Waktu = Kesempatan

Error need



Salam buat pembaca semuanya..
Apa kabar? Udah makan? Ngapain aja hari ini? O iya, kabar imannya gimana? Naik? Turun? Datar? Ato naik turun datar? (sori kalo saya banyak tanya. Itu tanda saya peduli..hem) Semoga semuanya aman, aamiin..

Ini, saya mo ada yang diomongin sama pembaca sekalian. (ngomong?|iya..|ini kan komunikasi satu arah? Gimana bisa ngobrol coba’?|capedeh. Kan bisa komen di bawah—jadi ngobrol kan? *oke, fine..gak lucu).

Frekuensi..



Melankolis itu bukan saya (banget). Ha, saya bukan teman yang setia. Bukan adik atau pun kakak yang rela mengorbankan apa pun untuk sodaranya. Saya biasa-biasa saja. Tapi saya baik kok (insyaAllah). #pembukaanYangMaksa
Saya ingin singgung sedikit soal surah al-anfaal ayat 63 (kalo saya tidak salah)—(setelah saya cek, ternyata benar). “dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

Ini saran..



Dia gini..
Tiap-tiap orang punya potensi yang beda-beda. Punya fokus yang beda-beda. Punya passion yang beda-beda. Cukuplah orang tua jaman dulu yang seperti itu. Menyamaratakan semua potensi anak. Menyamaratakan semua bakat anak. Menyamaratakan semua kemampuan anak. Sudah. Yang sudah itu ya sudah. Buat ke depannya mari sama-sama diperbaiki. Baik dari sisi anak maupun orang tua.
Kalo saya pribadi, udah diduluin ama orang tua. Beliau-beliau udah tamat ceritanya di dunia. Saya cuma kasian sama anak yang jadi pelampiasan orang tuanya. Saya akui, semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Saya cuma menyayangkan ketidakseimbangan ini. Mungkin sudah terlalu sering saya bicara soal anak-orang tua. Apa ketidakseimbangannya? PENGERTIAN. Itu saja saya rasa.