Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 26)

Kindly Bookmark and Share it:
Aku cukup heran dengan orang-orang yang tidak jujur. Semoga, aku dan kamu dilindungi dan dijauhkan oleh Allah dari ketidakjujuran. Aamiin..

Aku harus ulangi. Aku heran dengan mereka yang tidak jujur. Padahal, jujur itu adalah hal prinsip yang sudah jelas tidak boleh dilanggar. Tentu, tak sedikit pun boleh diabaikan. Kamu tentu tau kawan, apa makna dari tidak jujur itu? Ya, sebut saja—bohong. Bohong, jelas tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Aku amati dan aku rasakan, kebohongan telah merasuk lini-lini kehidupan.

Kamu tidak usah kaget saat aku begitu yakin untuk ungkapkan, bahwa kebohongan telah merasuki lini-lini kehidupan. Dan mungkin, seluruhnya.


Aku tidak asal bicara. Aku berani katakan, karena aku menyaksikannya. Aku beri contoh. Tidak usah jauh-jauh. Misalnya kamu. Saat kamu merasakan rindu pada kawanmu—sebut saja aku (hha), mungkin kamu tidak akan ungkapkan. Jangankan untuk mengungkapkan, untuk mengakui bahwa kamu merindukanku saja, mungkin kamu enggan. Bukan tidak mungkin, kamu mengatakan yang sebaliknya. Mungkin karena jaim atau apa. Tapi yang jelas, itu sudah berbohong kawan. Ya, itu contoh. Semoga yang sebenarnya tidak begitu, kuharap.

Ada satu yang sangat sulit untuk lepas dari seorang anak. Ya, perilaku menyontek. Kamu kira menyontek itu hal yang biasa? Atau hal tidak penting? Sadarilah kawan, bahwa seseorang yang telah melakukan perilaku menyontek, berarti dia telah melanggar satu hal prinsip. Ya, dia telah berperilaku bohong—tidak jujur. Miris sekali, saat aku menyaksikan itu. Sebentar, aku akan jelaskan. Kamu pasti mengira aku juga pernah menyontek. Benar, aku juga pernah melakukan kebohongan itu. Menyontek dan memberi sontekan. Aku akui, bahwa aku tidaklah semuanya baik. Tapi, aku rasa—tindakan menyontek itu harus segera dihentikan, sejalan dengan telah bertambahnya usia—yang sudah tentu bertambah pemahaman. Mungkin, waktu SD atau pun SMP, aku masih belum paham—dan sangat menjunjung tinggi perilaku ikut-ikutan. Tapi, jika itu berlanjut hingga SMA—yang di sanalah dikatakan cukup baligh, aku rasa perlu ditinjau kembali.
Aku perlu ulangi. Jujur itu adalah hal prinsip. Aku setuju dengan orang-orang yang menjalani hidup dengan tidak terlalu serius. Maksudnya, hidup dengan berpikir bijaksana dan sederhana. Tapi, itu tidak berlaku untuk hal-hal prinsip. Dalam kondisi apa pun, hal-hal prinsip itu harus tetap dipegang teguh. Apa harus pula aku menyebut korupsi? Kurasa tidak perlu kawan. Sudah terlalu banyak pembahasan tentang korupsi di bumi ini.

Lebih dari itu semua, tetaplah perilaku jujur adalah sesuatu prinsip yang harus dipegang teguh, jika mereka adalah orang-orang yang beriman. Atau mungkin, telah banyak orang yang tidak bisa menjaga imannya?? Atau apakah juga mungkin banyak yang sudah tak beriman?? Entahlah kawan. Na’udzubillah..tsumma na’udzubillah.

Tentu, semua itu dimulai dari diri kita masing-masing. Mulailah untuk menyadari dan memahami hal-hal prinsip—yang tentu dipegang teguh oleh orang yang beriman. Karena, itulah pembeda antara orang beriman dengan orang yang tidak beriman. Untuk hal-hal prinsip, memang tidak ada toleransi. Bagaimana mungkin orang yang melanggar Allah harus diberi toleransi? Allah saja tidak mengampuni, kalau tidak manusianya yang meminta ampun. Kalau tidak manusianya yang bertaubat.

Aku rasa, cukup jelas maksudku itu. Kuncinya adalah pada pribadinya. Karena, tidak akan mudah untuk mengubah seseorang, jika orang itu tidak ingin berubah. Masih ingat ini?? Where there is a will, there is a way. Ya, dimana ada kemauan, di sana ada jalan.

Bagaimana mungkin aku atau pun kamu akan menghormati mereka yang berbohong?? Sedangkan mereka tidak menghormati diri mereka sendiri.

Terserah, mau menjaga iman atau malah merusaknya. Itu pilihan. Bukan begitu kawan??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar