Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 4)

Kindly Bookmark and Share it:

Salam kawan. Senang sekali bisa bertemu kembali.
Saat ini aku akan menceritakan sesuatu padamu.

Hari ini adalah hari yang begitu kompleks. Banyak yang kutemui hari ini. Banyak rasa yang mengalir di pembuluh darah seluruh tubuhku.

Tadi, baru saja aku sampai di rumah, setelah mengikuti sidang umum. Katanya, ini adalah forum pengambilan keputusan tertinggi. Tepat sekali, aku mendapat posisi sebagai pengamat. Ya, aku bersyukur, karena aku diberi kesempatan masuk ke ruangan itu, meski hanya untuk mengamati. Sekarang aku tidak akan membahas jalannya sidang, siapa presidiumnya, atau pun komunikasi yang cukup alot.


Aku tertarik pada bagian—yang saat kulihat di rundown acara, di sana dituliskan “Laporan Pertanggungjawaban….”. Entahlah, aku lupa detailnya. Yang jelas, laporan pertanggungjawaban. Ya, aku tertarik sekali dengan ini. Di sana, disampaikan apa-apa yang telah menjadi amanat, rekomendasi, atau pun usulan di masing-masing biro/ departemen. Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak akan membahas biro ini atau departemen itu. Karena, aku akui—aku tidak begitu memiliki kapasitas di situ.

Yup, akan kulanjutkan. Kemudian, akan disampaikan pula apa-apa yang telah dilaksanakan dan apa-apa yang menjadi kendala, juga disuguhi beberapa solusi. Yang membuat aku tertarik adalah, bukankah hal ini adalah seperti sandiwara beberapa babak, yang menggambarkan hari “Laporan Pertanggungjawaban” yang sebenarnya? Ya, benar. Amanat, rekomendasi, dan usulan yang terangkum dalam program kerja adalah ibarat tugas kita sebagai umat manusia di muka bumi. Benar. Sebagai khalifah. Kemudian, saat—dimana penyampaian apa-apa yang telah dilaksanakan itu, bukankah itu adalah ibarat kita mempertanggungjawabkan segala yang telah kita lakukan selama di dunia ini di hadapan Allah SWT?? Bukankah begitu, kawan?

Sempat aku tertegun saat sidang berlangsung. Ya, aku kembali diingatkan oleh peristiwa hari ini, bahwa laporan pertanggungjawaban yang sesungguhnya adalah laporan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Sekali lagi aku katakan padamu kawan, aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk mengamati sidang. Terserah. Yang penting, dengan itu aku telah mendapat pelajaran dan telah kembali diingatkan.

Mari kawan, sama-sama kita pikirkan bagaimanakah pertanggungjawaban kita di hadapan Allah kelak. Tak satu pun bersitan hati kita yang akan lepas dari pengetahuanNya.

Aku rasa cukup ceritaku hari ini. Sampai jumpa..

1 komentar:

  1. luar biasa min (read: admin)
    harusnya semua organisatoris
    membaca ini

    BalasHapus