Salam..
Kemarin hari terakhirku di bulan
Ramadhan. Hehe..bukan hanya aku. Tapi hari terakhir di bulan Ramadhan bagi
seluruh muslim sedunia..
Apa sudah tertebak ceritaku hari ini,
kawan? Hehe..benar. Aku tentu bercerita sesuai apa yang kurasa dan momen apa
yang sedang kualami. Yup, tepat. Lebaran. Dari semalam, kumandang takbir,
tahmid, dan tahlil sudah memenuhi langit komplek perumahanku. He, iya..seluruh
langit dunia. Eh, sedikit iseng. Aku pernah mempertanyakan, “Kenapa irama
takbiran, itu ke itu saja. Tidak adakah irama lain?”. Silakan yang bersedia
menjawab. Jika tidak, juga tak apa. Hehe..
Sampai pagi. Kumandang takbir tetap
memenuhi langit dan bumi. Duhai, luar biasa sekali kondisi pagi ini (andai,
tiap hari begini..*berharap). Tentu, umat muslim di komplek perumahanku sudah
berbondong-bondong menuju mushala—tepatnya lapangan mushala (hehe..karena tidak
muat di dalam mushala. Eh, bukan. Kan lebih baik shalat id itu dilaksanakan di
tanah lapang..hehe). *cukup tidak penting..
Panas? Haha..bukan. Aku lebih suka
menyebutnya dengan “cerah”. Matahari pagi kan sehat? Sungguh membahagiakan
shalat beramai-ramai menyambut hari kemenangan (semoga kita benar-benar menang,
aamiin).
Cukup terharu menyaksikan kekompakan
kaum muslimin hari ini (semoga selalu begini, aamiin). Mmm...kira-kira apa lagi
ya?
Oh iya, kemarin aku agak melanglang
buana. Aku berjalan-jalan di sekitar pasar Batusangkar (ada yang tidak tahu
Batusangkar??). Langsung ke inti saja ya (hehe..maklum, banyak sekali tamu yang
berkunjung ke kantorku hari ini. Sayang, kalau tidak dilayani, hehe..*mulai
error). Aku bertemu dengan seorang Bapak-bapak (kira-kira Kakek lah bagiku),
berusia 78 tahun. Dibanding aku, tentu sangat jauh beda usianya (scara, aku
masih anak muda..hehe). Kamu tentu tahu kawan, aku hanya akan menceritakan apa
yang cukup menarik perhatianku. Siapa bilang tidak ada yang menarik dari
seorang Kakek berusia 78 tahun? Bagiku, sangat menarik malah.
Begini. Di usianya yang sudah 78 tahun,
Kakek ini (aku lupa menanyakan namanya) masih sangat kreatif dan penuh
semangat. Eh, sebelumnya. Aku cukup letih melanglang buana (karena masih dalam
kondisi puasa. Maklum, mau lebaran—pasar teralalu padat. Cukup memuakkan
bagiku..hehe). Aku mampir ke tempat Kakek itu berkarya. Beliau adalah seorang
seniman bagiku. Ya, hidup yang selalu penuh karya. Pernah melihat jadwal shalat
di masjid atau mushala? Nah, kira-kira itu gambaran pekerjaan (entah kata ini
tepat, entah tidak) beliau. Mengingat nomor rumahku belum ada (eh, ada. Tapi terlalu
kecil), maka dimintalah Kakek kreatif ini membuatkannya.
Aku juga lupa melihat jam saat itu. Tapi, kalau boleh memperkirakan, kira-kira dalam waktu setengah jam beliau dapat menyelesaikan nomor rumahku itu. Rapi, sederhana, dan indah. Siapa sangka Kakek-kakek tidak kreatif?
Nah, ini merupakan contoh nyata bagiku.
78 tahun masih penuh semangat dan terus berkarya. Kamu tahu kawan, dihargai
berapa nomor itu? Hanya 15 ribu rupiah. Bagiku, itu tak sebanding tentunya. Tapi,
sepertinya itu bukanlah semata-mata sebab Kakek itu berkarya. Beliau tetap
bahagia menerima beberapa lembar yang bernominal 15 ribu itu. Aku melihat
sesuatu di matanya. Kepuasan. Bukan puas dengan 15 ribu. Tapi puas, karena
telah mampu untuk tetap berkarya dan dapat berguna bagi orang lain. Dengan penuh
bangga, beliau menyerahkan nomor rumah itu. Seolah-olah beliau mengatakan, “Ini
untukumu, semoga kau bahagia dan banyak manfaat”. Duhai, itu Kakek-kakek kawan.
Bagaimana dengan kita? Cerita anak muda sekarang tidak lepas dari galau, galau,
dan galau. Mana semangatmu generasi muda? Mana karyamu generasi muda? Bukankah hari
ini hari kemenangan? Mana bisa dikatakan menang, jika masih kalah dalam melawan
hawa nafsu?
Cukup direnungkan, dimengerti, dan
diambil pelajaran.
Aku ucapkan selamat kepada pak pos,
sahabat yang mengantarkan paket, rekan-rekanku, dan semua yang pernah dan akan
berkunjung ke rumahku. Sekarang, tidak usah susah-susah lagi. Sudah ada nomor
rumah yang indah karya seorang Kakek yang kreatif dan penuh semangat. Selamat berkunjung..
Salam..



:)... alhamdulillah... jadi gampang nyari rumahnya.. he..
BalasHapusdek ingek dirimu mah kak, makonyo capek-capek dibuek nomornyo..(*haha..perLEBAYan secukupnya.. ;) )-> versi minang..he
Hapus#karena ingat kakak makanya dibikin cepat-cepat nomor rumahnya# (versi indonesia..he)