuhi
oleh air mata. Harapannya terlalu besar untuk menjadi makhluk yang berguna.
Harapannya terlalu besar untuk membahagiakan orang-orang yang ia kasihi. Ya,
aku amat kasihan dengannya. Bagaimana bisa hari-harinya hanya air mata? Tidakkah ada yang bisa
membuat dia tersenyum?? Entahlah kawan, aku tak tau.
Ya, orang itu adalah aku. Aku
bodoh. Hanya bisa menangisi masalah tanpa bisa mengatasinya. Aku harap, kamu
tidak sepertiku.
Biar pun begitu,
aku bahagia dengan diriku saat itu. Perlu aku tegaskan. Itu diriku di masa
lalu. Itu diriku saat aku belum bersedia mengambil hikmah dalam hidup ini. Dan
itu juga diriku saat aku tidak mengagungkan cinta Allah. Ya, aku bersyukur
pernah begitu. Nyatanya, hari ini aku merasa lebih baik. Aku menjadi lebih
optimis dan penuh dengan semangat.
Mungkin, memang saat
itu aku tidak bijak menyikapi masalah dalam hidupku. Tapi, aku akui tidak
sepenuhnya diriku bodoh saat itu. Di dalam ketidakbijakan itu, aku rasa perlu
diakui bahwa ada sikap bertahan di sana. Ya, aku tetap bertahan melewati
kondisi buruk itu. Meski, saat itu aku belum sanggup untuk berbuat apa-apa.
Biar pun bodoh, itu patut diakui—kurasa.
Aku juga cukup
mengapresiasi diriku saat itu. Maaf, bukan maksudku membanggakan diri. Apalah
yang dapat kubanggakan dari diri ini? Diri yang kecil dan bodoh ini? Tetap
saja, kasih sayang Allah yang hanya bisa memuliakanku. Yang aku apresiasi dari
diriku saat itu adalah—dengan tidak banyak bicara saat aku diliputi masalah.
Aku hanya tidak ingin menambah masalah dengan mengatakan—yang pada waktu itu aku
tidak tau apakah itu pantas untuk diucapkan atau tidak. Ya, setidaknya
keputusanku untuk diam itu dapat meredam energi negatif—yang mungkin dapat
tersebar ke sekitarku. Bukan tidak mungkin, aku membuat kesalahan dengan
kondisiku saat itu jika aku banyak
bicara. Ya, aku harap itu juga dapat menjadi pelajaran bagimu, kawan.
Aku bersyukur telah
bisa melewati masa-masa itu. Sekarang, aku seperti terlahir kembali sebagai
jiwa baru yang lebih optimis dan lebih beruntung. Ya, siapa pun kamu—sudah
pernah atau belum dihadapkan pada kondisi sepertiku itu, tetaplah yakin bahwa
kamu adalah sosok yang hebat. Apa pun kondisimu dan juga kondisiku, Allah tidak
pernah meninggalkan. Allah akan selalu ada walau apa pun yang terjadi.
Ini perlu kutegaskan.
Tidak ada alasan untuk lari dari masalah. Karena, pemberi masalah adalah Allah.
Dan Allah juga telah menyediakan solusi untuk masalah itu. Tinggal di aku atau
kamu nya saja. Ingin mencari pertolongan Allah, atau malah mengharapkan
pertolongan makhluk—yang juga sudah tentu membutuhkan pertolongan.
Ya, mintalah pada
yang Maha Memiliki.
Salam..
Sesungguhnya ketika kita dihadapkan pada banyak masalah, keresahan hati yang tida berujung, lautan airmata kesedihan, rencana dan keinginna yang belum jadi kenyataan,, ketahuilah bahwa itu semua adalah bentuk kasih sayang Allah pada kita.. bukan apa apa, Allah hanya ingin kita datang mendekatiNya, bersimpuh dalam naungan ridhoNya.. berdo'a memohon yang terbaik menurutNya, senantiasa berhusnuzhon padaNya dan bersyukur atas segala pemberianNya.. beruntunglah ketika Allah masih menguji kita hari ini..
BalasHapus