Ini bukan nasihat, bukan pesan, bukan
amanat, dan juga bukan permintaan..
Ini hanyalah ungkapan hati..
Untukmu yang akan meninggalkan..
Aku tahu kamu cukup ragu. Aku tahu kamu
takut akan canggung. Aku juga tahu kamu berusaha menguatkan hati. Namun, kamu
ingatlah duhai yang akan meninggalkan, semua ini karena cinta. Langkah baru
yang akan ditempuh ini adalah lanjutan dari perjalanan cintamu hari ini. Ya,
walau sebelum melanjutkan perjalanan indah ini, kamu harus meninggalkan. Ragu?
Takut? Merasa tak sanggup? Ah, itu biasa. Namanya juga perjalanan. Rasulullah saja
mesti melakukan hijrah—untuk bisa mempersaudarkan Anshar dan Muhajirin. Bukankah
persaudaraan itu indah? Ya, hijrah lah mulanya.
Untukmu yang akan meninggalkan..
Tidak ada yang melarangmu untuk cukup
sedih, cukup gamang, dan cukup tertekan. Nikmatilah itu, kawan. Ada cinta di
sana—percayalah. Bukankah cangkir indah di mejamu itu harus dibakar
berkali-kali agar indah seperti hari ini? Bahagiakah dirimu menyaksikan
kecantikannya? Tentu kawan—itulah cinta.
Untukmu yang akan meninggalkan..
Cinta itu tidak menyakitkan. Cinta itu
tidak memilukan. Cinta itu juga tidak menyayat perasaan. Namun, cinta itu
memberi kekuatan. Bukankah dirimu yang masih bisa bertahan hingga saat ini—karena memiliki cinta? Untuk apa takut, kawan? Sakit, pilu, tersayat—hanya bisa
dirasakan oleh mereka yang mengerti makna cinta. Dan saat ini, itu yang kamu rasakan.
Bukankah itu artinya kamu punya cinta?
Untukmu yang akan meninggalkan..
Kuucapkan selamat jalan. Ini adalah
perjalanan cinta. Semoga, sebelum mati—dirimu sempat kembali. Berharap cerita indahmu. Jika tak
sempat, cukup ceritakan lewat senyum di wajah tegarmu..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar