Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 24)

Kindly Bookmark and Share it:
Aku tau tidak ada orang yang bisa hidup sendiri. Tapi, ternyata tidak cukup hanya dengan aku mengetahuinya saja. Lebih dari itu, sebenarnya aku mesti memahaminya.

Aku menemukan sesuatu malam ini, kawan. Aku menemukan arti sebuah kesetiaan. Ternyata, tanpa aku dan kamu sadari—dengan selalu berceritanya aku dan kamu, itu adalah wujud dari kesetiaan. Mengapa bisa begitu?? Ya, bisa saja. Sebelumnya, apa perlu aku jelaskan arti kata setia padamu? Kurasa tidak usah kawan. Tentu, kamu sudah tau arti kata itu. Jikalau kamu berkata tidak tau, aku rasa bukan tidak tau. Aku yakin, kamu tau. Hanya saja, tidak mudah untuk diuraikan dalam bentuk kata-kata. Benar kan?


Aku tau, beberapa waktu lalu kamu hampir melupakan sesuatu dikarenakan kesibukanmu yang teramat sangat. Oh! Apakah itu kuliah, sekolah, tugas, ke kantor—atau apa pun itu. Yang jelas, kamu sempat melupakannya. Siapa dia? Atau siapa mereka?

Aku yakin, kamu tidak akan lupa dengan orang tuamu. Baik yang masih ada atau pun yang telah tiada. Bagaimana bisa kamu melupakan orang yang telah berjasa dalam hidupmu?

Yang jelas, aku tidak akan bahas tentang orang tua. Yang menarik dan akan sedikit aku bahas, adalah tentang teman. Atau aku lebih suka menyebutnya dengan “Saudara”. Tentu, hidupku dan juga hidupmu tak lepas dari mereka. Kemana pun aku atau pun kamu, pasti bertemu dengan mereka. Sesibuk apa pun kamu, aku harap kamu tidak lupa dengan mereka. Ya, aku tau kamu tidak pernah melupakannya. Buktinya, nama mereka selalu ada di hatimu. Yang aku maksud, jangan lupa untuk menyapa mereka—saudara-saudara kita. Tidak sempat menyapa, senyum pun sudah cukup. Aku takut, jika kebiasaan-kebiasaan baik itu—intensitasnya amat kamu kurangi, akan berdampak tidak baik pada kualitas persaudaraan kita.

Ya, itu yang tadi kumaksud. Perlu juga ternyata, kesetiaan aku dan juga dirimu dalam merawat rajutan persaudaraan ini. Tentu, agar tetap indah dan membuat senang siapa saja yang melihatnya.

Karena, tanpa disadari—kebiasaan-kebiasaan baik itu, akan tertekan ke alam bawah sadar kita, serta memengaruhi perilaku dan tindakan kita. Aku harap, semoga dengan harmoni persaudaraan ini, aku dan juga dirimu dapat berlemah lembut dan penuh kebijaksanaan.

Kawanku, mungkin aku mewakili saudara-saudara kita di luar sana, yang sangat rindu akan sapaan dan senyumanmu. Akan sangat bahagia rasanya, mendapat sapaan hangat di tengah sesaknya kesibukan dunia. Alangkah lebih indahnya kurasa, jika kita saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Karena, akuilah kawan—bahwa kamu sudah sesak dengan rutinitas dunia ini. Tidak ada salahnya kurasa, jika kamu sempatkan untuk menelpon saudara kita—barang dua atau tiga menit. Atau melayangkan sms rindu. Aku yakin, kesetiaan kecilmu dapat memberi energi yang besar untuk saudara kita.

Sebenarnya aku tidak berani membahasakan kesetiaan kecil. Karena kurasa, tidak ada kesetiaan yang kecil. Bersedia saja aku atau pun kamu untuk bersikap setia, kurasa itu adalah perjuangan yang besar. Jadi maaf, jika diksiku tidak tepat.

Lebih dari itu semua, aku ingin mengingatkanmu agar tetap setia kepada Allah, Tuhan semesta alam. Setia dalam kondisi apa pun. Lapang atau pun sempit. Caranya aku yakin, kamu tentu lebih tau. Tinggal melakukan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang. Aku pun yakin, kamu tentu bisa melakukannya. Aku pun begitu, insyaAllah.

Aku beri contoh kecil. Menutup aurat. Ya, orang-orang yang telah menutup auratnya—berarti telah berjuang untuk setia kepada Allah. Kemudian, mendirikan shalat. Mereka juga sedang berjuang untuk menjadi abdi yang setia. Aku rasa, tidak usah aku sebutkan satu per satu. Karena, kita sudah sama-sama tau apa kewajiban kita sebagai seorang hamba. Hanya saja, kita tinggal membuka-buka kembali, lembaran Al-Qur’an dan Sunnah, untuk mengingatkan kita—apa-apa saja yang harus dan belum kita kerjakan.

Harapanku—semoga aku dan juga dirimu, bisa menikmati nafas ini dalam kesetiaan. Aamiin.
Salam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar