Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 33)

Aku mulai ini dengan nama Allah. Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang..

Kawan, aku mengerti mengapa dulu kamu selalu bersikap cuek padaku. Khususnya, cuek saat aku melakukan hal-hal yang sia-sia. Ya, aku paham sekarang maksud sikapmu beberapa tahun silam itu. Terima kasih kawan, kamu ajarkan aku dengan caramu sendiri. Hha..entah kamu berniat mengajariku entah tidak. Yang jelas, aku dapat belajar dari cara dan sikapmu itu.

Kamu memang kawanku yang hebat. Hebat, karena kamu mau berteman denganku. Hha..aku rasa tak apa aku sedikit ge er.
Apalah yang aku bicarakan ini?? Se kacau bin balau itukah?

Ya, aku suka kamu tersenyum seperti itu.

Aku dan Aku (# 32)

Sedikit pusing malam ini. Ah, sudah biasa..
Apa kabarmu kawan?

Aku ada cerita malam ini. Tentang siapa ya?? Hmm..anggap saja tokoh ini adalah aku atau kamu. Hha..daripada kita anggap orang lain. Nanti malah jadi membicarakan orang. Hha..ada-ada saja.

Sebelumnya aku minta izin, untuk memanggil tokoh ini dengan sebutan “teman”. Itu hanya untuk memudahkanku dalam bercerita. Terserah kamu ingin membayangkan siapa. Dirimu sendiri juga boleh. Sepakat?

Baik, aku mulai. Ada seorang teman yang sudah hidup kira-kira 20 tahun. Beliau sedang duduk di bangku kuliah. Yup, beliau seorang mahasiswa. Beliau cerdas dan sangat optimis. Kehadirannya dapat membuat sekitarnya menjadi semakin cemerlang. Ya, beliau adalah sosok yang hebat.

Aku dan Aku (# 31)

Aku tau kamu juga manusia. Walau telah lama kamu hidup, kamu tetap saja manusia. Jika semakin lama hidup bisa jadi malaikat, sesuatu yang sangat mengejutkan. Tapi tentu tidak. Manusia tetap manusia dan malaikat tetaplah malaikat.

Apa pun yang kamu coba ungkapkan, itu benar adanya. Dan apa pun yang kamu coba simpan, juga benar adanya. Pilihan itu di tanganmu, kawan.

Aku tidak kaget saat kamu bicara soal rasa. Karena tentu, semua kita memilikinya. Aku juga tidak kaget saat kamu berharap dipertemukan dengan sosok yang serasa denganmu. Karena, aku juga begitu. Ingin berbuat dengan rasa. Maaf, mungkin lebih tepatnya—berbuat karena rasa. Rasa itu yang mendorongmu untuk melakukan itu. Sabar saja kawan, kamu tidak sendiri.

Aku dan Aku (# 30)

Hhh.....lumayan letih aku hari ini. Seharian sudah melanglang buana. Aku keliling dunia hari ini. Ya, keliling dunia versiku sendiri.

Aku ingin sampaikan sesuatu padamu, kawan. Ini tentang diriku. Aku dan hidupku. Kamu tentu tau, aku bukanlah anak yang jenius dan cerdas versi mereka—kebanyakan orang. Termasuk bagi keluargaku sendiri. Boleh dibilang, aku adalah anak paling bodoh di antara kami bersaudara. Entah dari kaca mata mana mereka memandangku. Tapi, kurasa tak hanya mereka yang memandangku begitu. Orang-orang di luar sana memandang sama, kurasa.

Ya, benar. Aku bukan sosok yang rajin. Bukan sosok yang bisa dibanggakan oleh mereka. Tak apa bagiku. Karena, bukan itulah tujuan hidupku. Bukan! Sesekali bukan itu. Aku hidup tidak untuk membuat mereka bangga. Aku hidup bukan untuk menjadi barang yang dijajakan kesana kemari demi prestise. Aku hidup untuk Allah, Tuhanku—Tuhan semesta alam. Biarlah aku tidak bisa menaikkan prestise keluargaku di mata orang banyak. Bukan di sana jalanku.

Aku dan Aku (# 29)

Apa yang kamu lihat hari ini kawan? Adakah kamu keluar dari rumahmu hari ini? Menyenangkankah hari ini bagimu? Berartikah hari ini bagimu?

Maafkan aku jika banyak tanya. Aku ucapkan selamat atas hari ini. Cerah atau pun kelam, tetap kata selamat ini untukmu, kawan. Ya, aku hanya rindu menyapamu. Semoga, ada senyuman di wajahmu.

Sudah beberapa hari ini aku tidak keluar rumah. Bosan memang. Hanya bisa melihat dunia melalui layar kaca. Ya, tentu sudah beberapa hari itu juga aku tidak melihat saudara-saudaraku. Hmm..tak apalah.

Cukup lama aku berdiam di rumah. Dan aku merasa, tak satu pun yang dapat kulakukan dengan baik. Ya, aku sakit. Walau nikmat sehat itu tak terganti—sakit juga ada nikmatnya. Siapa bilang dalam sakit tidak ada nikmat? Siapa bilang dalam sakit tidak ada hikmah?

Aku dan Aku (# 28)

Hai kawan. Aku punya cerita. Ini tentang seseorang yang selalu jatuh bangun dalam hidup. Haha. Aku rasa semua orang pernah jatuh bangun. Tapi, yang ini beda. Orangnya bodoh. Jatuh di lubang yang sama berkali-kali. Dihadapkan pada masalah yang sama—yang dia selalu tidak bisa untuk menyelesaikannya.

Aku tidak bermaksud untuk menertawakan orang ini. Hanya saja, aku ingin menceritakan tentangnya padamu. Semoga, kamu bisa mengambil pelajaran. Itu saja.

Orang ini tidak jujur. Senyum disaat hatinya menangis. Tertawa disaat bathinnya merintih. Ya, dia suka sekali menampakkan yang tidak sesuai dengan hatinya. Entah apa tujuannya, aku tak tahu. Aku hanya heran dengannya. Berkali-kali dia mencoba untuk menjadi lebih baik. Tapi apa? Apa yang malah dia dapatkan? Tidak pernah tepat keputusannya itu. Aku rasa, karena mungkin—dia tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dia kurang bijak, kurasa.