Nyaman sekali duduk
di sini. Anginnya membelai kulitku lembut. Percikannya menusukku halus.
Aromanya menyegarkan kembali napasku. Duhai, indah sungguh tempat ini. Tentram
sangat aku merasa.
Tidaklah ada
penyesalan di hati dan pikiranku. Bijak sangat dengan melangkahkan kakiku ke
tempat ini. Awalnya ragu memang. Tapi, tetap aku coba untuk kuatkan hati. Dan
ternyata, sampai juga.
Betapa tidak ragu?
Sudah lama yang teramat sangat aku tidak berkunjung ke tempat ini. Tempat—yang
menyimpan banyak asa. Di tempat ini kami bertemu. Di tempat ini pula kami
berpisah. Di sini kami pertama kali bertatap muka. Ada senyum di wajahnya. Ada sinar
di matanya. Jelas. Dan masih akan tetap jelas.
Ya, bertahun-tahun
sudah itu berlalu. Tanpa sedikit pun aku melupakan. Benar, tempat ini sudah
lama tak ku kunjungi. Tapi, tak sedikit pun terlihat jauh. Amat dekat kurasa.
Serasa, selalu ada di depan mataku.
Bertahun-tahun
sudah kusimpan seluruh asa dan harapan itu. Berharap, suatu hari nanti akan
terulang kembali masa itu. Masa—aku yakin tergapainya seluruh asa. Masa—aku
rela atas semua kehendakNya. Masa—aku benar-benar yakin cinta itu di hati.
Sungguh, elok
sangat alamMu ini. Damai selalu hatiku menyaksikan burung-burung itu
melayang—beramai-ramai ke sana kemari. Pulau-pulau yang tampak kecil di mataku,
menggetarkan hati ini. Biduk para nelayan itu, mengingatkanku akan pengharapan
yang tak pernah surut. Ya, mungkin ikan-ikan itu sedang menari-nari sekarang di
bawah sana. OmbakMu berkejar-kejaran duhai Allah. Hempasannya meninggalkan buih
yang perlahan menghilang. PasirMu tiap sebentar basah, tiap sebentar kering.
Begitu selalu.
Sama sangat dengan
diriku. Tak sedikit pun berubah. Tubuh boleh sudah semakin besar. Tinggi boleh
semakin bertambah. Tapi, tak bisa dipungkiri—cintaku masih sama seperti dulu.
Tak sedikit pun surut—sama seperti harapan para nelayan itu. Siapa saja boleh mengira
tentang diriku. Lama memang, aku tak muncul di sini. Sudah pantas saja banyak yang
mengira tentang diriku. Mengira, apakah aku masih hidup atau tidak. Syukurnya, aku
masih hidup. Inilah saatnya aku mencium aroma yang kusuka dan tentu sangat kurindu—air,
pasir, batu. Biarkan sejenak..
:).... rangkaian kata yang indah.
BalasHapusair, pasir, batu..... hmmmm sepertinya k' juga menyukainya... bahkan merindukannya....