Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 29)

Kindly Bookmark and Share it:
Apa yang kamu lihat hari ini kawan? Adakah kamu keluar dari rumahmu hari ini? Menyenangkankah hari ini bagimu? Berartikah hari ini bagimu?

Maafkan aku jika banyak tanya. Aku ucapkan selamat atas hari ini. Cerah atau pun kelam, tetap kata selamat ini untukmu, kawan. Ya, aku hanya rindu menyapamu. Semoga, ada senyuman di wajahmu.

Sudah beberapa hari ini aku tidak keluar rumah. Bosan memang. Hanya bisa melihat dunia melalui layar kaca. Ya, tentu sudah beberapa hari itu juga aku tidak melihat saudara-saudaraku. Hmm..tak apalah.

Cukup lama aku berdiam di rumah. Dan aku merasa, tak satu pun yang dapat kulakukan dengan baik. Ya, aku sakit. Walau nikmat sehat itu tak terganti—sakit juga ada nikmatnya. Siapa bilang dalam sakit tidak ada nikmat? Siapa bilang dalam sakit tidak ada hikmah?


Kamu tentu tau aku kawan. Biar pun bisanya hanya tidur, tapi pikiran ini tetap melayang kemana-mana. Aku mendapatkan sesuatu saat aku terbaring sakit. Ya, nikmat sehat sudah tentu aku akui sangat besar. Tapi, bukan itu yang kumaksud. Bukan juga sakit merupakan ajang penghapusan dosa. Kamu tentu sudah tau itu, kawan. Jadi, kurasa tidak perlu aku bahas.

Aku ingin menyampaikan ini. Dalam beberapa hari itu aku melihat semangat-semangat baik dari orang-orang baik. Berusaha memberi dengan apa yang telah mereka punya. Contoh. Seorang lulusan SMA—yang juga sudah lulus kuliah, menyumbang buku-buku novel islam remaja untuk SMA nya dulu. Ya, ini sederhana memang. Hanya buku. Bukan uang jutaan atau milyaran. Tapi, yang aku sorot adalah niat baiknya dan rasa kasihnya.

Akui saja kawan, saat ini mungkin tak banyak orang yang peduli. Tidak usah jauh-jauh. Seorang sarjana, tidak akan pernah bisa menjadi seorang sarjana jika dulunya dia tidak SMA, tidak SMP, tidak SD—ya, sebut saja pendidikan penghantarnya ke perguruan tinggi. Tapi, bukan itu yang kumaksud. Aku melihat, di sini ada rasa peduli. Memang, hanya buku. Tapi, apa untuk memberi itu harus menunggu banyak uang dulu? Apa untuk memberi itu harus kaya dulu? Kurasa tidak kawan.

Ya, itu contoh. Seperti saat aku sakit. Siapa bilang aku tidak bisa memberi di saat itu? Memang, aku hanya bisa tidur. Tapi, aku rasa bukan tidak mungkin aku tidak bisa memberi di saat itu. Semangat untuk kembali sehat. Ya, itu dapat kuberi. Setidaknya, dengan aku memiliki semangat untuk sehat, aku tidak terlalu merepotkan sekitarku. Ya, aku rasa aku telah memberi. Tentu, memberi kemudahan kepada sekitarku. Harapanku semoga mereka tidak menjadi repot. Sederhana bukan?

Inti yang ingin kusampaikan, kurasa kamu sudah dapat menangkapnya. Ya, untuk memberi tidak harus menunggu kaya. Berilah apa yang aku atau kamu punya. Jika punya waktu, berikanlah waktu itu untuk kebaikan. Jika punya tenaga, berikanlah tenaga itu untuk kebaikan. Jika punya materi, berikanlah materi itu untuk kebaikan. Dan jika punya niat, berikanlah niat itu untuk kebaikan.

Tentu kawan, kamu sangat paham dengan apa yang kusampaikan. Semoga saja, kita senantiasa memberi dalam kebaikan. Aamiin..
Salam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar