Malam ini aku sedang tidak bisa tidur.
Hmmm..mungkin tepatnya belum ingin tidur. Aku baru saja pulang dari luar rumah.
Aku berkeliling kota—tempat dimana aku tinggal. Sungguh banyak fenomena malam
hari yang tidak bisa didapatkan pada siang hari. Aku hanya sedang ingin
melanglang buana bersama saudara-saudaraku. Kebetulan, mereka sedang ada di
sampingku. Tidak ada salahnya kurasa, jika pergi sejenak.
Ya, aku hanya memberitahumu tentang itu.
Karena, aku tak akan membahas lebih lanjut soal perjalananku sebelumku menulis
ini.
Aku teringat seseorang yang berkata
tentang sesuatu yang penting, menurutku. Meski, beliau memulai pembicaraannya
denga teori-teori fisika—yang jelas tidak kusuka. Mungkin diksi yang lebih
tepat—yang tidak nyambung dengan otakku. Tapi, tak apalah—karena lewat
pembicaraan beliau aku mendapat pelajaran yang—bagiku amat berharga.
Baik, aku akan mulai. Begini. Oh! Maaf
kawan. Aku tidak akan membahas mekanika, cermin, lensa, atau apa namanya. Aku
hanya akan menyampaikan hal berharga yang kudapat itu.
Hidup ini akan tetap ada, meski kamu
sudah tiada. Kebaikan-kebaikan ini, juga akan tetap ada, meski kamu juga telah
tiada. Karena, usia perjalanan kebaikan ini, lebih panjang dari usiamu. Tidak
hanya itu. Meski kamu tetap ada—namun tidak setia di jalan kebenaran dan
kebaikan, maka kamu akan tercampak. Kamu akan diganti oleh Allah dengan sosok
yang lebih tegar dan kuat. Karena, bukan kebaikanlah yang membutuhkanmu.
Melainkan, kamulah yang membutuhkan kebaikan itu. Karena, yakinlah kawan,
hidupmu akan selalu galau jika kamu jauh dari kebaikan. Hidupmu ku jamin akan
berantakan. Maaf, bukan maksudku mengguruimu. Ini bukanlah semata-mata
kutujukan padamu. Lebih dari itu semua, ini adalah untuk diriku juga.
Ya, dialah jalan Allah. Jalan yang telah
ditempuh oleh para nabi dan rasul. Tentu, kamu tidak usah pusing untuk
mempelajarinya. Karena, semuanya sudah tertuang dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Tinggal di kamunya. Mau berkawan dengan pusaka itu, atau malah tidak . Itu
terserah kamu. Karena ini, adalah hidupmu.
Kemudian, aku hanya ingin mengingatkan
diriku dan juga dirimu. Ikhlas. Tidak penting besar kecilnya sesuatu yang kita
lakukan. Oh! Aku sarankan, tidak usah membandingkan seberapa besar tanggung
jawabmu dengan tanggung jawab presiden, mentri, atau pun ulama. Yang penting
itu adalah, ikhlas tidaknya aku atau pun kamu dalam berbuat. Mungkin memang
bisa, seorang presiden menjadikan lahan pekerjaannya sebagai pembawa langkah kakinya
menuju surga Allah. Namun, kamu juga harus ingat kawan. Bukan tidak mungkin,
seorang pemungut sampah—juga dapat menginjakkan kakinya di surga Allah, lewat
pekerjaannya itu. Karena, pada hakikatnya, kita tidak tau apa yang akan membawa
kita, untuk dapat menginjakkan kaki ini di surga Allah.
Sungguh, keikhlasan itu sangat mahal
harganya. Mahal karena sulit menerapkannya, dan juga mahal—karena balasannya
yang begitu indah.
Apa pun itu, semoga aku dan kamu selalu
ikhlas dalam menerima atau pun melakukannya. Aamiin..
Wassalam..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar