Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 12)

Kindly Bookmark and Share it:
Hari ini aku baru saja mengantar jenazah ke pemakaman umum. Semoga, aku sudah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang telah melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ramai bukan main, orang yang menyalatkan jenazah itu. Dalam hati aku berharap, semoga di saat aku yang menjadi si jenazah, banyak juga orang yang menyalatkanku. Aku harap.

Sekarang aku tidak akan membahas soal kematian. Tapi, hanya menyinggung sedikit tentang itu. Ingat! Hanya menyinggung.


Setelah selesai dikuburkan, aku pun pulang. Di perjalanan pulang, kamu tau apa yang kutemui? Ya, aku menemukan sebuah rumah yang tak jauh dari rumah almarhum yang baru saja dikuburkan, juga dalam kondisi berkabung. Sejenak aku berpikir. Hidup dan mati itu tidak ada bedanya dengan adzan, jika dilihat dari sudut pandang waktu. Kenapa?? Karena, adzan tidak pernah berhenti berkumandang di seluruh belahan dunia. Selesai di barat, dilanjutkan oleh timur. Selesai di timur, dilanjutkan oleh tenggara. Dan seterusnya. Jadi, bisa aku katakan, bahwa bumi ini telah diliputi oleh kumandang adzan yang tiada henti. Begitu juga dengan hidup dan mati, kurasa. Tiap waktu, ada orang yang lahir dan ada yang dikuburkan. Tentu, itu juga terjadi di seluruh belahan bumi.

Ya, aku sedikit membagi analisa pendekku itu padamu. Itu saja.

Baik, aku akan lanjut bercerita.

Sedikit aku ingin bertanya padamu. Kepada siapakah kamu bercerita? Aku tau, orang-orang di sekitarmu sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Kalau boleh aku menduga, kamu merasa sedikit sedih saat mereka tidak bisa mendengar ceritamu. Karena aku juga begitu.
Aku tau kawan, kamu punya segudang cerita yang hendak kamu bagi dengan kawan-kawanmu. Dengan saudara-saudaramu. Baguslah, jika kamu mengakuinya. Jika tidak, cobalah sedikit berlunak hati untuk mengakui kebutuhan-kebutuhanmu itu. Mudah saja. Apa reaksimu setelah bisa berbagi cerita dengan saudara-saudaramu? Senang dan bahagia, bukan? Itu sudah merupakan bukti, menurutku.

Silakan kamu ceritakan apa saja yang kamu rasa. Tapi sebelumnya, aku tidak memaksamu untuk bercerita. Aku hanya bilang, “Silakan kamu bercerita”. Terserah, kamu ingin bercerita seperti apa. Aku juga tidak memaksamu untuk mengganggu kesibukan mereka. Cukup tersenyum saja melihat kesibukan mereka. Sapalah mereka. Jika tidak bisa secara langsung, sapalah mereka lewat doa-doamu. Berceritalah kamu di sana. Minta pada Allah, semoga Dia sampaikan sapaan tulusmu ke bathin saudara-saudaramu.

Aku sarankan, tidak usah terlalu takut atau sedih saat mereka memiliki sedikit waktu untukmu. Itu wajar. Apakah kamu lupa?? Bukankah hidup ini adalah menebar kebaikan? Tentu, mereka disibukkan oleh kebaikan.
Atau, kamu juga bisa menuliskan ceritamu. Kira-kira sepertiku ini. Haha. Boleh-boleh saja, bukan? Tenang, aku juga tidak memaksamu untuk menulis. Karena, tanpa kamu sadari kamu sudah menjadi penulis hebat. Kamu telah tulis beribu kebaikan di buku amalmu. Ya, karena pada hakikatnya kitalah yang menulis buku amal itu. Buku yang akan dipertanggungjawabkan di hadapanNya.

Sudahlah kawan. sekarang begini saja. Jika kamu dipertemukan oleh Allah dengan saudara-saudaramu di tengah kesibukan itu, sapalah mereka dengan senyum dan bagilah apa yang kamu punya. Namun, jika belum dipertemukan, kamu tinggal kirimkan saja doa untuknya. Bercakaplah lewat doa. Berkomunikasilah dalam doa. Jika kamu rindu, katakan rindu dalam doamu. Jika kamu ingin bertemu, katakan pula itu dalam doamu. Karena, doalah kekuatan orang-orang yang berimana. Kamu tentu ingat itu, kawan.

Aku berkata begitu, karena aku juga mengalaminya. Aku harap kamu tidak lupakan bahwa kamu itu hebat. Aku juga berharap, kamu tetap menjadi kamu yang aku tau. Selalu optimis, kokoh terhadap pendirian, dan tersenyum melalui berbagai rintangan.

Ya, kapan-kapan aku cerita lagi. Aku pamit. Wassalam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar