Pernah aku begitu terobsesi menjadi
manusia yang sempurna. Sempurna kemampuannya, sempurna gaya hidupnya, sempurna
segala sisi kehidupannya. Jika boleh jujur, aku mengalami kesulitan dalam
menjalaninya. Gerak langkahku menjadi tidak natural—dibuat-buat rasanya. Tidak
hanya itu. Aku juga terbebani dalam menjalaninya. Maka, aku putuskan untuk
mengevaluasi dan memperbaiki tujuanku.
Dan memang benar. Itu saja, sudah
kuawali dari sebuah obsesi. Tentu, tidak tepat kurasa. Karena, hidup ini bukan
obsesi. Hidup adalah cinta yang berisi penuh dengan pengorbanan dan pengabdian.
Syukurlah, aku sadar itu.
Aku temukan satu kata,”Sederhana”. Aku
coba untuk hidup dengan memegang erat kata itu. Nyatanya, aku nyaman dan merasa
lebih baik. Ya, apa pun itu—aku beri tanggapan yang sederhana, yang—semoga
sesuai dengan porsinya, kuharap. Bahagia—aku ekspresikan dengan sederhana.
Sedih—aku juga beri air mata secukupnya. Meningkatkan kemampuan diri—juga tetap
kujalani dalam kesederhanaan.
Kamu tau kawan, kenapa aku begitu
mencintai kesederhanaan? Baik. Akan kujelaskan.
Aku menemukan cinta dalam kesederhanaan.
Aku menemukan kekuatan dalam kesederhaan. Saat aku putuskan untuk hidup dalam
kesederhanaan, aku mulai merasa menjadi seseorang yang sudah mencoba untuk
mengecilkan kufurnya dan membesarkan syukurnya. Dan tentu, aku akan tetap
berusaha untuk itu.
Aku merasa bahagia hidup dalam
kesederhanaan. Karena, Allah telah beri aku pelajaran—lewat kebersediaanku menjadi
orang yang hidup sederhana.
Sederhana itu bukan miskin. Sederhana
itu, memiliki—dan tetap rendah hati. Aku tidak bicara soal harta. Karena, itu
adalah kapasitas masing-masing orang. Terserah—mereka ingin punya banyak uang
atau apa. Aku tak peduli. Sederhana yang kumaksud adalah—meminta, memberi, dan
menikmati dengan cara yang sederhana. Mintalah apa pun itu kepada Allah, dengan
cara yang sederhana. Berilah senyuman pada saudara kita dengan cara yang
sederhana. Dan nikmatilah seluruh karunia Allah dengan cara yang sederhana.
Karena, di dalam kesederhanaan—ada kesyukuran.
Sudahlah kawan. Kumohon, lunakkanlah
hatimu. Sudah—ikhlaskan saja bahwa Muhammad SAW-lah manusia yang paling
sempurna di seluruh jagat raya ini. Aku yakin kamu bisa. Aku hanya ingin tetap
bersama-sama denganmu, hidup dalam kesederhanaan. Karena kamu adalah kawanku.
Cobalah kawan, dan kamu akan mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar