Wow!! Hari ini cukup melelahkan. Banyak
yang kuhadapi hari ini. Beragam orang telah kujumpai. Tiba saatnya aku kembali
bercerita padamu, kawan.
Di luar sana hujan deras. Aku katakan
padamu, bahwa aku lelah. Seharian sudah aku di luar rumah bersama teriknya
matahari dan sejuknya gerimis.
Tadi, saat aku sedang duduk mendengarkan
seseorang yang berbicara di depan kelas, aku sedikit tergelitik dengan
perkataannya. Tidak semua pembicaraannya yang tertangkap oleh telinga dan
otakku. Hanya beberapa saja. Inilah kalimat yang membuat aku— entah apa kata
yang tepat, aku tak tau. Kira-kira kalimatnya begini,” Yang memilih kalian
semua untuk hadir di sini adalah Allah.
Mungkin, memang ada orang yang menyuruh
kalian datang ke kelas ini. Orang itu hanyalah perantara. Datang atau tidaknya
kalian, tidak akan berpengaruh pada mereka. Bukan mereka yang kecewa jika
kalian tidak datang. Tapi, yang kecewa adalah yang telah memilih kalian.”
Aku benar-benar kaget, kawan. Aku tidak menyangka,
bahwa itu yang akan keluar dari bibir seseorang yang berdiri di depan kelas
itu. Aku katakan sekali lagi, bahwa aku kaget. Sekilas, aku teringat
amanah-amanah dalam hidupku. KULIAH. Aku adalah seorang mahasiswa di sebuah
perguruan tinggi. Namaku telah terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di sana.
Tapi, untuk beranjak pergi ke kampus saja, aku masih harus berdamai dengan
perasaan— entah apa namanya, aku tak tau. Mungkin saja malas. Atau mungkin,
tidak berminat.
Sungguh kawan, aku kaget dengan
perkataan seseorang yang berdiri di depan kelas itu. Syukurku terlalu kecil
untuk hidup yang sebahagia ini. Kufurku terlalu besar sebagai makhluk yang
kecil. Entahlah kawan.
Biar pun begitu, ada satu hal yang cukup
tertanam di benakku. Tentu, aku kembali diingatkan oleh perkataan itu. Aku
ingin mencoba menjadi orang yang fokus dan tekun. Ya, tentu fokus dan tekun
pada visi dan tujuanku. Fokus dan tekun pada hal-hal yang kusenangi. Aku baru
sadar, kawan. Dengan tidak seriusnya aku menjalankan amanah yang ada di
depanku, sebut saja kuliah— ternyata aku bukan mengkhianati atau pun membuat
kecewa orang tuaku, keluargaku, atau pun orang-orang terdekatku. Sekali-kali
bukan mereka. Tapi, jika aku berlaku tidak amanah, aku telah mengkhianati zat
yang Maha Besar, aku telah membuat kecewa zat yang Maha Pengasih. Sungguh bodoh
kawan, jika aku tetap menjadi makhluk kecil yang berlagak hebat. Aku kembali
diingatkan lewat mulut itu.
Ingin sekali rasanya, aku menjadi orang
yang membuat bangga zat yang telah memberiku kehidupan ini. Yang telah
mempercayakan kehidupan ini pada jasad ini. Kawanku, semoga— nyawaku dan
nyawamu akan selalu disibukkan dengan kebaikan. Dan semoga, akhir nyawaku dan
akhir nyawamu, berakhir khusnul khatimah.
Aamiin..
Sampai jumpa..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar