Waktu = Kesempatan

Move On Itu Perlu..

Kindly Bookmark and Share it:


Kawanku, semoga dirimu selalu berada dalam limpahan cinta dan kasihNya..

Susah sangat bagiku menelannya. Tenang, bukan menelan air mata yang kumaksud. Itu sudah kulakukan—lama sebelum ini. Tak bisa bagiku untuk makan seenak dulu, meneguk nasi senikmat dulu. Kering sudah rasa-rasaku. Ah, lagi-lagi ceritaku tak seru. Haha..mohon kesabaranmu, kawan.

Syukurnya, nasi di tepi piring itu dapat kuhabiskan meski dalam waktu lumayan lama. Aku tetap usahakan menelannya dengan penuh syukur dan cinta. Mana mau diriku jadi abdi yang kufur lagi? Sudah kapok.

Lucunya, mataku mengantuk setelah itu. Kurebahkan sejenak tubuhku di kasur itu. Tidak ada niat untuk tidur—tapi mataku terasa berat. Ah, apalagi ini? Bukankah sebentar lagi isya? Apa-apaan mataku ini? Sudahlah, lebih baik kupejamkan mata ini sejenak. Belum sempat merealisasikan niatku itu, adzan isya sampai ke telingaku—semoga juga ke hatiku—kuharap. Ya, bukan waktunya tidur. Lebih baik aku berkumur-kumur dan membasuh mukaku. Bukankah itu panggilan Allah? Mana berani aku mengacuhkanNya.


Subhanallah..tubuhku segar kembali. Dengan meluruskan niat, kulangkahkan kaki ini ke sana. Fastabiqul khairat. Ya, berlomba-lomba menuju kebaikan.

Aduh, lagi-lagi melankolisku keluar, kawan. Syahdu sangat perjalananku. Berlari pun ingin kulakukan. Tapi, untuk apa?? Wong tubuhku sudah di depan pintunya. Ya, karena harus berdamai dengan hati dan perasaanku—aku harus ketinggalan shalat untuk menghormatinya. Ya sudahlah, tinggal menunggu iqamah. Duhai, lagi-lagi bergetar hatiku saat bacaan iqamah itu berkumandang. Dia sebut Allah dan Rasulku di sana—dia sebut Allah dan Rasul kita, kawan.

Makin damai saja aku merasa..
Ya, hanya shalat. Benar, dialah penghubungku denganNya. Mana bisa aku jauh dariNya? Nasi tak tertelan saja, aku butuh Dia. Apalagi menyusuri jalan panjang ini? Mana mungkin aku tak membutuhkanNya? Jauh pun, takkan sanggup.

Aku tidak takut dengan apa pun, kawan—kecuali lupa cara mengingat Allah. Hanya itu. Tiadalah ketenangan selain mengingatNya. Hh..

Oh iya, sedikit bercerita..
Tadi, sebelum iqamah berkumandang—pandanganku beradu dengan pandangan seorang anak—kira-kira kelas satu SD. Kamu tahu kawan? Dia melemparkan senyuman padaku. Duhai, manis sekali anak itu. Dua atau tiga detik, berpalinglah pandangan kami. Bagaimana aku tidak heran? Kemarin, anak itu tepat jatuh di depanku—saat ia berlari mengejar abangnya. Kira-kira tiga meter terlempar buku yang dipegangnya. Ya, seketika menangislah anak itu—segera menuju abangnya.

Aku dapat memetik sesuatu dari peristiwa itu. Kemarin malam, ia menangis. Malam ini, ia tersenyum padaku. Bukankah itu artinya dia move on, kawan? Benar, untuk move on itu butuh waktu. Bukankah sehari semalam itu waktu, kawan? Sejam, semenit, sedetik—bukankah itu juga waktu?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar