Dewasa?? Ada yang tau arti kata itu?
Tolong beritahu aku. Sampai saat ini aku belum bisa ungkapkan makna kata itu.
Entah aku sudah pernah merasakannya entah belum.
Berkali-kali aku jatuh bangun dalam
usahaku berdamai dengan hidup ini. Saat jatuh, terpuruk sekali rasanya. Namun,
saat bisa bangkit—rasanya aku telah menjadi seorang pemenang. Aku saja bingung
dengan diriku. Di saat-saat tertentu, aku bisa mengatasi apa pun yang sedang
kuhadapi. Tapi, di kondisi yang kurasa kurang lebih sama—namun di waktu yang
berbeda, aku merasa tidak bisa mengatasi apa yang kuhadapi. Tidak jarang pula,
aku menuntut sekitarku untuk menjadikan aku mampu dan bisa menghadapi serta
mengatasi masalah-masalah yang kuhadapi. Kadang, aku tertawa sendiri.
Bisa-bisanya aku menuntut orang untuk dapat membuatku mampu. Lucu bukan??
Tidak juga kupungkiri. Terkadang, diriku
juga mampu tanpa harus menuntut sekitarku. Dan tahukah kamu, kawan?? Mulailah
pikiranku melanglang buana. Berpikir, mengapa itu bisa terjadi. Ada saatnya aku
bisa—entah apa itu namanya, dewasa mungkin—menanggapi sesuatu. Tapi, juga tak
jarang aku merasa menjadi seperti anak-anak. Aku rasa, dengan adanya tuntutanku
terhadap sekitarku, aku telah membuka peluang bagi diriku untuk menjadi sosok
yang manja. Yang kurasa, itu belum dewasa. Karena, aku yakin—perbuatanku
tidaklah pada tempatnya.
Kemudian, berkali-kali aku dihadapkan
pada jatuh bangun yang berkepanjangan. Sampai, suatu hari aku menemukan ini.
“Islam-lah yang mendewasakanku”. Tunggu kawan. Tolong tidak usah berkomentar
dulu. Aku akan jelaskan.
Saat kedua orang tuaku telah dicabut
nyawanya oleh malaikat—yang tentu atas perintah Allah, aku merasakan sedih yang
teramat sangat. Pedih yang sangat menyayat. Bagaimana tidak? Manusia tempatku
bergantung selama ini, sudah tidak ada lagi. Saat aku dihadapkan pada kondisi
seperti itu, maka pilihan ada di tanganku. Ingin terus-terusan berada dalam
keranda duka, atau malah bangkit dan melanjutkan langkah kakiku. Sabar. Allah
mencintai orang-orang yang sabar. Maka, aku pilih itu—sabar. Dan memang benar
kawan, aku merasa lebih baik.
Kemudian, saat aku bertemu dengan
saudara-saudaraku. Kamu tentu tau, kawan? Aku akan sangat bahagia, jika selalu
dapat bersama dengan saudara-saudaraku. Tentu, aku juga dihadapkan pada
pilihan. Bisa saja, aku luapkan kebahagiaanku selepas-lepasnya saat itu. Maka,
resikonya adalah—aku akan merasakan kesepian yang teramat sangat, jika mereka
sudah tidak di sampingku. Maka, aku lebih memilih untuk menikmati kebersamaan
kami dengan ekspresi yang sederhana—tidak berlebihan. Karena, Allah tidak suka
orang-orang yang berlebihan. Termasuk dalam mengekspresikan kebahagiaan sekali
pun. Dan Alhamdulillah, aku juga
merasa lebih baik.
Nah, mulai saat ini, aku berani katakan,
bahwa “Islam-lah yang mendewasakanku”. Dengan mengikuti apa-apa yang telah
tertuang dalam Al-Qur’an dan Sunnah, nyatanya aku merasa lebih baik. Sudah
tidak penting lagi bagiku, menuntut sekitarku agar membuatku menjadi mampu.
Maka, aku sampaikan padamu, kawan. Aku
telah menemukan makna kata dewasa itu. Dewasa bukanlah tidak manja. Tapi,
dewasa itu adalah bijak dan adil. Tidak tergesa-gesa dan meletakkan segala
sesuatu pada tempatnya. Sesuai dengan porsi dan kebutuhannya.
Semoga saja, aku dan kamu akan semakin
bisa membuka mata—bahwa Islam adalah rahmatan
lil ‘alamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar