Kawanku, aku bahagia sekali malam ini.
Banyak senyum bertebaran di hadapanku. Senyum itu, membuatku menjadi semakin
cerah dan bersemangat.
Barusan, aku chat dengan seseorang yang cukup jauh di sana. Aku diberi tambahan
semangat. Dan lagi-lagi, aku kembali diingatkan. Dan kali ini, aku jamin,
diksinya benar (insyaAllah).
“Jika kamu memberikan sesuatu kepada
orang lain, ucapkan terima kasih dan do'akan dia. Jangan biarkan hanya dia yang
mendo'akan kamu dan jangan biarkan pemberianmu itu dibalas dengan pujiannya
yang sering membuatmu terlena dan terbawa perasaan 'bahwa saya telah
menolongnya'. Ucapkan terima kasih padanya, bukan menunggu terima kasih
darinya. Karena pada hakikatnya kitalah yang ditolongnya, dia telah merelakan
dirinya menjadi tanah dari benih kebaikan yang telah kita tanam.”
Aku tidak akan membahas soal itu. Kamu
tinggal baca saja. Aku yakin, analisa kamu lebih tinggi. Aku hanya mengabarkan,
bahwa aku kembali diingatkan.
Hei kawan. Siapa pun dia, aku jamin dia
pernah terpuruk. Pernah kehilangan semangat. Pernah ini, pernah itu. Aku yakin,
begitu juga denganku. Dan tentu, juga denganmu. Tapi, seburuk apa pun
kondisinya, aku jamin semuanya akan kembali baik. Karena, aku ingat ini “ Laa
yukallifullaahunafsan illaa wus’aha”. Ya, tepat sekali. Allah tidak akan
membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Oh!! Dia sedang
terpuruk? Sedang ditimpa masalah? Tidak apa. Dia sedang menjalani proses untuk
menjadi abdi yang semakin hebat lagi.
Kawanku, ada saatnya kita harus
menyimpan hal-hal yang kurang berguna jika kita keluarkan pada saat-saat
tertentu. Apa pun itu. Apakah itu kesal, rasa rindu, rasa bingung— atau apa pun
lah itu. Aku tidak memaksamu untuk sependapat denganku. Silakan kamu cari
jawabannya sendiri. Aku hanya ingin membagi apa yang bisa dan ingin kubagi.
Tanpa ada unsur paksaan tentunya. Ini semua aku tulis atau pun katakan, karena
semata-mata kau kawanku. Aku hanya ingin sama-sama belajar denganmu.
Benar kawan. Mungkin itulah yang
dinamakan sabar. Menyimpan rindu, butuh kesabaran. Menyimpan kekesalan, juga
butuh kesabaran. Menyimpan energi negatif, tentu juga butuh kesabaran. Maafkan
aku, jika diksinya asal, kurang tepat, atau tidak tepat sama sekali. Entahlah,
aku juga bingung, apa diksi yang tepat untuk mengungkapkan maksudku ini. Entah
itu menyimpan, meredam, atau menunda kehadirannya. Whatever lah itu. Aku yakin kamu paham.
Karena begini. Pada hakikatnya, manusia
itu sama. Tidak ada beda. Sebenarnya, aku dan kamu itu sama. Sama-sama dari
tanah. Sama-sama pernah hidup di alam rahim. Sorry, di sini aku tidak untuk membuat list persamaan kita. Aku hanya ingin tekankan itu.
Ya sudahlah, kawan. Aku hanya ingin
katakan itu tadi. Semoga, ini bermanfaat untuk update dan upgrade semangatku
dan juga semangatmu.
Tetap senyum dan semangat!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar