Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 17)

Kindly Bookmark and Share it:
Malam ini aku sedang tidak bisa tidur. Hmmm..mungkin tepatnya belum ingin tidur. Aku baru saja pulang dari luar rumah. Aku berkeliling kota—tempat dimana aku tinggal. Sungguh banyak fenomena malam hari yang tidak bisa didapatkan pada siang hari. Aku hanya sedang ingin melanglang buana bersama saudara-saudaraku. Kebetulan, mereka sedang ada di sampingku. Tidak ada salahnya kurasa, jika pergi sejenak.

Ya, aku hanya memberitahumu tentang itu. Karena, aku tak akan membahas lebih lanjut soal perjalananku sebelumku menulis ini.


Aku teringat seseorang yang berkata tentang sesuatu yang penting, menurutku. Meski, beliau memulai pembicaraannya denga teori-teori fisika—yang jelas tidak kusuka. Mungkin diksi yang lebih tepat—yang tidak nyambung dengan otakku. Tapi, tak apalah—karena lewat pembicaraan beliau aku mendapat pelajaran yang—bagiku amat berharga.

Baik, aku akan mulai. Begini. Oh! Maaf kawan. Aku tidak akan membahas mekanika, cermin, lensa, atau apa namanya. Aku hanya akan menyampaikan hal berharga yang kudapat itu.

Hidup ini akan tetap ada, meski kamu sudah tiada. Kebaikan-kebaikan ini, juga akan tetap ada, meski kamu juga telah tiada. Karena, usia perjalanan kebaikan ini, lebih panjang dari usiamu. Tidak hanya itu. Meski kamu tetap ada—namun tidak setia di jalan kebenaran dan kebaikan, maka kamu akan tercampak. Kamu akan diganti oleh Allah dengan sosok yang lebih tegar dan kuat. Karena, bukan kebaikanlah yang membutuhkanmu. Melainkan, kamulah yang membutuhkan kebaikan itu. Karena, yakinlah kawan, hidupmu akan selalu galau jika kamu jauh dari kebaikan. Hidupmu ku jamin akan berantakan. Maaf, bukan maksudku mengguruimu. Ini bukanlah semata-mata kutujukan padamu. Lebih dari itu semua, ini adalah untuk diriku juga.

Ya, dialah jalan Allah. Jalan yang telah ditempuh oleh para nabi dan rasul. Tentu, kamu tidak usah pusing untuk mempelajarinya. Karena, semuanya sudah tertuang dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Tinggal di kamunya. Mau berkawan dengan pusaka itu, atau malah tidak . Itu terserah kamu. Karena ini, adalah hidupmu.

Kemudian, aku hanya ingin mengingatkan diriku dan juga dirimu. Ikhlas. Tidak penting besar kecilnya sesuatu yang kita lakukan. Oh! Aku sarankan, tidak usah membandingkan seberapa besar tanggung jawabmu dengan tanggung jawab presiden, mentri, atau pun ulama. Yang penting itu adalah, ikhlas tidaknya aku atau pun kamu dalam berbuat. Mungkin memang bisa, seorang presiden menjadikan lahan pekerjaannya sebagai pembawa langkah kakinya menuju surga Allah. Namun, kamu juga harus ingat kawan. Bukan tidak mungkin, seorang pemungut sampah—juga dapat menginjakkan kakinya di surga Allah, lewat pekerjaannya itu. Karena, pada hakikatnya, kita tidak tau apa yang akan membawa kita, untuk dapat menginjakkan kaki ini di surga Allah.

Sungguh, keikhlasan itu sangat mahal harganya. Mahal karena sulit menerapkannya, dan juga mahal—karena balasannya yang begitu indah.

Apa pun itu, semoga aku dan kamu selalu ikhlas dalam menerima atau pun melakukannya. Aamiin..
Wassalam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar