Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 21)

Kindly Bookmark and Share it:
Pernah aku begitu terobsesi menjadi manusia yang sempurna. Sempurna kemampuannya, sempurna gaya hidupnya, sempurna segala sisi kehidupannya. Jika boleh jujur, aku mengalami kesulitan dalam menjalaninya. Gerak langkahku menjadi tidak natural—dibuat-buat rasanya. Tidak hanya itu. Aku juga terbebani dalam menjalaninya. Maka, aku putuskan untuk mengevaluasi dan memperbaiki tujuanku.

Dan memang benar. Itu saja, sudah kuawali dari sebuah obsesi. Tentu, tidak tepat kurasa. Karena, hidup ini bukan obsesi. Hidup adalah cinta yang berisi penuh dengan pengorbanan dan pengabdian. Syukurlah, aku sadar itu.


Aku temukan satu kata,”Sederhana”. Aku coba untuk hidup dengan memegang erat kata itu. Nyatanya, aku nyaman dan merasa lebih baik. Ya, apa pun itu—aku beri tanggapan yang sederhana, yang—semoga sesuai dengan porsinya, kuharap. Bahagia—aku ekspresikan dengan sederhana. Sedih—aku juga beri air mata secukupnya. Meningkatkan kemampuan diri—juga tetap kujalani dalam kesederhanaan.

Kamu tau kawan, kenapa aku begitu mencintai kesederhanaan? Baik. Akan kujelaskan.

Aku menemukan cinta dalam kesederhanaan. Aku menemukan kekuatan dalam kesederhaan. Saat aku putuskan untuk hidup dalam kesederhanaan, aku mulai merasa menjadi seseorang yang sudah mencoba untuk mengecilkan kufurnya dan membesarkan syukurnya. Dan tentu, aku akan tetap berusaha untuk itu.
Aku merasa bahagia hidup dalam kesederhanaan. Karena, Allah telah beri aku pelajaran—lewat kebersediaanku menjadi orang yang hidup sederhana.

Sederhana itu bukan miskin. Sederhana itu, memiliki—dan tetap rendah hati. Aku tidak bicara soal harta. Karena, itu adalah kapasitas masing-masing orang. Terserah—mereka ingin punya banyak uang atau apa. Aku tak peduli. Sederhana yang kumaksud adalah—meminta, memberi, dan menikmati dengan cara yang sederhana. Mintalah apa pun itu kepada Allah, dengan cara yang sederhana. Berilah senyuman pada saudara kita dengan cara yang sederhana. Dan nikmatilah seluruh karunia Allah dengan cara yang sederhana. Karena, di dalam kesederhanaan—ada kesyukuran.

Sudahlah kawan. Kumohon, lunakkanlah hatimu. Sudah—ikhlaskan saja bahwa Muhammad SAW-lah manusia yang paling sempurna di seluruh jagat raya ini. Aku yakin kamu bisa. Aku hanya ingin tetap bersama-sama denganmu, hidup dalam kesederhanaan. Karena kamu adalah kawanku.

Cobalah kawan, dan kamu akan mengerti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar