Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 13)

Kindly Bookmark and Share it:
Aku tau aku salah. Selama ini, aku hidup dalam kesalahan. Aku menyadari kalau itu adalah sebuah kesalahan. Tapi, entahlah. Saat aku menyadari kalau aku telah berbuat kesalahan, aku menjadi merasa sangat berdosa. Aku merasa tidak berguna. Ah, entahlah kawan.

Aku tau bahwa ini salah. Tak seharusnya aku menggantungkan semangat hidupku pada sesuatu yang—untuk menopang semangatnya saja, dia belum tentu mampu. Ya, aku telah melakukan kesalahan. Aku tersadar saatku menyendiri. Apalah jadinya jika aku menggantungkan semangatku selalu pada sesuatu yang sewaktu-waktu juga akan melakukan kesalahan yang sama sepertiku? Ya, bergantung pada orang lain. Tak seharusnya aku begitu. Aku tau itu. Tapi, aku manusia, kawan.


Aku tau, tempat bergantung hanyalah Allah SWT. Bergantung apa saja. Semangat, hidup, semuanya. Sungguh, aku telah melakukan kesalahan. Aku telah khilaf selama ini. Semoga, aku dapat memperbaiki diri ke depan. Aamiin..

Bagaimana denganmu kawan? Aku rasa kita tidak begitu berbeda. Mungkin ini juga pernah menimpamu. Ah, entahlah..

Aku tertegun saat membaca Al-Qur’an, surat al-ahzab ayat 72-73, “Sesungguhnya kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh, sehingga Allah akan mengazab orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik, laki-laki dan perempuan; dan Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Sungguh sulit aku berkata-kata setelah membaca itu. Aku merasa berdosa. Sangat berdosa. Aku telah menyia-nyiakan amanah yang telah Allah titipkan dalam hidupku. Kamu tau kawan? Satu saja contohnya. Aku tidak suka kuliah. Hah! Masih ingat saat aku katakan there is no sense? Aku benci diriku. Bukankah kuliah itu amanah? Tapi sekarang, saat aku telah mendapatkan status sebagai mahasiswa, aku malah menyia-nyiakan itu. Tidakkah aku sadar, bahwa banyak orang di luar sana yang juga ingn kuliah? Sungguh kawan, aku bodoh dan teramat kufur. Aku lupa. Aku lupa bahwa hidup ini sementara. Aku lupa bahwa aku adalah abdi Allah di muka bumi ini. Ya, aku lupa itu. Hingga aku tak pedulikan amanah-amanah Allah dalam hidupku ini. sungguh berdosa!!

Kufur nikmat! Aku juga lupa dengan saudara-saudara kita yang di Palestina sana. Sungguh. Apakah masih sempat mereka bermimpi? Entahlah kawan. Mungkin tidak. Tapi, apa yang telah aku perbuat? Aku telah diberi kesempatan untuk bermimipi. Aku telah diberi masa untuk merangkai cita. Tapi, apa? Apa yang justru kuperbuat? Aku menyia-nyiakan semuanya. Jujur, aku merasa tidak pantas untuk semua anugrah dan karunia ini. Sungguh, akulah makhluk kecil yang sombong.

Kawan, aku mohon kamu bersabar dalam mendengar ceritaku. Seharusnya, aku membagi kebahagiaan denganmu, bukannya malah membeberkan dosa-dosa yang telah kuperbuat. Sekali lagi, maafkan aku, kawan.

Semoga saja, sebelum nyawaku diambil, aku bisa melakukan yang terbaik dariku untuk Allah. Meski imanku takkan sebanding dengan iman orang-orang shalih di luar sana, setidaknya aku akan terus berusaha untuk menjadi semakin baik dan memberikan yang terbaik.

Dan harapanku, semoga kamu jauh lebih baik dariku. Semoga, ceritaku ini bisa menjadi pengingat bagimu. Hingga, jangan sampai kamu mengalami apa yang kualami. Jangan sampai kamu menjadi makhluk kecil yang sombong dan angkuh. Hanya itu harapanku kawan.

Aku akan perbaiki hidupku ini. wassalam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar