Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 18)

Kindly Bookmark and Share it:
Kawan, tidak ada yang menuntut kamu untuk harus selalu bersemangat. Boleh-boleh saja kamu murung. Boleh-boleh saja kamu malas. Aku rasa, tidak ada gunanya juga—semangat yang datangnya dipaksa. Malah sia-sia, menurutku. Tidak apa, kamu melewati kondisi apa pun itu—tidak selalu dengan semangat yang membara. Itu biasa. Ya, itu dinamika.

Karena, aku harus ingatkan ini padamu, kawan. Aku katakan, aku tidak suka paksaan. Benci?? Aku tidak membahasakan itu. Hanya tidak suka. Dan tentu, itu bukan caraku. Karena begini, kawan. Jika dipaksa, maka kamu akan berada di bawah tekanan—baik secara langsung maupun tidak. Aku beri contoh. Mmmm…misalnya seorang supir truk. Karena mengejar target, dia lebih memilih untuk memaksa melawan kantuknya yang teramat sangat. Apa pun bisa terjadi, kawan. Syukur-syukur, kalau dia selamat dan dapat mencapai target. Kalau tidak?? Mati pun bisa, bukan?? Nah, itulah bahayanya paksaan.


Jangankan untuk memaksa semangat agar harus tetap ada—dalam beragama saja tidak ada paksaan. Sudah jelas, itu firman Allah. Lalu, untuk apa kamu memaksakan diri terhadap sesuatu yang tidak kamu suka? Yang tidak kamu senangi? Dan yang kamu tidak ada rasa di sana? Ingatlah kembali, kawan.

Aku sarankan, kamu melakukan apa yang kamu senangi, dan maksimal-lah di situ. Tinggalkan segala sesuatu yang—kamu terpaksa melakukannya. Mungkin bisa saja kamu melaluinya. Tapi, yang aku sangsikan adalah, apakah kamu bisa mengambil hikmahnya? Aku rasa tidak. Karena, dalam melakukannya saja, sudah didasari oleh motif keterpaksaan. Bagaimana bisa kamu melirik hikmahnya, jika kamu sibuk berdamai dengan hatimu yang tertekan? Bukan begitu, kawan??

Tidak kawan. Bukanlah suatu kesalahan, jika kamu meninggalkan dirimu yang lalu itu. Lebih baik malah, kurasa. Ya, aku yakin kamu paham dengan apa yang kusampaikan.

Tersenyumlah kembali. Kemudian bangkit dan lakukan segala sesuatu dengan hati. Sukses untukmu, kawanku. Salam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar