Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 14)

Kindly Bookmark and Share it:
Salam kawan. apa kabar??
Rasanya sudah lama aku tidak berbagi cerita denganmu. Aku rindu. Bagaimana hari-harimu? Semoga menyenangkan, kuharap.

Memang sulit untuk melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah. Ya, dialah ikhlas. Sungguh berat ikhlas itu ternyata. Untuk menerima kondisiku saat ini saja, butuh pertarungan yang hebat pula aku dengan diriku sendiri. Maaf, jika aku berkata-kata tidak jelas. Entah apalah namanya ini. Aku baru bangkit dari lupaku.


Kamu tau?? Apa yang kulupa itu? Bersiaplah untuk tertawa. Aku lupa bahwa Allah melihatku. Sungguh lucu, bukan? Tertawalah. Terserah, kamu ingin menertawakanku, menertawakan kelupaanku, atau menertewakan apa. Aku tak peduli.

Ada seseorang, yang—lewat perkataannya, aku kembali diingatkan. Ya, beliau telah mengingatkanku dari lupaku. Bertubi-tubi beliau melontarkan pertanyaan—yang semuanya aku lupa jawabannya. Dan yang aku lupa itu, hanya satu kata, “ALLAH”. Tolol!! Bagaimana bisa aku lupa dengan zat yang telah berkehendak aku ada? Bagaimana bisa aku lupa dengan zat yang tidak pernah tidur? Ya, itu semata-mata karena aku bodoh. Aku tidak sadar siapa aku.

Begitulah. Beberapa waktu ini, aku telah tenggelam dalam kemalasan, kegundahan, kegalauan, dan ketidakjelasan. Yang sudah jelas, di seluruh kondisi itu aku berpeluang untuk menjadi seorang pemenang. Ya, menang melawan kemalasan. Menang melawan kegundahan. Menang melawan kegalauan. Dan menang melawan ketidakjelasan. Tapi apa? Apa yang justru kuperbuat? Bukankah aku menyia-nyiakan peluang itu? Bukankah aku bodoh, kawan?

Hah! Aku semakin malu saja dengan kamu—dan sudah tentu dengan Allah. Sungguh tidak enak hidup dalam nafsu dan emosi negatif ternyata. Aku jujur, aku menyesali diriku. Tentu, diriku yang lalu. Mengapa aku berani katakan diriku yang lalu? Ya, tentu aku berani. Karena itu masa lalu. Aku malahan bersyukur diberi masa lalu seperti itu. Aku banyak belajar dari dia, si masa lalu.

Kamu tenang saja, kawan. Kamu tentu ingat, bukan? Aku dan kamu adalah orang hebat. Tentu kawan. Hanya orang-orang hebatlah yang bisa belajar dari masa lalu. Hanya orang-orang hebatlah yang bersedia mengintip kembali penyesalan-penyesalan masa lampaunya. Untuk apa? Tentu, untuk menjadi insan yang lebih baik.
Kamu tenang saja, kawan. Aku akan tetap berjuang, hingga akulah pemenang itu.

Baik kawan, aku pamit. Salam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar