Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 7)

Kindly Bookmark and Share it:

Wow!! Hari ini cukup melelahkan. Banyak yang kuhadapi hari ini. Beragam orang telah kujumpai. Tiba saatnya aku kembali bercerita padamu, kawan.

Di luar sana hujan deras. Aku katakan padamu, bahwa aku lelah. Seharian sudah aku di luar rumah bersama teriknya matahari dan sejuknya gerimis.
Tadi, saat aku sedang duduk mendengarkan seseorang yang berbicara di depan kelas, aku sedikit tergelitik dengan perkataannya. Tidak semua pembicaraannya yang tertangkap oleh telinga dan otakku. Hanya beberapa saja. Inilah kalimat yang membuat aku— entah apa kata yang tepat, aku tak tau. Kira-kira kalimatnya begini,” Yang memilih kalian semua untuk hadir di sini adalah Allah.
Mungkin, memang ada orang yang menyuruh kalian datang ke kelas ini. Orang itu hanyalah perantara. Datang atau tidaknya kalian, tidak akan berpengaruh pada mereka. Bukan mereka yang kecewa jika kalian tidak datang. Tapi, yang kecewa adalah yang telah memilih kalian.”

Aku benar-benar kaget, kawan. Aku tidak menyangka, bahwa itu yang akan keluar dari bibir seseorang yang berdiri di depan kelas itu. Aku katakan sekali lagi, bahwa aku kaget. Sekilas, aku teringat amanah-amanah dalam hidupku. KULIAH. Aku adalah seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi. Namaku telah terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di sana. Tapi, untuk beranjak pergi ke kampus saja, aku masih harus berdamai dengan perasaan— entah apa namanya, aku tak tau. Mungkin saja malas. Atau mungkin, tidak berminat.
Sungguh kawan, aku kaget dengan perkataan seseorang yang berdiri di depan kelas itu. Syukurku terlalu kecil untuk hidup yang sebahagia ini. Kufurku terlalu besar sebagai makhluk yang kecil. Entahlah kawan.

Biar pun begitu, ada satu hal yang cukup tertanam di benakku. Tentu, aku kembali diingatkan oleh perkataan itu. Aku ingin mencoba menjadi orang yang fokus dan tekun. Ya, tentu fokus dan tekun pada visi dan tujuanku. Fokus dan tekun pada hal-hal yang kusenangi. Aku baru sadar, kawan. Dengan tidak seriusnya aku menjalankan amanah yang ada di depanku, sebut saja kuliah— ternyata aku bukan mengkhianati atau pun membuat kecewa orang tuaku, keluargaku, atau pun orang-orang terdekatku. Sekali-kali bukan mereka. Tapi, jika aku berlaku tidak amanah, aku telah mengkhianati zat yang Maha Besar, aku telah membuat kecewa zat yang Maha Pengasih. Sungguh bodoh kawan, jika aku tetap menjadi makhluk kecil yang berlagak hebat. Aku kembali diingatkan lewat mulut itu.

Ingin sekali rasanya, aku menjadi orang yang membuat bangga zat yang telah memberiku kehidupan ini. Yang telah mempercayakan kehidupan ini pada jasad ini. Kawanku, semoga— nyawaku dan nyawamu akan selalu disibukkan dengan kebaikan. Dan semoga, akhir nyawaku dan akhir nyawamu, berakhir khusnul khatimah. Aamiin..

Sampai jumpa..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar