Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 20)

Kindly Bookmark and Share it:
Aku mendapat percikan kebahagiaan dari sisi Allah lewat sebuah kiriman. Ya, kiriman dari saudaraku. Sebut saja—sms. Aku hanya bisa tersenyum saat selesai membacanya. Sungguh, aku semakin sadar—bahwa tidak perlu minta ini atau pun minta itu kepada Allah. Minta saja diberikan yang terbaik.

Dulu, aku coba untuk minta sesuatu. Itu….itu saja yang selalu kuminta. Aku lupa, apakah Allah setuju dengan pintaku itu atau tidak?? Bagaimana bisa aku mengetahuinya? Aku rasa, pintaku itu—hanyalah keinginan dari seorang makhluk yang tidak akan pernah puas. Maka, mulai saat itu—aku mencoba untuk melunakkan hatiku untuk mengubah diksi doaku. Aku ganti dengan meminta yang terbaik dari Allah untukku. Dan kenyataannya, aku merasa bahagia. Karena memang benar, yang mengetahui kebutuhan ciptaanNya, adalah pencipta makhluk itu sendiri.


Untuk apa meminta apa yang kita inginkan, namun pada kenyataannya kita tidak membutuhkannya? Lebih baik meminta yang sederhana—alias tidak muluk-muluk. Memang—Allah akan senantiasa mengabulkan permohonan hambaNya. Tapi, tentu kita harus ingat juga  kawan, bahwa kita adalah manusia. Kamu tentu tau bukan?? Bagaimana jika manusia tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan? Terpurukkah? Bersedihkah? Dan bukan tidak mungkin juga akan putus asa. Tidak ada salahnya kurasa, jika kita meminimalisir perasaan-perasaan negatif itu—dengan memperbaiki niat dan tujuan kita. Aku rasa, kita tidak bertujuan untuk selain Allah. Hanya saja, kurasa kita sering lupa. Jika tujuanmu cinta, tanpa kamu sadari tujuanmu adalah Allah. Karena Allah-lah pemilik segala cinta. Kemudian, jika tujuanmu bahagia, maka sesungguhnya tujuanmu pun adalah Allah. Karena, juga Allah-lah pemilik segala kebahagiaan. Apa pun itu. Cobalah lunakkan hatimu untuk mengakuinya. Dan tentu, juga hatiku.

Oh! Hampir lupa memberi tahumu sms itu. Sayang rasanya, jika tidak kubagi denganmu. Semoga, ini dapat menambah butiran cinta dan semangatmu.

Ukhuwah is not what you get, but what you give. Not how you listen, but how you understand. Not what you see, but how you feel. Not how you let go, but how you hold on..

Indah bukan?? Ya, akui saja. Hha. Tenang, aku tidak memaksa..
Aku cukup tertegun saat membaca sms itu. Aku sempat menoleh ke belakang, melihat diriku di masa lalu. Sungguh, kawan. Allah begitu menyayangiku. Sekarang aku sadar, Allah memang memberi apa yang aku butuhkan. Dengan aku coba untuk menjalani hidup ini sebaik mungkin, aku semakin merasa tenang dan lebih baik hari ke hari. Dan semakin aku tidak banyak tuntutan kepada Allah dengan pinta-pintaku yang tidak jelas itu, aku juga merasa lebih tenang dan semakin baik. Karena, sejatinya kita hendaknya menikmati seluruh kondisi yang dihadapkan pada kita. Bukan malah mengumpat dan menghujat Allah dengan perkataan yang tidak semestinya kita ucapkan.

Aku akui, itu adalah diriku. Dan semoga itu adalah diriku di masa lalu, kuharap.

Ah, sudahlah kawan. Aku hanya ingin menyampaikan itu. Karena, dengan aku dan kamu menikmati hidup ini, secara tidak langsung kita telah mensyukuri pemberian Allah. Ya, kita telah mensyukuri nyawa ini.

Oke kawan, aku sudahi. Semoga, aku dan kamu senantiasa bisa menikmati dan mensyukuri nafas ini. aamiin..
Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar