Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 32)

Kindly Bookmark and Share it:
Sedikit pusing malam ini. Ah, sudah biasa..
Apa kabarmu kawan?

Aku ada cerita malam ini. Tentang siapa ya?? Hmm..anggap saja tokoh ini adalah aku atau kamu. Hha..daripada kita anggap orang lain. Nanti malah jadi membicarakan orang. Hha..ada-ada saja.

Sebelumnya aku minta izin, untuk memanggil tokoh ini dengan sebutan “teman”. Itu hanya untuk memudahkanku dalam bercerita. Terserah kamu ingin membayangkan siapa. Dirimu sendiri juga boleh. Sepakat?

Baik, aku mulai. Ada seorang teman yang sudah hidup kira-kira 20 tahun. Beliau sedang duduk di bangku kuliah. Yup, beliau seorang mahasiswa. Beliau cerdas dan sangat optimis. Kehadirannya dapat membuat sekitarnya menjadi semakin cemerlang. Ya, beliau adalah sosok yang hebat.


Sebenarnya aku tidak begitu tertarik untuk menceritakan itu padamu. Tapi, sebagai pendahuluan, tak apa kurasa. Hha..lucu rasanya jika langsung pada inti. Tentu, aku ingin cerita ini lebih indah dan menarik. He..harap maklum, kawan.

Aku tertarik pada teman kita yang satu ini. Ada beberapa istilahnya yang sempat membuat keningku kerut dan cukup bertanya-tanya di dalam hati. Kira-kira ini istilah—kata mungkin lebih tepatnya—yang sering beliau gunakan—di setiap harinya. Tidak bisa aku menghitung berapa kali beliau mengucapkan itu dalam sehari. Maaf, aku tak berminat untuk itu. Karena kurasa, lebih baik aku melakukan hal lain yang lebih berguna dan bermakna. Hha..bukan begitu, kawan??

Baik aku kembali ke topik. Kantor, saham, presdir, asisten, wilayah. Ya, kira-kira itu kata-kata yang dapat kutangkap. Mungkin kamu bertanya-tanya, mungkin juga tidak. He..terserah. Yang penting, kamu harus ikuti ceritaku. Memaksa.

Dari kata-kata yang baru saja aku tulis, sepertinya itu cukup cocok jika diduga bahwa teman kita ini memiliki perusahaan. Entah benar-benar memiliki perusahaan, entah berharap memiliki perusahaan. Nanti kamu juga akan tau.

Setiap hari, teman ini selalu mengurus kantor bersama presdirnya. Teman bukanlah pemilik perusahaan, dia sebagai asisten presdir. Saham-saham yang tersebar di berbagai wilayah, dapat diurusnya dengan lincah dan cerdas. Tidak salah rasanya, presdir mengangkat dia menjadi asisten—yang tentu ditempatkan di kantor pusat.

Apa kamu bingung dengan pembicaraanku, kawan??

Yup, aku lanjutkan. Karena penasaran, aku berniat untuk berinteraksi dengan si teman. Ingin rasanya aku bertanya tentang perusahaan itu. Bahagianya, aku diberi kesempatan untuk itu.

Beginilah cerita kami.
Ternyata, kebingunganku terhadap teman, terjawab sudah saat kami berinteraksi. Kamu tentu tau kawan, kenapa aku bingung? Ya, mana mungkin seorang mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan S1 nya sudah bisa menjadi asisten di sebuah perusahaan ternama?? Mustahil, pikirku.

Namun, saat aku bertukar pikiran dengannya—kamu tau kawan, apa yang kualami?? Tenang, aku baik-baik saja. Tidak kawan, tentu dia tidak menerkamku. Hha..apalah ini. Tak penting kurasa.

Inilah yang kutemui. Aku berhadapan dengan seorang mahasiswa yang bertubuh kecil, bola matanya coklat, dan senyumnya membuatku juga ikut tersenyum. Ternyata benar—kantor, saham, presdir, asisten, wilayah—hanyalah kata yang memang suka dia ucapkan dalam hari-harinya.
Kantor             = hidupnya
Saham             = ide-ide
Presdir             = penguasa hidup dan mati (Allah)
Asisten            = dirinya (khalifah)
Wilayah           = seluruh belahan di dunia

Jadi, kamu tidak usah bingung jika mendengar ini:
“Iya, kantorku hidup 24 jam.”. Itu artinya, hidupnya tetap berjalan.
“Aku sedang mengurus saham di wilayah A”. Itu artinya dia sedang menyatakan ide-ide dan gagasan-gagasan cemerlangnya.
“Maaf presdir, aku tidak mengurus kantor dengan maksimal”. Itu artinya dia sedang meminta ampun atas kelalaiannya dalam mengurus hidupnya.
“Tentu, itulah guna asisten, menjalankan apa yang diperintahkan oleh presdir”. Itu artinya, adanya dia—untuk menjalankan perintah Allah.
“Sekarang aku sedang di kantor wilayah kampus”. Itu artinya, dia sedang melakuakan aktifitas hidupnya di kampus.

Jadi, kamu tidak usah heran jika suatu hari nanti kamu dipertemukan dengannya. Aku rasa, kamu sudah dapat memetik hikmah dari ceritaku.

Semoga saja, kita tetap optimis dalam menjalani hidup sebagai khalifah di muka bumi. Selamat mengurus kantormu kawan. Aku nanti saham-saham hebatmu.
Salam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar