Salam kawan. Senang sekali bisa bertemu
kembali.
Saat ini aku akan menceritakan sesuatu
padamu.
Hari ini adalah hari yang begitu
kompleks. Banyak yang kutemui hari ini. Banyak rasa yang mengalir di pembuluh
darah seluruh tubuhku.
Tadi, baru saja aku sampai di rumah, setelah
mengikuti sidang umum. Katanya, ini adalah forum pengambilan keputusan tertinggi.
Tepat sekali, aku mendapat posisi sebagai pengamat. Ya, aku bersyukur, karena
aku diberi kesempatan masuk ke ruangan itu, meski hanya untuk mengamati. Sekarang
aku tidak akan membahas jalannya sidang, siapa presidiumnya, atau pun
komunikasi yang cukup alot.
Aku tertarik pada bagian—yang saat
kulihat di rundown acara, di sana
dituliskan “Laporan Pertanggungjawaban….”. Entahlah, aku lupa detailnya. Yang jelas,
laporan pertanggungjawaban. Ya, aku tertarik sekali dengan ini. Di sana,
disampaikan apa-apa yang telah menjadi amanat, rekomendasi, atau pun usulan di
masing-masing biro/ departemen. Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak akan
membahas biro ini atau departemen itu. Karena, aku akui—aku tidak begitu
memiliki kapasitas di situ.
Yup, akan kulanjutkan. Kemudian, akan
disampaikan pula apa-apa yang telah dilaksanakan dan apa-apa yang menjadi
kendala, juga disuguhi beberapa solusi. Yang membuat aku tertarik adalah,
bukankah hal ini adalah seperti sandiwara beberapa babak, yang menggambarkan
hari “Laporan Pertanggungjawaban” yang sebenarnya? Ya, benar. Amanat,
rekomendasi, dan usulan yang terangkum dalam program kerja adalah ibarat tugas
kita sebagai umat manusia di muka bumi. Benar. Sebagai khalifah. Kemudian,
saat—dimana penyampaian apa-apa yang telah dilaksanakan itu, bukankah itu
adalah ibarat kita mempertanggungjawabkan segala yang telah kita lakukan selama
di dunia ini di hadapan Allah SWT?? Bukankah begitu, kawan?
Sempat aku tertegun saat sidang
berlangsung. Ya, aku kembali diingatkan oleh peristiwa hari ini, bahwa laporan
pertanggungjawaban yang sesungguhnya adalah laporan pertanggungjawaban di
hadapan Allah SWT. Sekali lagi aku katakan padamu kawan, aku sangat bersyukur
diberi kesempatan untuk mengamati sidang. Terserah. Yang penting, dengan itu
aku telah mendapat pelajaran dan telah kembali diingatkan.
Mari kawan, sama-sama kita pikirkan
bagaimanakah pertanggungjawaban kita di hadapan Allah kelak. Tak satu pun
bersitan hati kita yang akan lepas dari pengetahuanNya.
Aku rasa cukup ceritaku hari ini. Sampai
jumpa..
luar biasa min (read: admin)
BalasHapusharusnya semua organisatoris
membaca ini