Aku cukup heran dengan orang-orang yang
tidak jujur. Semoga, aku dan kamu dilindungi dan dijauhkan oleh Allah dari
ketidakjujuran. Aamiin..
Aku harus ulangi. Aku heran dengan
mereka yang tidak jujur. Padahal, jujur itu adalah hal prinsip yang sudah jelas
tidak boleh dilanggar. Tentu, tak sedikit pun boleh diabaikan. Kamu tentu tau
kawan, apa makna dari tidak jujur itu? Ya, sebut saja—bohong. Bohong, jelas
tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Aku amati dan aku rasakan, kebohongan
telah merasuk lini-lini kehidupan.
Kamu tidak usah kaget saat aku begitu
yakin untuk ungkapkan, bahwa kebohongan telah merasuki lini-lini kehidupan. Dan
mungkin, seluruhnya.
Aku tidak asal bicara. Aku berani
katakan, karena aku menyaksikannya. Aku beri contoh. Tidak usah jauh-jauh.
Misalnya kamu. Saat kamu merasakan rindu pada kawanmu—sebut saja aku (hha),
mungkin kamu tidak akan ungkapkan. Jangankan untuk mengungkapkan, untuk
mengakui bahwa kamu merindukanku saja, mungkin kamu enggan. Bukan tidak
mungkin, kamu mengatakan yang sebaliknya. Mungkin karena jaim atau apa. Tapi
yang jelas, itu sudah berbohong kawan. Ya, itu contoh. Semoga yang sebenarnya
tidak begitu, kuharap.
Ada satu yang sangat sulit untuk lepas
dari seorang anak. Ya, perilaku menyontek. Kamu kira menyontek itu hal yang
biasa? Atau hal tidak penting? Sadarilah kawan, bahwa seseorang yang telah
melakukan perilaku menyontek, berarti dia telah melanggar satu hal prinsip. Ya,
dia telah berperilaku bohong—tidak jujur. Miris sekali, saat aku menyaksikan
itu. Sebentar, aku akan jelaskan. Kamu pasti mengira aku juga pernah menyontek.
Benar, aku juga pernah melakukan kebohongan itu. Menyontek dan memberi sontekan.
Aku akui, bahwa aku tidaklah semuanya baik. Tapi, aku rasa—tindakan menyontek
itu harus segera dihentikan, sejalan dengan telah bertambahnya usia—yang sudah
tentu bertambah pemahaman. Mungkin, waktu SD atau pun SMP, aku masih belum
paham—dan sangat menjunjung tinggi perilaku ikut-ikutan. Tapi, jika itu
berlanjut hingga SMA—yang di sanalah dikatakan cukup baligh, aku rasa perlu
ditinjau kembali.
Aku perlu ulangi. Jujur itu adalah hal
prinsip. Aku setuju dengan orang-orang yang menjalani hidup dengan tidak terlalu
serius. Maksudnya, hidup dengan berpikir bijaksana dan sederhana. Tapi, itu
tidak berlaku untuk hal-hal prinsip. Dalam kondisi apa pun, hal-hal prinsip itu
harus tetap dipegang teguh. Apa harus pula aku menyebut korupsi? Kurasa tidak
perlu kawan. Sudah terlalu banyak pembahasan tentang korupsi di bumi ini.
Lebih dari itu semua, tetaplah perilaku
jujur adalah sesuatu prinsip yang harus dipegang teguh, jika mereka adalah
orang-orang yang beriman. Atau mungkin, telah banyak orang yang tidak bisa
menjaga imannya?? Atau apakah juga mungkin banyak yang sudah tak beriman??
Entahlah kawan. Na’udzubillah..tsumma
na’udzubillah.
Tentu, semua itu dimulai dari diri kita
masing-masing. Mulailah untuk menyadari dan memahami hal-hal prinsip—yang tentu
dipegang teguh oleh orang yang beriman. Karena, itulah pembeda antara orang
beriman dengan orang yang tidak beriman. Untuk hal-hal prinsip, memang tidak
ada toleransi. Bagaimana mungkin orang yang melanggar Allah harus diberi
toleransi? Allah saja tidak mengampuni, kalau tidak manusianya yang meminta
ampun. Kalau tidak manusianya yang bertaubat.
Aku rasa, cukup jelas maksudku itu.
Kuncinya adalah pada pribadinya. Karena, tidak akan mudah untuk mengubah
seseorang, jika orang itu tidak ingin berubah. Masih ingat ini?? Where there is a will, there is a way. Ya,
dimana ada kemauan, di sana ada jalan.
Bagaimana mungkin aku atau pun kamu akan
menghormati mereka yang berbohong?? Sedangkan mereka tidak menghormati diri
mereka sendiri.
Terserah, mau menjaga iman atau malah
merusaknya. Itu pilihan. Bukan begitu kawan??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar