Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 14)

Salam kawan. apa kabar??
Rasanya sudah lama aku tidak berbagi cerita denganmu. Aku rindu. Bagaimana hari-harimu? Semoga menyenangkan, kuharap.

Memang sulit untuk melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah. Ya, dialah ikhlas. Sungguh berat ikhlas itu ternyata. Untuk menerima kondisiku saat ini saja, butuh pertarungan yang hebat pula aku dengan diriku sendiri. Maaf, jika aku berkata-kata tidak jelas. Entah apalah namanya ini. Aku baru bangkit dari lupaku.

Aku dan Aku (# 13)

Aku tau aku salah. Selama ini, aku hidup dalam kesalahan. Aku menyadari kalau itu adalah sebuah kesalahan. Tapi, entahlah. Saat aku menyadari kalau aku telah berbuat kesalahan, aku menjadi merasa sangat berdosa. Aku merasa tidak berguna. Ah, entahlah kawan.

Aku tau bahwa ini salah. Tak seharusnya aku menggantungkan semangat hidupku pada sesuatu yang—untuk menopang semangatnya saja, dia belum tentu mampu. Ya, aku telah melakukan kesalahan. Aku tersadar saatku menyendiri. Apalah jadinya jika aku menggantungkan semangatku selalu pada sesuatu yang sewaktu-waktu juga akan melakukan kesalahan yang sama sepertiku? Ya, bergantung pada orang lain. Tak seharusnya aku begitu. Aku tau itu. Tapi, aku manusia, kawan.

Aku dan Aku (# 12)

Hari ini aku baru saja mengantar jenazah ke pemakaman umum. Semoga, aku sudah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang telah melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ramai bukan main, orang yang menyalatkan jenazah itu. Dalam hati aku berharap, semoga di saat aku yang menjadi si jenazah, banyak juga orang yang menyalatkanku. Aku harap.

Sekarang aku tidak akan membahas soal kematian. Tapi, hanya menyinggung sedikit tentang itu. Ingat! Hanya menyinggung.

Aku dan Aku (# 11)

Halo. Waw, tentu ini tidak asing lagi di telingamu. Hidup adalah pilihan. Haha. Bosankah kamu mendengarnya, kawan?? Hmmm…mungkin iya, mungkin juga tidak. Ya, pilihan. Ya atau tidak. Yes or no.

Baru saja aku kembali ke rumah setelah berkeliling di luar sana. Melanglang buana tepatnya. Haha. Cukup letih. Menyenangkan?? Yes, maybe. Di perjalanan pulang, seperti biasa— pikiranku agak melayang. Upss!! Tenang, aku tidak memikirkan yang macam-macam. Hah! Agak lucu rasanya jika aku katakan. Tapi, aku rasa akan menjadi lebih lucu jika aku diamkan.
Begini, kawan. sepulang aku melanglang buana, aku mendapatkan sedikit— entah apa namanya, aku tidak tau. Motto? Kata bijak?? (haha. Sejak kapan aku bisa berkata bijak??). Baca baik-baik ya. “ Lakukan kebaikan atau tidur (bergerak atau mati).”

Aku dan Aku (# 10)

Kawanku, aku bahagia sekali malam ini. Banyak senyum bertebaran di hadapanku. Senyum itu, membuatku menjadi semakin cerah dan bersemangat.
Barusan, aku chat dengan seseorang yang cukup jauh di sana. Aku diberi tambahan semangat. Dan lagi-lagi, aku kembali diingatkan. Dan kali ini, aku jamin, diksinya benar (insyaAllah).
“Jika kamu memberikan sesuatu kepada orang lain, ucapkan terima kasih dan do'akan dia. Jangan biarkan hanya dia yang mendo'akan kamu dan jangan biarkan pemberianmu itu dibalas dengan pujiannya yang sering membuatmu terlena dan terbawa perasaan 'bahwa saya telah menolongnya'. Ucapkan terima kasih padanya, bukan menunggu terima kasih darinya. Karena pada hakikatnya kitalah yang ditolongnya, dia telah merelakan dirinya menjadi tanah dari benih kebaikan yang telah kita tanam.”

Aku dan Aku (# 9)

Ha!! Aku rasa tidak lucu, jika saat ini aku katakana there is no sense. Tapi, memang begitulah kenyataannya, kawan. Andai kamu tau, sulit sekali menjalani sesuatu yang aku tak punya rasa di sana. Aku harap, kamu tidak sepertiku.
Sesungguhnya aku tak suka ini. Aku benci ini semua. Aku benci dengan diriku sendiri. Mengapa aku bisa tidak ada rasa? Bukankah aku yang telah memilih semua ini? Sungguh bodoh!!

Aku dan Aku (# 8)

Entah kenapa, aku tiba-tiba merasa jenuh dengan hidupku. Aku merasa tidak ada inovasi. Tidak ada hal-hal baru yang kutemui. Itu ke itu saja yang kutemui. Sungguh, mungkin ini yang namanya jenuh. Tiap harinya aku hanya menghadapi itu ke itu saja. Aku bosan.

Hhhh….
Kamu selalu ingatkan aku dengan hidup dengan gaya yang sederhana. Tapi, apalah namanya ini? Aku tidak yakin— bahwa penyebab hidupku jenuh, bukanlah gaya hidupku yang— entah iya entah tidak tergolong ke dalam kategori sederhana.

Aku dan Aku (# 7)


Wow!! Hari ini cukup melelahkan. Banyak yang kuhadapi hari ini. Beragam orang telah kujumpai. Tiba saatnya aku kembali bercerita padamu, kawan.

Di luar sana hujan deras. Aku katakan padamu, bahwa aku lelah. Seharian sudah aku di luar rumah bersama teriknya matahari dan sejuknya gerimis.
Tadi, saat aku sedang duduk mendengarkan seseorang yang berbicara di depan kelas, aku sedikit tergelitik dengan perkataannya. Tidak semua pembicaraannya yang tertangkap oleh telinga dan otakku. Hanya beberapa saja. Inilah kalimat yang membuat aku— entah apa kata yang tepat, aku tak tau. Kira-kira kalimatnya begini,” Yang memilih kalian semua untuk hadir di sini adalah Allah.

Aku dan Aku (# 6)


Hai kawan.
Apa kabar? Apakah akhir-akhir ini kamu sibuk sekali? Sibuk boleh-boleh saja. Tapi kamu harus ingat kesehatanmu. Aku bahagia melihatmu dapat melakukan hal-hal berarti setiap harinya. Karena, jika kamu semangat, aku juga akan lebih semangat.

Akhir-akhir ini aku jarang melihatmu. Aku tau bahwa kita sama-sama sibuk. Semoga kita selalu disibukkan dalam kebaikan, aamiin.

Aku dan Aku (# 5)


Subhanallah..
Aku suka pagi hari. Aku suka matahari.

Sungguh, suatu kebahagiaan besar bagiku dapat menikmati udara sepertiga malam. Eh, sedikit ralat. Udara di ujung sepertiga malam. Maklum, aku masih belajar. Aku baru akan menuju seperti orang-orang shalih. Doakan ya..

Rasanya, seperti disiram air sejuk yang begitu membangkitkan energi-energi positifku. Setelah sekian lama aku hidup dalam terangnya pagi, baru kali ini perjuanganku berhasil. Semoga, tidak kali ini saja. Aku harap, ini akan menjadi kehidupanku selalu. Aamiin..

Aku dan Aku (# 4)


Salam kawan. Senang sekali bisa bertemu kembali.
Saat ini aku akan menceritakan sesuatu padamu.

Hari ini adalah hari yang begitu kompleks. Banyak yang kutemui hari ini. Banyak rasa yang mengalir di pembuluh darah seluruh tubuhku.

Tadi, baru saja aku sampai di rumah, setelah mengikuti sidang umum. Katanya, ini adalah forum pengambilan keputusan tertinggi. Tepat sekali, aku mendapat posisi sebagai pengamat. Ya, aku bersyukur, karena aku diberi kesempatan masuk ke ruangan itu, meski hanya untuk mengamati. Sekarang aku tidak akan membahas jalannya sidang, siapa presidiumnya, atau pun komunikasi yang cukup alot.

Aku dan Aku (# 3)


Banyak cara untuk menemukan makna cinta. Caraku tentu berbeda dengan caramu. Bisa jadi, cinta bagiku belum tentu berarti cinta juga bagimu. Aku tidak mempersoalkan tentang itu. Terserah, yang penting dia tetaplah cinta. Siapa saja berhak atasnya. Soal cara, itu jelas berbeda.

Cinta. Aku tidak akan membahas tentang versi cinta oleh aku, kamu, atau pun mereka. Karena, aku tak berminat untuk itu.

Aku dan Aku (# 2)


Siapa yang mengajarimu hidup? Bapak Ibumu? Adik kakakmu? Teman-temanmu?

Bukan kawan. Bukan mereka yang mengajarimu hidup. Tapi, kamulah yang belajar tentang kehidupan ini sendiri. Coba kamu renungkan kembali. Andaikan mereka tidak ada, apa kamu akan berhenti untuk tetap belajar dalam hidup ini? Tentu tidak bukan? Maka, segera perbaiki mindset kamu tentang itu. Kamu tidak boleh bergantung kepada mereka. Ingat! Mereka adalah titipan. Hidupmu masih akan tetap berlanjut tanpa mereka. Termasuk, kamu akan tetap belajar tentang hidup ini.

Aku dan Aku (# 1)


Hei!! Apa kamu tau, mengapa kamu bisa merasa sedih atau bahagia?
Kamu tau, mengapa kamu bisa mengeluarkan air mata dan tertawa bahagia?
Karena kamu hebat? Karena kamu manusia? Atau karena kamu punya hati?

Ya, seluruh jawaban itu benar. Apa pun itu, silakan kamu jawab sesuai dengan versi kamu sendiri. Itu jawaban yang benar.

Proyek Untuk Bunda





Tak ada cicak malam ini. Jangkrik pun tak ada. Aku sendiri di sini. Di kamarku ini. Bertemankan melodi indah yang sayup-sayup terdengar di telingaku. Kasur di kamarku masih rapi seperti tadi pagi. Tak kusut sedikit pun. Bantal dan selimutku masih tersusun rapi. Hari ini, belum ada aku menjamahnya.
Malam ini, semua orang telah kembali ke kasur empuknya masing-masing. Mmmm….tentu mereka telah lelah seharian beraktifitas. Nyenyak sekali tampak olehku. Sampai-sampai, tak sedikit pun suara makhluk yang kudengar malam ini. Ya, aku ucapkan selamat beristirahat kepada mereka di dalam hatiku.