Waktu = Kesempatan

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sang Penyimak Kisah (FULL)


Aku ada karena aku dicipta. Aku diberi masa untuk selalu hadir menemani keramaian maupun kesepian. Selesai di belahan bumi ini, aku diperintahkan untuk berpindah ke belahan bumi lain. Aku tetap ada, walau kadang bersama titik-titik air. Aku semakin cantik saat warna jingga mendominasi, semakin gagah saat burung-burung berbaris rapi membentuk formasi. Aku juga bisa berkilau jika mendapat bias sang mentari. Terlebih lagi saat mentari memantulkan silau kilaunya ke hamparan air yang luas itu—entah dimana tepi dan ujungnya. Akulah senja.
Kabarnya, banyak sangat yang menantikan kedatanganku. Seperti artis saja—dinanti-nanti kehadirannya. Ada yang berkata bahwa aku sangat cocok dijadikan teman untuk melepas lelah. Istilah kerennya refreshing. Saat mengunjungiku, banyak lensa penangkap gambar yang beredar di sekelilingku—sudah makin banyak saja ragamnya, kulihat. Terbukti, teknologi semakin canggih. Tapi, ada juga yang cuma duduk-duduk sambil bercerita. Tidak hanya itu—yang duduk sendiri pun ada. Wah wah, ternyata keluarga besar juga mengunjungiku. Ah, aku sudah merasa lebih hebat dari artis terkenal.

Sang Penyimak Kisah..#2



 Aku tidak heran. Kalau cerah begini, memang ramai yang datang ke sini. Mereka mulai berdatangan selepas ashar, kira-kira saat anak-anak pergi mengaji. Aduh aduh, ada sesuatu yang hampir lupa kuberitahu. Rata-rata, orang di sini ingin mempererat tali persaudaraan. Lihat saja. Mereka saling mengambil gambar satu sama lain, saling berangkulan, dan ada juga yang berbagi makanan. Mereka tidak ragu-ragu untuk turun ke pasir (yang sudah jelas basah dan mengotori). Dan apa yang mereka lakukan? Yup, mereka terlihat sedang mengambil posisi untuk ditangkap lensa. Kalau aku tidak salah, namanya berpose. Hmmm..menyenangkan dan amat enak dipandang.

Sang Penyimak Kisah..



Aku ada karena aku dicipta. Aku diberi masa untuk selalu hadir menemani keramaian maupun kesepian. Selesai di belahan bumi ini, aku diperintahkan untuk berpindah ke belahan bumi lain. Aku tetap ada, walau kadang bersama titik-titik air. Aku semakin cantik saat warna jingga mendominasi, semakin gagah saat burung-burung berbaris rapi membentuk formasi. Aku juga bisa berkilau jika mendapat bias sang mentari. Terlebih lagi saat mentari memantulkan silau kilaunya ke hamparan air yang luas itu—entah dimana tepi dan ujungnya. Akulah senja.

Pasa Pabukoan



“Ikuik kuliah umum bisuak?”, aku bertanya
“Mmmmm..caliak lu. Ija??”
“Ndak do, maleh”
“Oo..yo lah”

Sedikit penggalan dialog dengan kawanku di kampus, kemarin (versi Minang). Pagi ini pukul 08.00 WIB, ada kuliah umum PSIKOLOGI BENCANA di fakultas. Ah, tidak cukup menarik bagiku. Beda dengan semangat mahasiswa lainnya. Mungkin mereka sudah berbondong-bondong karena penasaran atau alasan lain. Tapi, itu tidak cukup untuk membuat alasanku menjadi baik seperti mereka. Alasanku cuma malas dan tidak menarik minatku.

Sekitar pukul 10.00 WIB, aku naik angkot (mau ke fakultas). Sesampainya di sana, tepat di gerbang terpampang spanduk besar bertuliskan, “KULIAH UMUM PSIKOLOGI BENCANA bla bla bla..”. Aku cuma duduk di dekat pos satpam (menunggu kakak). Waktu duduk menunggu, lewatlah beberapa kawanku se-jurusan (kira-kira empat orang).

Kubiarkan dia hancur..




Kenalkan, namaku Reza. Aku seorang mahasiwa. Hari ini aku baru saja melewati ujian akhir semester. Aku datang sebelum waktunya. Aku juga sudah membaca materi ujian dua jam sebelum ujian berlangsung. Aku sering bolos. Aku tidak memperhatikan dosen. Aku tidak mencatat inti perkuliahan. Aku juga tidak antusias dalam diskusi.

Bukan apa-apa. Memang semua itu tidak menarik bagiku. Datang, duduk manis, dengarkan dosen, catat. Ah, itu ke itu saja yang harus kulakukan—selama bertahun-tahun. Ditambah lagi beban tugas yang bukan main banyaknya. Entah untuk apa para mahasiswa diberi tugas. Kabarnya, mencetak sarjana. Memangnya sarjana itu apa?

Ah, aku hanyalah seorang Reza. Tidak dipandang di antara mahasiswa lainnya. Bagaimana bisa dipandang? Aku saja tidak pantas untuk “dipandang” versi mereka. Ah, tujuan hidupku juga bukan untuk pandangan—apalagi pandangan manusia. Manusia itu suka yang enak-enak saja. Ya, kira-kira seperti aku—yang sampai hari ini masih bingung mengapa harus suka dengan dunia perkuliahan. Entahlah..

Proyek Untuk Bunda





Tak ada cicak malam ini. Jangkrik pun tak ada. Aku sendiri di sini. Di kamarku ini. Bertemankan melodi indah yang sayup-sayup terdengar di telingaku. Kasur di kamarku masih rapi seperti tadi pagi. Tak kusut sedikit pun. Bantal dan selimutku masih tersusun rapi. Hari ini, belum ada aku menjamahnya.
Malam ini, semua orang telah kembali ke kasur empuknya masing-masing. Mmmm….tentu mereka telah lelah seharian beraktifitas. Nyenyak sekali tampak olehku. Sampai-sampai, tak sedikit pun suara makhluk yang kudengar malam ini. Ya, aku ucapkan selamat beristirahat kepada mereka di dalam hatiku.  

Cappuccinoku Tak Hangat Lagi

Langit sore itu begitu elok. Udaranya begitu bersahabat. Duduk aku sejenak di bangku di sudut teras rumahku. Pikiranku melayang jauh. Mataku mengikuti arah terbang burung-burung itu. Sungguh, entah apa namanya. Perasaanku sedang campur aduk. Rasanya, terlalu banyak partikel-partikel duka yang melayang di alam pikirku. Kondisi ini, memutar memoriku beberapa tahun lalu. Persis seperti ini langit di waktu itu. Burung-burung pun, terbang mengikuti irama angin, persis seperti saat dulu.