Kawan, tidak ada yang menuntut kamu
untuk harus selalu bersemangat. Boleh-boleh saja kamu murung. Boleh-boleh saja
kamu malas. Aku rasa, tidak ada gunanya juga—semangat yang datangnya dipaksa.
Malah sia-sia, menurutku. Tidak apa, kamu melewati kondisi apa pun itu—tidak
selalu dengan semangat yang membara. Itu biasa. Ya, itu dinamika.
Karena, aku harus ingatkan ini padamu,
kawan. Aku katakan, aku tidak suka paksaan. Benci?? Aku tidak membahasakan itu.
Hanya tidak suka. Dan tentu, itu bukan caraku. Karena begini, kawan. Jika
dipaksa, maka kamu akan berada di bawah tekanan—baik secara langsung maupun
tidak. Aku beri contoh. Mmmm…misalnya seorang supir truk. Karena mengejar
target, dia lebih memilih untuk memaksa melawan kantuknya yang teramat sangat.
Apa pun bisa terjadi, kawan. Syukur-syukur, kalau dia selamat dan dapat
mencapai target. Kalau tidak?? Mati pun bisa, bukan?? Nah, itulah bahayanya
paksaan.
Jangankan untuk memaksa semangat agar
harus tetap ada—dalam beragama saja tidak ada paksaan. Sudah jelas, itu firman
Allah. Lalu, untuk apa kamu memaksakan diri terhadap sesuatu yang tidak kamu
suka? Yang tidak kamu senangi? Dan yang kamu tidak ada rasa di sana? Ingatlah
kembali, kawan.
Aku sarankan, kamu melakukan apa yang
kamu senangi, dan maksimal-lah di situ. Tinggalkan segala sesuatu yang—kamu
terpaksa melakukannya. Mungkin bisa saja kamu melaluinya. Tapi, yang aku
sangsikan adalah, apakah kamu bisa mengambil hikmahnya? Aku rasa tidak. Karena,
dalam melakukannya saja, sudah didasari oleh motif keterpaksaan. Bagaimana bisa
kamu melirik hikmahnya, jika kamu sibuk berdamai dengan hatimu yang tertekan?
Bukan begitu, kawan??
Tidak kawan. Bukanlah suatu kesalahan,
jika kamu meninggalkan dirimu yang lalu itu. Lebih baik malah, kurasa. Ya, aku
yakin kamu paham dengan apa yang kusampaikan.
Tersenyumlah kembali. Kemudian bangkit
dan lakukan segala sesuatu dengan hati. Sukses untukmu, kawanku. Salam..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar