Aku ada karena aku
dicipta. Aku diberi masa untuk selalu hadir menemani keramaian maupun kesepian.
Selesai di belahan bumi ini, aku diperintahkan untuk berpindah ke belahan bumi
lain. Aku tetap ada, walau kadang bersama titik-titik air. Aku semakin cantik
saat warna jingga mendominasi, semakin gagah saat burung-burung berbaris rapi
membentuk formasi. Aku juga bisa berkilau jika mendapat bias sang mentari.
Terlebih lagi saat mentari memantulkan silau kilaunya ke hamparan air yang luas
itu—entah dimana tepi dan ujungnya. Akulah senja.
Kabarnya, banyak sangat
yang menantikan kedatanganku. Seperti artis saja—dinanti-nanti kehadirannya.
Ada yang berkata bahwa aku sangat cocok dijadikan teman untuk melepas lelah.
Istilah kerennya refreshing. Saat
mengunjungiku, banyak lensa penangkap gambar yang beredar di sekelilingku—sudah
makin banyak saja ragamnya, kulihat. Terbukti, teknologi semakin canggih. Tapi,
ada juga yang cuma duduk-duduk sambil bercerita. Tidak hanya itu—yang duduk
sendiri pun ada. Wah wah, ternyata keluarga besar juga mengunjungiku. Ah, aku
sudah merasa lebih hebat dari artis terkenal.

