Hhhh….baru saja aku berbagi cerita
dengan seseorang—yang sudah lumayan lama menghirup udara dunia. Cukup jauh
memang—jarak kami. Maksudku jarak usia. Tapi, pembicaraan kami sangat
menyenangkan, kurasa.
Aku ingin menyampaikan ini. Baru saja
beliau mengatakan, bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat. Dan
aku rasa, memang benar. Karena, tadi baru saja aku menonton televisi. Di
dalamnya muncullah orang-orang yang memamerkan barang-barang mewah miliknya.
Kemudian, bermainlah analisaku. Hha. Lucu juga jika aku membahasakannya
analisa. Tapi, whatever lah. Yang
penting maksudnya itu. Yup, aku lanjutkan. Dengan mereka memamerkan
barang-barang mewah itu, apa akan berpengaruh pada kehidupanku? Seandainya jika
sekarang aku sedang ada masalah, apa mereka bisa memberi solusi dengan tindakan
pemernya itu?? Kurasa tidak, kawan. Malah itu seperti angin lalu, menurutku.
Tak ada rasa, tak ada tanda.
Ya, kembali ke topik. Manusia yang
bermanfaat. Kurasa, tidak ada manfaatnya pameran-pameran yang ada di layar kaca
itu. Maaf, aku tidak bermaksud untuk memberi stempel buruk pada siapa pun itu.
Aku hanya mencoba untuk mengambil dan memberi makna. Itu saja. Dan kurasa,
tidak ada salahnya. Bukan begitu, kawan?
Ya, saat cerita mengalir dengan begitu
naturalnya—aku menangkap sesuatu. Sesuatu itu adalah di hati dan di kepala. Benar
sekali. Niat dan ide. Tentu kamu tau pasti kawan, bahwa teramat mahal harga
sebuah niat baik dan ide cemerlang. Tidak diragukan lagi. Niat akan baik, jika
kita hidup di jalur yang semestinya. Dan ide akan berguna, jika digagas pada
waktu dan tempat yang tepat. Sungguh, itu sebuah kebijaksaan. Kebijaksanaan
dalam menempatkan sesuatu.
Termasuk kebijaksanaan dalam menempatkan
diri. Menempatkan potensi diri. Tentu, potensiku berbeda dengan potensimu.
Kalau pun mirip, kuyakin tidak akan identik. Nah, itu sebuah kekayaan. Dengan
berbedanya potensiku dan potensimu—berarti bidang yang berbeda juga akan bisa
terjamah oleh niat baik dan ide cemerlang tadi. Apalagi untuk orang-orang hebat
seperti kita. Tentu sangat merasa bersalah jika tidak berguna. Adalah sebuah keputusan
yang bijak—dengan aku dan kamu fokus pada potensi itu.
Ya, sebut saja kuliah. Aku tidak bisa
paksakan untuk kamu berkuliah sama denganku. Karena, itu tadi—potensi kita
berbeda. Sudah banyak contohnya. Siapa pun dia—asal mempunyai tekad yang kuat—tidak
akan pernah berhenti, sebelum sampai. Ya, sebelum sampai pada tujuannya. Oh!
Apakah dia ingin menjadi penulis? Tentu, tidak akan berhenti menuangkan rasa
lewat goresan-goresan indahnya. Ingin menjadi pengusaha? Juga dia tidak akan
berhenti untuk selalu mencoba dan mencoba.
Ya, sepanjang dan selebar apa pun aku
bercerita—kembalinya juga akan ke niat dan ide. Hh. Karena sesungguhnya, aku
hanya ingin sampaikan itu.
Tinggal di aku atau pun kamu nya saja.
Akan di apakan niat dan ide itu. Itu pilihan.
Aku hanya ingin tekankan ini. Apa pun
niat dan idemu, kembalilah kepada tujuan awal tadi—manusia yang bermanfaat.
Yakinlah kawan—Allah akan uji imanmu di situ. Kebijaksanaanmu dalam menyalurkan
niat dan idemu.
Aku rasa cukup untuk saat ini.
kapan-kapan aku berkunjung lagi. Aku pamit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar