Salam kawan. apa kabar??
Rasanya sudah lama aku tidak berbagi
cerita denganmu. Aku rindu. Bagaimana hari-harimu? Semoga menyenangkan,
kuharap.
Memang sulit untuk melakukan segala
sesuatu semata-mata karena Allah. Ya, dialah ikhlas. Sungguh berat ikhlas itu
ternyata. Untuk menerima kondisiku saat ini saja, butuh pertarungan yang hebat
pula aku dengan diriku sendiri. Maaf, jika aku berkata-kata tidak jelas. Entah
apalah namanya ini. Aku baru bangkit dari lupaku.
Kamu tau?? Apa yang kulupa itu?
Bersiaplah untuk tertawa. Aku lupa bahwa Allah melihatku. Sungguh lucu, bukan?
Tertawalah. Terserah, kamu ingin menertawakanku, menertawakan kelupaanku, atau
menertewakan apa. Aku tak peduli.
Ada seseorang, yang—lewat perkataannya, aku
kembali diingatkan. Ya, beliau telah mengingatkanku dari lupaku. Bertubi-tubi
beliau melontarkan pertanyaan—yang semuanya aku lupa jawabannya. Dan yang aku
lupa itu, hanya satu kata, “ALLAH”. Tolol!! Bagaimana bisa aku lupa dengan zat
yang telah berkehendak aku ada? Bagaimana bisa aku lupa dengan zat yang tidak
pernah tidur? Ya, itu semata-mata karena aku bodoh. Aku tidak sadar siapa aku.
Begitulah. Beberapa waktu ini, aku telah
tenggelam dalam kemalasan, kegundahan, kegalauan, dan ketidakjelasan. Yang
sudah jelas, di seluruh kondisi itu aku berpeluang untuk menjadi seorang pemenang.
Ya, menang melawan kemalasan. Menang melawan kegundahan. Menang melawan
kegalauan. Dan menang melawan ketidakjelasan. Tapi apa? Apa yang justru
kuperbuat? Bukankah aku menyia-nyiakan peluang itu? Bukankah aku bodoh, kawan?
Hah! Aku semakin malu saja dengan
kamu—dan sudah tentu dengan Allah. Sungguh tidak enak hidup dalam nafsu dan
emosi negatif ternyata. Aku jujur, aku menyesali diriku. Tentu, diriku yang
lalu. Mengapa aku berani katakan diriku yang lalu? Ya, tentu aku berani. Karena
itu masa lalu. Aku malahan bersyukur diberi masa lalu seperti itu. Aku banyak
belajar dari dia, si masa lalu.
Kamu tenang saja, kawan. Kamu tentu
ingat, bukan? Aku dan kamu adalah orang hebat. Tentu kawan. Hanya orang-orang
hebatlah yang bisa belajar dari masa lalu. Hanya orang-orang hebatlah yang
bersedia mengintip kembali penyesalan-penyesalan masa lampaunya. Untuk apa?
Tentu, untuk menjadi insan yang lebih baik.
Kamu tenang saja, kawan. Aku akan tetap
berjuang, hingga akulah pemenang itu.
Baik kawan, aku pamit. Salam..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar