Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 15)

Kindly Bookmark and Share it:
Aku sudah duga, kawan. Kamu sibuk dengan impianmu yang luar biasa itu. Tidak salah lagi dugaanku. Ternyata, kamu memang selalu disibukkan dalam kebaikan, dan semoga itu selalu, aamiin. Aku teramat bersyukur mendengar kabar itu darimu. Mendengarnya saja, sudah membangkitkan kembali semangat dan energi positifku. Syukurlah kawan, aku tidak terlalu lama dalam palung keterpurukan ini. Ya, aku yakin.

No problem. Aku banyak belajar dari semua yang kualami. Meski beberapa waktu yang lalu, aku merasa berada dalam hari-hari yang cukup sulit, tapi tak apa, kawan. Aku malah sangat bahagia. Hh! Lucu juga ternyata, saat aku mengingat saat kuterpuruk. Sempat aku kehilangan semangat—yang bagiku itulah hidupku. Aku terasa mati, jika tanpa semangat. Ya, semangat itu nyawaku.

Meski di waktu yang telah lampau aku tidak terima dengan kehidupanku saat itu, tapi Alhamdulillah sekarang aku bisa terima. Ya, aku juga butuh waktu untuk itu, kawan. Karena aku manusia.

Lagi-lagi aku harus ulangi, bahwa aku teramat gembira mendengar kabar darimu. Kabarmu itu, mengingatkanku pada sesuatu. Ya, sesuatu yang pernah kuucapkan dulu. Aku telah berjanji untuk memberi energi yang maksimal terhadap amanah-amanah dan mimpi-mimpiku. Ya, mimpi-mimpi kita. Aku harap, energi positif ini akan selalu bersemayam dalam jiwa maupun ragaku.

Aku salut denganmu, kawan. Kamu semakin membuka kedua mataku, bahwa yang terpenting dalam hidup ini bukanlah kamu ada untukku atau pun aku ada untukmu. Bukan, bukan itu kawan. Ya, Dia-lah yang selalu ada. Dalam gelap atau pun terang. Dalam sunyi atau pun keramaian. Ya, Dia-lah Allah. Ya, “Cukup bagiku Allah”. Kamu telah ingatkan aku tentang itu. Terima kasih kawan.

Aku sangat berharap, semoga aku dapat selalu menjaga semangat ini. Karena aku bukanlah anak kecil lagi. Aku tidak berharap—ada pundak tempatku bersandar. Juga tidak berharap ada tangan yang menghapus air mataku. Aku hanya berharap, semoga Allah meridhoi hidup dan matiku. Aamiin..

Satu lagi kawan. aku ada mengutip perkataan seseorang, “Dunia itu fana, kebahagiannya hanya segelintir dari kebahagian di surga”.

Semoga ceritaku ini, dapat membuka mataku dan juga matamu. Aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar