Sore itu aku baru saja pulang kuliah. Dikatakan
badai—hampir. Awalnya gerimis biasa saja. Ya, aku putuskan untuk tidak memakai
payung. Dua temanku yang lain juga begitu. Kami sedang menikmati
tusukan-tusukan halus dari air langit yang jatuh. Wah wah, sepertinya tidak
bisa lama-lama. Semakin deras saja air yang turun. Tentu, kami putuskan untuk
mengembangkan si umbrella. Meski cuma
ada satu payung—laa baksa (tidak
apa-apa). Kami sedang sangat menikmati kebersamaan itu.
Duduk saja ketiga anak itu di tangga
masjid. Menatap butiran air yang semakin deras. Mulailah pikiran ini melanglang
buana. Mobil-mobil bagus sudah mulai berjejer rapi di parkiran depan masjid. Tidak
sedikit juga motor yang pasrah menerima air hujan yang menusuknya tanpa henti.
Mulailah pikiran ini berkata, “Ah, andai
saja aku punya mobil seperti mereka. Tentu aku juga bisa membawa dua orang
saudaraku ini. Tidak harus kehujanan seperti ini. Sama saja tidak ada gunanya
si umbrella itu. Tetap saja basah
jadinya. Ah, kasihan sangat diriku menelusuri bola mata mereka yang sedang
mengikuti butiran air yang jatuh itu. Terpaku saja—tanpa kata-kata. Aduh,
apalagi saat salah seorang dari saudaraku berkata, ‘wah, sudah mulai dingin ya?
Bajuku basah’. Duhai, andai saja aku punya mobil, pasti mereka tidak usah
merasakan dingin yang seperti ini.”
Satu, dua, tiga mobil sudah berganti
lalu lalang di depan mataku. Andai aku punya mobil..gumamku.
Kemudian, dingin semakin menusuk saja. Aku
ajaklah dua temanku itu untuk masuk ke dalam masjid. Setidaknya lebih hangat
dan tentunya agar pikiranku tidak melayang-layang seperti itu. Mulailah kami
bersiap-siap untuk berwudhu. Ya, sebentar lagi ashar. Wah, semakin dingin saja
saat air wudhu menyentuh kulit yang memang sudah kedinginan. Kebetulan, juga
tak ada makanan yang kira-kira bisa mengganjal perut di ransel kami. Maklum,
mahasiswa..he.
Tidak lama-lama. Kami langsung
mengenakan mukena. Subhanallah, sudah
mulai hangat kami merasa. Sambil menunggu iqamah,
mulailah para makmum merapikan shaf (meski hanya beberapa orang, tapi
jadilah..). Suara imam sepertinya agak berlomba dengan derasnya hujan. Mulailah
kembali pikiranku ini berbicara, “Wah, bisa-bisa tidak kedengaran suara imam
gara-gara hujan yang terlalu deras. Bisa gaswat ini. Gak lucu jadinya—imam sudah
sujud, lah diriku masih rukuk”. Sempat aku memasang strategi untuk sedikit
melirik ke shaf ikhwan (laki-laki), supaya tidak ketinggalan nantinya. (walau
sebenarnya sedikit ragu untuk merealisasikan strategi aneh itu..he).
Sudahlah, iqamah sudah selesai. Aku harus konsentrasi—ya, konsentrasi. Mulailah
shalat ashar sore itu saat imam takbir. Yup, aku dan makmum lainnya mengikuti
imam.
Shalat ashar pun selesai. Subhanallah, tanpa harus diriku
merealisasikan strategi aneh tadi, aku dapat mengikuti shalat berjamaah dengan
baik. Memang, suara imam sayup-sayup terdengar di telingaku. “Ah, tak masalah”,
itu pikirku. Dan memang tidak masalah sebenarnya.
Bahagianya lagi, hujan deras sudah pergi—tinggallah
gerimis yang (kusuka). Duhai, bahagianya melihat senyum di wajah saudaraku itu.
Tidak ada lagi kata ‘kedinginan’. Senang saja aku menyaksikan itu. Biar pun
gerimis, kami tetap berjalan menyusuri hijaunya kampus. Ya, aku sangat bangga
dengan kampusku. Jika resah, duduk saja di tangga masjid sambil menyaksikan
hijaunya alam. Sudah cukup itu bagiku.
Ya, kami mulai menyusuri rerumputan yang
masih basah. Duhai, semakin segar saja aroma sore itu. Aku semakin menikmati
gerimis yang turun.
Duhai..
Andai aku punya mobil, aku belum tentu
akan mengerti makna ‘kedinginan’ yang dilontarkan saudaraku.
Andai aku punya mobil, aku tidak akan
merasakan waktu ashar yang begitu hangat menyambutku.
Andai aku punya mobil, aku tidak akan
berusaha untuk konsentrasi dalam shalat.
Andai aku punya mobil, aku tidak akan
bersyukur dengan kampusku nan amat indah.
Andai aku punya mobil, aku tidak akan
menikmati sejuknya gerimis dengan mereka, saudara-saudaraku.
Ya, kalau saja waktu itu aku punya
mobil, lewatlah semua momen indah itu. Momen, untuk taqarrub ilallah (semakin dekat dengan Allah). RencanaMu selalu
indah duhai Allah..

lah kenapa gak jadi penulis saja kalau emang suka nulis, ngapain buka distro segala :D
BalasHapus:)..
Hapuskan ini sudah jadi penulis bang?(penulis di blog sendiri..he)
soal distro mah..lagi menunggu keputusan..(ada udang di balik bakwan nih..)
Semangat kak .. :D
BalasHapusyakin kalau entar kak bakalan jadi penulis no 1 dimanapun .. :)
wah..senang sekali membaca komentarnya
Hapusaamiin..
semoga Adrian Hidayat bisa lebih dari kakak..
;)
Mantap Ja..
BalasHapusSemoga selalu berada di jalan dakwah..
..
:)
Semangat Jihad!!
AllahuAKBAR..!!
Allahuakbar..
Hapusaamiin, semoga istiqomah terjaga hingga akhir..
keep write mba ;)
BalasHapusyupp!!..
Hapus“Ketika kamu bicara, kata-katamu hanya bergaung ke seberang ruangan atau sepanjang koridor. Tapi ketika menulis, kata-katamu bergaung sepanjang zaman.”(Bud Gardner)
Kutipan yang bagus. Ikutan kopas ya.
Hapusiya Bu, tafadhol..*semoga banyak manfaat..aamiin..
Hapus:)..