Waktu = Kesempatan

Biarkan aku mencintaimu..



Allah, mohon perkenankanlah hamba menulis ini..
Sekali ini saja..

Bismillah..
Duhai Baginda, saat ini kuberanikan diri untuk menulis ini..

Lama sangat, aku hendak menulis ini. Lama sangat nyaliku bisa muncul untuk menulis ini. Lama sangat aku hendak menumpahkan seluruh kegundahanku selama ini padamu.

Hikmah, tak selamanya bersembunyi..




Siapa yang tidak pernah jatuh dalam hidup? Siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan? Siapa yang tidak pernah menganiaya diri sendiri? Siapa yang tidak pernah dikungkung hawa nafsu?

Kawan, malam ini terasa dingin dibanding malam-malam sebelumnya. Tahukah kamu? Perjalananku sepi, hari-hariku mendung, tak ada matahari yang menemani. Tahukah kamu? Pagiku, kumulai dengan semangat seadanya. Andai saja kamu ada di sini, maka tentu aku akan lebih bersemangat—setidaknya karena melihat senyum di wajahmu yang selalu kurindukan itu.

Kubiarkan dia hancur..




Kenalkan, namaku Reza. Aku seorang mahasiwa. Hari ini aku baru saja melewati ujian akhir semester. Aku datang sebelum waktunya. Aku juga sudah membaca materi ujian dua jam sebelum ujian berlangsung. Aku sering bolos. Aku tidak memperhatikan dosen. Aku tidak mencatat inti perkuliahan. Aku juga tidak antusias dalam diskusi.

Bukan apa-apa. Memang semua itu tidak menarik bagiku. Datang, duduk manis, dengarkan dosen, catat. Ah, itu ke itu saja yang harus kulakukan—selama bertahun-tahun. Ditambah lagi beban tugas yang bukan main banyaknya. Entah untuk apa para mahasiswa diberi tugas. Kabarnya, mencetak sarjana. Memangnya sarjana itu apa?

Ah, aku hanyalah seorang Reza. Tidak dipandang di antara mahasiswa lainnya. Bagaimana bisa dipandang? Aku saja tidak pantas untuk “dipandang” versi mereka. Ah, tujuan hidupku juga bukan untuk pandangan—apalagi pandangan manusia. Manusia itu suka yang enak-enak saja. Ya, kira-kira seperti aku—yang sampai hari ini masih bingung mengapa harus suka dengan dunia perkuliahan. Entahlah..