Waktu = Kesempatan

Di masa nan abadi..



Duhai, beda benar rasanya malam ini. Tak seperti malam-malam sebelumnya. Sungguh berbeda aku merasa. Entah apa namanya ini, aku tak bisa ungkapkan. Mungkin saja aku sudah tak lama lagi. Setelah ini atau pun saat ini, aku bisa saja disuruh pulang. Jika itu benar, aku hanya ingin pulang dengan tenang. Tanpa gelisah, tanpa takut, tanpa jeritan. Ah, andai saja..

Beberapa hari belakangan ini aku merasa semuanya amat berharga. Tidak seperti hari-hari sebelumnya—yang hanya ingin melakukan apa yang kuinginkan, dengan selalu menganggap semua yang tak kuminati adalah masa bodoh. Syukurlah aku sempat menyadarinya. Sadar—bahwa nyawa ini amat berharga. Sadar—bahwa hidupku saat ini adalah anugerah. Sadar—bahwa mereka di sekelilingku amat harus kusayangi dan kujaga perasaannya. Sadar—bahwa semuanya untuk Allah. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk tidak bersyukur, untuk takut, untuk gelisah. Karena ada Allah yang akan selalu menguatkan perjalananku—hingga aku pulang nanti.

Ini untukmu



Bismillah..
Ini untukmu duhai aku. Rasakanlah, rasakanlah, rasakanlah..

Duhai aku, hidupmu cuma sekali. Nyawa ini amanah. Hidupmu akan tetap bernyawa selagi Allah menghendakinya.

Aku yang ingin bahagia, lihatlah dirimu. Tataplah wajahmu di cermin. Apa yang kau lihat? Bukankah kau melihat sosok hebat yang pundaknya dipikulkan amanah besar oleh Allah?

Aku yang ingin berguna, cukupkan keluh kesahmu dalam shalat dan doa-doamu. Tapakilah jalan ini dan tinggalkan jejak-jejak indah nan amat berharga bagi mereka yang kemudian.

Aku yang air matanya sering jatuh di penghujung malam, tabahkanlah hatimu saat perih menghampiri. Usap lembut saja dadamu itu. Jika buliran bening itu jatuh, seka saja dengan tanganmu. Tidak usah terlalu berharap ada sosok yang selalu siap menyekanya. Hanya Allah lah yang selalu ada.

Ayo! Baca, renungkan, bergerak..

Salam..
Kemarin hari terakhirku di bulan Ramadhan. Hehe..bukan hanya aku. Tapi hari terakhir di bulan Ramadhan bagi seluruh muslim sedunia..

Apa sudah tertebak ceritaku hari ini, kawan? Hehe..benar. Aku tentu bercerita sesuai apa yang kurasa dan momen apa yang sedang kualami. Yup, tepat. Lebaran. Dari semalam, kumandang takbir, tahmid, dan tahlil sudah memenuhi langit komplek perumahanku. He, iya..seluruh langit dunia. Eh, sedikit iseng. Aku pernah mempertanyakan, “Kenapa irama takbiran, itu ke itu saja. Tidak adakah irama lain?”. Silakan yang bersedia menjawab. Jika tidak, juga tak apa. Hehe..

Sampai pagi. Kumandang takbir tetap memenuhi langit dan bumi. Duhai, luar biasa sekali kondisi pagi ini (andai, tiap hari begini..*berharap). Tentu, umat muslim di komplek perumahanku sudah berbondong-bondong menuju mushala—tepatnya lapangan mushala (hehe..karena tidak muat di dalam mushala. Eh, bukan. Kan lebih baik shalat id itu dilaksanakan di tanah lapang..hehe). *cukup tidak penting..

Kurasa itu cukup



Aku cukup bingung hendak memulai dari mana. Rasa-rasanya aku sudah tidak tahu lagi cara untuk mengungkapkan. Ya, bicara sudah jelas aku tak bisa. Sekarang, menulis—satu-satunya cara yang kubisa, juga tak mampu untuk memulainya. Entah apa namanya. Aku juga tak harapkan untuk bisa merangkai kata-kata indah lagi dalam makna. Tidak juga rangkaian kata yang asal-asalan. Hh..susah juga rasanya. Kamu tahu kawan, aku hanya mampu untuk menulis. Lebih dari itu, wallahua’lam. Dan sekarang, menulis itu yang sulit bagiku. Aku merasa tidak ada yang mampu kuungkapkan.

Haha. Lucu juga rasanya. Tidak ada yang menuntutku untuk menulis. Tapi, aku malah seperti dibebani tuntutan yang mengharuskanku untuk terus dan terus menulis. Entahlah.

Rindu juga rasanya ingin merangkai cerita tentang senja—yang tentu sangat kucinta. Tidak banyak orang yang berkenan untuk mendengar ceritaku—yang sudah jelas tak pernah meninggalkan senja. Aku paham itu. Karena, memang tidak banyak orang yang mencintai senja seperti aku mencintainya. Ya, mungkin saat ini aku teramat merindukan senjaku itu. Aku percaya, senjaku akan tetap di sana. Ia takkan pergi. Aku saja yang merasa tak enak. Sudah lama yang cukup sangat aku tak menampakkan raga. Aduh, maafkan aku.

Peluk eratlah ia..



Duhai jiwa, dengarkanlah ini..

Aku sungguh kufur. Sungguh tak tahu diri. Sungguh angkuh dalam melangkah. Jika boleh jujur, sebenarnya aku takut—amat takut. Takut mati dalam kekufuran. Takut mati dalam ketaktahuan diri. Takut mati dalam keangkuhan.

Duhai jiwa, dengarkanlah ini..

Sungguh, aku ingin kembali. Aku ingin memperbaiki. Aku ingin kembali suci. Ingin sangat dijemput dalam khusnul khatimah. Duhai, lemah benar hati ini. Rapuh benar jiwa ini. Terlalu mudah terpengaruh. Sungguh, itu karena aku amat jauh. Jauh dari Allah, jauh dari Al-Qur’an.

Duhai jiwa, dengarkanlah ini..

Aku malu dengan Allah. Dengan amat tegas Allah berkata dalam Al-Qur’an, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (At-Tin, 95:4)”. Aduh, luluh sudah perasaanku. Mulia benar kasih Allah. Agung benar kekuasaan Allah. Aku hanya bisa menunduk, merasa tak layak untuk menengadah.

Duhai hati..



Duhai hati yang gelisah..renungkanlah sejenak

Apa yang kau cari dalam hidup ini?
Apa yang membuat bathinmu sering tak tentram?
Apa yang membuatmu takut berhadapan dengan hari ini?

Duhai hati yang bimbang..renungkanlah sejenak

Kapankah hatimu merasa damai?
Kapankah hidupmu terasa berarti?
Kapankah langkahmu terasa pasti?

Duhai hati yang merindukan kelembutan..renungkanlah sejenak

Hidupmu bukanlah kemarin, esok, atau pun lusa. Hidupmu adalah hari ini. Ingin menjadi lebih baik di hari esok? Duhai, kapankah esok itu akan datang? Bukankah yang kau temui hanya hari ini?

So difficult to say..



Ya, aku cuma bisa diam dan tersenyum. Entahlah, tak bisa lagi bibir ini merangkai kata. Ah, lucu sangat semua ini. Bukankah aku sudah terbiasa melihat orang pergi? Apa-apaan semua ini?

Memang, aku sudah biasa melihat orang pergi—menyaksikan punggung yang perlahan semakin menjauh, hingga hilang dari hadapanku. Kafan tertimbun tanah pun, sudah menjadi sahabat pemandangan bagiku.

Bukan, bukan itu yang membuatku diam dan tersenyum. Itu sudah kawan bagiku.

Aku tak bisa berkata-kata, jika air mata tumpah di depan mataku. Aku tak sanggup menyaksikan kepedihan yang mereka derita. Air mata begitu deras membanjiri pipi lembutnya. Duhai Allah, tidak tega aku menyaksikannya. Tentu, aku hanya bisa diam. Harus pulakah aku menangis? Oh tidak, apalah gunanya jika aku menambah duka yang mereka rasakan? Karena sesungguhnya, aku juga turut berduka. Ya, air mata mereka adalah duka besar bagiku.