Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 31)

Kindly Bookmark and Share it:
Aku tau kamu juga manusia. Walau telah lama kamu hidup, kamu tetap saja manusia. Jika semakin lama hidup bisa jadi malaikat, sesuatu yang sangat mengejutkan. Tapi tentu tidak. Manusia tetap manusia dan malaikat tetaplah malaikat.

Apa pun yang kamu coba ungkapkan, itu benar adanya. Dan apa pun yang kamu coba simpan, juga benar adanya. Pilihan itu di tanganmu, kawan.

Aku tidak kaget saat kamu bicara soal rasa. Karena tentu, semua kita memilikinya. Aku juga tidak kaget saat kamu berharap dipertemukan dengan sosok yang serasa denganmu. Karena, aku juga begitu. Ingin berbuat dengan rasa. Maaf, mungkin lebih tepatnya—berbuat karena rasa. Rasa itu yang mendorongmu untuk melakukan itu. Sabar saja kawan, kamu tidak sendiri.


Aku tau, kamu lebih berpengalaman dariku. Tapi kamu juga mesti akui, aku hari ini juga buah dari pengalaman. Bukan sesuatu yang menyedihkan kurasa, jika kamu sempat terhenti di tengah perjalanan panjang ini. Aku yakin, kamu sedang berhenti sejenak untuk menghela napas panjang. Ombak saja tidak selamanya menggulung dengan hebat. Ada juga saatnya laut tenang dan hanya menghempaskan ombak kecil ke tepian. Biar pun begitu, dia tetap menghempas. Begitu juga denganmu dan juga denganku. Meski tak selamanya langkah ini tegap, tapi aku dan kamu tidak pernah berhenti melangkah. Walau itu hanya langkah kecil.

Aku tau, kamu sangat menantikan saat—dimana semua rasamu terjawab sudah. Sebelumnya, tolong kamu akui bahwa aku punya kapasitas untuk bicara tentang ini. Hha. Apa kedengarannya begitu lucu?? Terserah lah..

Apa ya?? Aku merasa kehabisan kata-kata.
Yup! Tentu kamu sudah mengerti. Hha. Apa aku terkesan memaksa?? Kurasa tidak kawan. Memang beginilah aku. Kamu tenang saja. Tunggu saja sosok yang kamu harapkan. Yakinlah, dia akan datang. Allah tau betul, yang kamu butuhkan. Jika kamu memang membutuhkan teman (walau sebenarnya banyak teman di sisimu), Allah akan beri itu. Ya, tentu pembicaraanku sejalan dengan rasa dan pemikiranmu. Aku yakin itu.

Berilah selamat kepada dirimu. Selamat untuk diri yang masih bisa bertahan. Selamat untuk diri yang tetap memegang teguh rasa itu. Dan selamat untuk langkah hebatmu dengan atau tanpa sosok yang kamu harapkan.

Ingat, Allah melimpahkan seluruh kasihNya di jagat raya ini. Tak terkecuali untukmu dan juga untukku.

Apa kamu mulai bosan membaca tulisan ini, kawan?? Kurasa tidak. Kamu sangat senang membacanya, bukan?? Hha..tenang, aku tidak memaksa.

Tapi kurasa, jika tulisan ini kulanjutkan—itu ke itu saja yang akan kutulis. Ya, aku tau. Lebih baik aku cukupkan. Aku tau kamu lega. Ya, senyum seperti itu lebih baik.

Aku tau kamu tidak puas dengan ceritaku hari ini. Maafkan aku..
Salam..

1 komentar: