Aku tidak heran. Kalau
cerah begini, memang ramai yang datang ke sini. Mereka mulai berdatangan
selepas ashar, kira-kira saat anak-anak pergi mengaji. Aduh aduh, ada sesuatu
yang hampir lupa kuberitahu. Rata-rata, orang di sini ingin mempererat tali
persaudaraan. Lihat saja. Mereka saling mengambil gambar satu sama lain, saling
berangkulan, dan ada juga yang berbagi makanan. Mereka tidak ragu-ragu untuk
turun ke pasir (yang sudah jelas basah dan mengotori). Dan apa yang mereka
lakukan? Yup, mereka terlihat sedang mengambil posisi untuk ditangkap lensa.
Kalau aku tidak salah, namanya berpose. Hmmm..menyenangkan dan amat enak
dipandang.
Beralih sedikit,
kulihat ada yang membawa anak bayi. Mhmh..lucu-lucu. Memang wajah-wajah surga
saja yang datang sore ini. Putih bersih sangat wajah para bayi itu. Baunya pun
semerbak mewangi. Lembut yang teramat sangat aroma tubuhnya. Serasa ingin
selalu mendekapnya. Masya Allah..memang
benar-benar semuanya atas kuasa Allah.
Tidak semua bayi yang
datang akan tersenyum dan tertawa. Ada juga kulihat bayi yang merengek,
menangis, dan sebagainya. Apa pun lah itu, aku senang melihat bayi-bayi itu
tetap didekap oleh orang tuanya. Terlebih lagi, jika sudah bisa berjalan tiga
atau empat langkah. Makin bahagia saja aku memandangnya.
***
“Kamu
takut?”, botolnya sudah kosong.
“...........”,
masih asyik membolak-balik buku.
“Itu
biasa. Namanya juga pergi meninggalkan, tentu akan menemui kondisi yang
berbeda.”
“Iya,
terlalu banyak yang harus ditinggalkan. Rasanya tidak siap.”, akhirnya bicara
juga.
“Wajarlah
itu. Siapa yang tidak akan gamang? Tapi yakinlah, ini keputusan terbaik dari
Allah untukmu.”
“Ya,
aku tahu—inilah yang terbaik.”
Satu
di antaranya terlihat berdiri, kemudian berjalan dari satu batu ke batu
lainnya. Yang lain tetap asyik membolak-balik buku bersampul biru itu. Asha dan
Rifka memang tidak banyak bicara. Kalau pun bersua, akan bercerita secukupnya.
Sore ini mereka dipertemukan oleh Allah. Tentu, mereka menuju tepi laut—tempat
yang sangat dicinta. Dari kecil mereka sudah berkawan—hingga usia mereka
dewasa.
Asha
mencoba turun ke batu-batu yang tiap sebentar dihempas ombak. Ia hendak
menghirup aroma laut dengan lebih dekat. Seketika, Asha meraba saku bajunya.
Terlihat ia mengeluarkan ponsel dan mengetik sms.
“Aku
tahu kamu sebentar lagi pergi. Tidak rindukah kamu bermain agak ke tengah
laut?”
Dari
kejauhan, terlihat Rifka terkaget (getaran ponsel itu mengejutkannya). Ia baca
dan kemudian tersenyum. Asha melambaikan tangannya dari kejauhan. Namun, Rifka
tetap saja duduk dan membaca.
***
Apa-apaan
ini? Benda-benda yang tinggi dan panjang itu menghalangi pandanganku.
Jelas-jelas aku sedang menikmati wajah-wajah lucu para bayi itu. Aduh aduh,
menyebalkan juga ternyata. Eiitttss..tunggu dulu. Ada yang turun dari benda
itu—orang-orangnya tinggi besar. Kalau aku tidak salah, mereka itu para
wisatawan. Oohhh..mau main ke laut tho?
Okelah, silakan turis-turis—nikmatilah.
*bersambung lagi..
*bersambung lagi..
;).... g bersambung???? hhe
BalasHapusgak baca kalo tulisan di akhir *bersambung lagi* kak???
Hapus(hehe..itu barusan ditambah..#lupa)..
;)