Waktu = Kesempatan

Sang Penyimak Kisah..#2

Kindly Bookmark and Share it:


 Aku tidak heran. Kalau cerah begini, memang ramai yang datang ke sini. Mereka mulai berdatangan selepas ashar, kira-kira saat anak-anak pergi mengaji. Aduh aduh, ada sesuatu yang hampir lupa kuberitahu. Rata-rata, orang di sini ingin mempererat tali persaudaraan. Lihat saja. Mereka saling mengambil gambar satu sama lain, saling berangkulan, dan ada juga yang berbagi makanan. Mereka tidak ragu-ragu untuk turun ke pasir (yang sudah jelas basah dan mengotori). Dan apa yang mereka lakukan? Yup, mereka terlihat sedang mengambil posisi untuk ditangkap lensa. Kalau aku tidak salah, namanya berpose. Hmmm..menyenangkan dan amat enak dipandang.

Beralih sedikit, kulihat ada yang membawa anak bayi. Mhmh..lucu-lucu. Memang wajah-wajah surga saja yang datang sore ini. Putih bersih sangat wajah para bayi itu. Baunya pun semerbak mewangi. Lembut yang teramat sangat aroma tubuhnya. Serasa ingin selalu mendekapnya. Masya Allah..memang benar-benar semuanya atas kuasa Allah.
Tidak semua bayi yang datang akan tersenyum dan tertawa. Ada juga kulihat bayi yang merengek, menangis, dan sebagainya. Apa pun lah itu, aku senang melihat bayi-bayi itu tetap didekap oleh orang tuanya. Terlebih lagi, jika sudah bisa berjalan tiga atau empat langkah. Makin bahagia saja aku memandangnya.

***

            “Kamu takut?”, botolnya sudah kosong.
            “...........”, masih asyik membolak-balik buku.
            “Itu biasa. Namanya juga pergi meninggalkan, tentu akan menemui kondisi yang berbeda.”
            “Iya, terlalu banyak yang harus ditinggalkan. Rasanya tidak siap.”, akhirnya bicara juga.
            “Wajarlah itu. Siapa yang tidak akan gamang? Tapi yakinlah, ini keputusan terbaik dari Allah untukmu.”
            “Ya, aku tahu—inilah yang terbaik.”
            Satu di antaranya terlihat berdiri, kemudian berjalan dari satu batu ke batu lainnya. Yang lain tetap asyik membolak-balik buku bersampul biru itu. Asha dan Rifka memang tidak banyak bicara. Kalau pun bersua, akan bercerita secukupnya. Sore ini mereka dipertemukan oleh Allah. Tentu, mereka menuju tepi laut—tempat yang sangat dicinta. Dari kecil mereka sudah berkawan—hingga usia mereka dewasa.
            Asha mencoba turun ke batu-batu yang tiap sebentar dihempas ombak. Ia hendak menghirup aroma laut dengan lebih dekat. Seketika, Asha meraba saku bajunya. Terlihat ia mengeluarkan ponsel dan mengetik sms.
            “Aku tahu kamu sebentar lagi pergi. Tidak rindukah kamu bermain agak ke tengah laut?”
            Dari kejauhan, terlihat Rifka terkaget (getaran ponsel itu mengejutkannya). Ia baca dan kemudian tersenyum. Asha melambaikan tangannya dari kejauhan. Namun, Rifka tetap saja duduk dan membaca.

***

            Apa-apaan ini? Benda-benda yang tinggi dan panjang itu menghalangi pandanganku. Jelas-jelas aku sedang menikmati wajah-wajah lucu para bayi itu. Aduh aduh, menyebalkan juga ternyata. Eiitttss..tunggu dulu. Ada yang turun dari benda itu—orang-orangnya tinggi besar. Kalau aku tidak salah, mereka itu para wisatawan. Oohhh..mau main ke laut tho? Okelah, silakan turis-turis—nikmatilah.

*bersambung lagi..

2 komentar:

  1. ;).... g bersambung???? hhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak baca kalo tulisan di akhir *bersambung lagi* kak???
      (hehe..itu barusan ditambah..#lupa)..
      ;)

      Hapus