Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 19)

Kindly Bookmark and Share it:
Dewasa?? Ada yang tau arti kata itu? Tolong beritahu aku. Sampai saat ini aku belum bisa ungkapkan makna kata itu. Entah aku sudah pernah merasakannya entah belum.

Berkali-kali aku jatuh bangun dalam usahaku berdamai dengan hidup ini. Saat jatuh, terpuruk sekali rasanya. Namun, saat bisa bangkit—rasanya aku telah menjadi seorang pemenang. Aku saja bingung dengan diriku. Di saat-saat tertentu, aku bisa mengatasi apa pun yang sedang kuhadapi. Tapi, di kondisi yang kurasa kurang lebih sama—namun di waktu yang berbeda, aku merasa tidak bisa mengatasi apa yang kuhadapi. Tidak jarang pula, aku menuntut sekitarku untuk menjadikan aku mampu dan bisa menghadapi serta mengatasi masalah-masalah yang kuhadapi. Kadang, aku tertawa sendiri. Bisa-bisanya aku menuntut orang untuk dapat membuatku mampu. Lucu bukan??


Tidak juga kupungkiri. Terkadang, diriku juga mampu tanpa harus menuntut sekitarku. Dan tahukah kamu, kawan?? Mulailah pikiranku melanglang buana. Berpikir, mengapa itu bisa terjadi. Ada saatnya aku bisa—entah apa itu namanya, dewasa mungkin—menanggapi sesuatu. Tapi, juga tak jarang aku merasa menjadi seperti anak-anak. Aku rasa, dengan adanya tuntutanku terhadap sekitarku, aku telah membuka peluang bagi diriku untuk menjadi sosok yang manja. Yang kurasa, itu belum dewasa. Karena, aku yakin—perbuatanku tidaklah pada tempatnya.

Kemudian, berkali-kali aku dihadapkan pada jatuh bangun yang berkepanjangan. Sampai, suatu hari aku menemukan ini. “Islam-lah yang mendewasakanku”. Tunggu kawan. Tolong tidak usah berkomentar dulu. Aku akan jelaskan.

Saat kedua orang tuaku telah dicabut nyawanya oleh malaikat—yang tentu atas perintah Allah, aku merasakan sedih yang teramat sangat. Pedih yang sangat menyayat. Bagaimana tidak? Manusia tempatku bergantung selama ini, sudah tidak ada lagi. Saat aku dihadapkan pada kondisi seperti itu, maka pilihan ada di tanganku. Ingin terus-terusan berada dalam keranda duka, atau malah bangkit dan melanjutkan langkah kakiku. Sabar. Allah mencintai orang-orang yang sabar. Maka, aku pilih itu—sabar. Dan memang benar kawan, aku merasa lebih baik.

Kemudian, saat aku bertemu dengan saudara-saudaraku. Kamu tentu tau, kawan? Aku akan sangat bahagia, jika selalu dapat bersama dengan saudara-saudaraku. Tentu, aku juga dihadapkan pada pilihan. Bisa saja, aku luapkan kebahagiaanku selepas-lepasnya saat itu. Maka, resikonya adalah—aku akan merasakan kesepian yang teramat sangat, jika mereka sudah tidak di sampingku. Maka, aku lebih memilih untuk menikmati kebersamaan kami dengan ekspresi yang sederhana—tidak berlebihan. Karena, Allah tidak suka orang-orang yang berlebihan. Termasuk dalam mengekspresikan kebahagiaan sekali pun. Dan Alhamdulillah, aku juga merasa lebih baik.

Nah, mulai saat ini, aku berani katakan, bahwa “Islam-lah yang mendewasakanku”. Dengan mengikuti apa-apa yang telah tertuang dalam Al-Qur’an dan Sunnah, nyatanya aku merasa lebih baik. Sudah tidak penting lagi bagiku, menuntut sekitarku agar membuatku menjadi mampu.

Maka, aku sampaikan padamu, kawan. Aku telah menemukan makna kata dewasa itu. Dewasa bukanlah tidak manja. Tapi, dewasa itu adalah bijak dan adil. Tidak tergesa-gesa dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Sesuai dengan porsi dan kebutuhannya.

Semoga saja, aku dan kamu akan semakin bisa membuka mata—bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar