Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 22)

Kindly Bookmark and Share it:
Hhhh….baru saja aku berbagi cerita dengan seseorang—yang sudah lumayan lama menghirup udara dunia. Cukup jauh memang—jarak kami. Maksudku jarak usia. Tapi, pembicaraan kami sangat menyenangkan, kurasa.

Aku ingin menyampaikan ini. Baru saja beliau mengatakan, bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat. Dan aku rasa, memang benar. Karena, tadi baru saja aku menonton televisi. Di dalamnya muncullah orang-orang yang memamerkan barang-barang mewah miliknya. Kemudian, bermainlah analisaku. Hha. Lucu juga jika aku membahasakannya analisa. Tapi, whatever lah. Yang penting maksudnya itu. Yup, aku lanjutkan. Dengan mereka memamerkan barang-barang mewah itu, apa akan berpengaruh pada kehidupanku? Seandainya jika sekarang aku sedang ada masalah, apa mereka bisa memberi solusi dengan tindakan pemernya itu?? Kurasa tidak, kawan. Malah itu seperti angin lalu, menurutku. Tak ada rasa, tak ada tanda.


Ya, kembali ke topik. Manusia yang bermanfaat. Kurasa, tidak ada manfaatnya pameran-pameran yang ada di layar kaca itu. Maaf, aku tidak bermaksud untuk memberi stempel buruk pada siapa pun itu. Aku hanya mencoba untuk mengambil dan memberi makna. Itu saja. Dan kurasa, tidak ada salahnya. Bukan begitu, kawan?

Ya, saat cerita mengalir dengan begitu naturalnya—aku menangkap sesuatu. Sesuatu itu adalah di hati dan di kepala. Benar sekali. Niat dan ide. Tentu kamu tau pasti kawan, bahwa teramat mahal harga sebuah niat baik dan ide cemerlang. Tidak diragukan lagi. Niat akan baik, jika kita hidup di jalur yang semestinya. Dan ide akan berguna, jika digagas pada waktu dan tempat yang tepat. Sungguh, itu sebuah kebijaksaan. Kebijaksanaan dalam menempatkan sesuatu.

Termasuk kebijaksanaan dalam menempatkan diri. Menempatkan potensi diri. Tentu, potensiku berbeda dengan potensimu. Kalau pun mirip, kuyakin tidak akan identik. Nah, itu sebuah kekayaan. Dengan berbedanya potensiku dan potensimu—berarti bidang yang berbeda juga akan bisa terjamah oleh niat baik dan ide cemerlang tadi. Apalagi untuk orang-orang hebat seperti kita. Tentu sangat merasa bersalah jika tidak berguna. Adalah sebuah keputusan yang bijak—dengan aku dan kamu fokus pada potensi itu.

Ya, sebut saja kuliah. Aku tidak bisa paksakan untuk kamu berkuliah sama denganku. Karena, itu tadi—potensi kita berbeda. Sudah banyak contohnya. Siapa pun dia—asal mempunyai tekad yang kuat—tidak akan pernah berhenti, sebelum sampai. Ya, sebelum sampai pada tujuannya. Oh! Apakah dia ingin menjadi penulis? Tentu, tidak akan berhenti menuangkan rasa lewat goresan-goresan indahnya. Ingin menjadi pengusaha? Juga dia tidak akan berhenti untuk selalu mencoba dan mencoba.

Ya, sepanjang dan selebar apa pun aku bercerita—kembalinya juga akan ke niat dan ide. Hh. Karena sesungguhnya, aku hanya ingin sampaikan itu.

Tinggal di aku atau pun kamu nya saja. Akan di apakan niat dan ide itu. Itu pilihan.

Aku hanya ingin tekankan ini. Apa pun niat dan idemu, kembalilah kepada tujuan awal tadi—manusia yang bermanfaat. Yakinlah kawan—Allah akan uji imanmu di situ. Kebijaksanaanmu dalam menyalurkan niat dan idemu.

Aku rasa cukup untuk saat ini. kapan-kapan aku berkunjung lagi. Aku pamit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar