Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 21)

Pernah aku begitu terobsesi menjadi manusia yang sempurna. Sempurna kemampuannya, sempurna gaya hidupnya, sempurna segala sisi kehidupannya. Jika boleh jujur, aku mengalami kesulitan dalam menjalaninya. Gerak langkahku menjadi tidak natural—dibuat-buat rasanya. Tidak hanya itu. Aku juga terbebani dalam menjalaninya. Maka, aku putuskan untuk mengevaluasi dan memperbaiki tujuanku.

Dan memang benar. Itu saja, sudah kuawali dari sebuah obsesi. Tentu, tidak tepat kurasa. Karena, hidup ini bukan obsesi. Hidup adalah cinta yang berisi penuh dengan pengorbanan dan pengabdian. Syukurlah, aku sadar itu.

Aku dan Aku (# 20)

Aku mendapat percikan kebahagiaan dari sisi Allah lewat sebuah kiriman. Ya, kiriman dari saudaraku. Sebut saja—sms. Aku hanya bisa tersenyum saat selesai membacanya. Sungguh, aku semakin sadar—bahwa tidak perlu minta ini atau pun minta itu kepada Allah. Minta saja diberikan yang terbaik.

Dulu, aku coba untuk minta sesuatu. Itu….itu saja yang selalu kuminta. Aku lupa, apakah Allah setuju dengan pintaku itu atau tidak?? Bagaimana bisa aku mengetahuinya? Aku rasa, pintaku itu—hanyalah keinginan dari seorang makhluk yang tidak akan pernah puas. Maka, mulai saat itu—aku mencoba untuk melunakkan hatiku untuk mengubah diksi doaku. Aku ganti dengan meminta yang terbaik dari Allah untukku. Dan kenyataannya, aku merasa bahagia. Karena memang benar, yang mengetahui kebutuhan ciptaanNya, adalah pencipta makhluk itu sendiri.

Aku dan Aku (# 19)

Dewasa?? Ada yang tau arti kata itu? Tolong beritahu aku. Sampai saat ini aku belum bisa ungkapkan makna kata itu. Entah aku sudah pernah merasakannya entah belum.

Berkali-kali aku jatuh bangun dalam usahaku berdamai dengan hidup ini. Saat jatuh, terpuruk sekali rasanya. Namun, saat bisa bangkit—rasanya aku telah menjadi seorang pemenang. Aku saja bingung dengan diriku. Di saat-saat tertentu, aku bisa mengatasi apa pun yang sedang kuhadapi. Tapi, di kondisi yang kurasa kurang lebih sama—namun di waktu yang berbeda, aku merasa tidak bisa mengatasi apa yang kuhadapi. Tidak jarang pula, aku menuntut sekitarku untuk menjadikan aku mampu dan bisa menghadapi serta mengatasi masalah-masalah yang kuhadapi. Kadang, aku tertawa sendiri. Bisa-bisanya aku menuntut orang untuk dapat membuatku mampu. Lucu bukan??

Aku dan Aku (# 18)

Kawan, tidak ada yang menuntut kamu untuk harus selalu bersemangat. Boleh-boleh saja kamu murung. Boleh-boleh saja kamu malas. Aku rasa, tidak ada gunanya juga—semangat yang datangnya dipaksa. Malah sia-sia, menurutku. Tidak apa, kamu melewati kondisi apa pun itu—tidak selalu dengan semangat yang membara. Itu biasa. Ya, itu dinamika.

Karena, aku harus ingatkan ini padamu, kawan. Aku katakan, aku tidak suka paksaan. Benci?? Aku tidak membahasakan itu. Hanya tidak suka. Dan tentu, itu bukan caraku. Karena begini, kawan. Jika dipaksa, maka kamu akan berada di bawah tekanan—baik secara langsung maupun tidak. Aku beri contoh. Mmmm…misalnya seorang supir truk. Karena mengejar target, dia lebih memilih untuk memaksa melawan kantuknya yang teramat sangat. Apa pun bisa terjadi, kawan. Syukur-syukur, kalau dia selamat dan dapat mencapai target. Kalau tidak?? Mati pun bisa, bukan?? Nah, itulah bahayanya paksaan.

Aku dan Aku (# 17)

Malam ini aku sedang tidak bisa tidur. Hmmm..mungkin tepatnya belum ingin tidur. Aku baru saja pulang dari luar rumah. Aku berkeliling kota—tempat dimana aku tinggal. Sungguh banyak fenomena malam hari yang tidak bisa didapatkan pada siang hari. Aku hanya sedang ingin melanglang buana bersama saudara-saudaraku. Kebetulan, mereka sedang ada di sampingku. Tidak ada salahnya kurasa, jika pergi sejenak.

Ya, aku hanya memberitahumu tentang itu. Karena, aku tak akan membahas lebih lanjut soal perjalananku sebelumku menulis ini.

Aku dan Aku (# 16)

Kawanku, aku sungguh ingin sekali menjadi orang yang berguna. Aku yakin, dengan apa yang kupunya, aku bisa. Meski ku tau, aku bukanlah siapa-siapa jika dibandingkan dengan mereka. Tak apa. Aku bahagia dengan hidupku ini.

Aku tau, tidak seharusnya aku berharap kepada selain Allah. Aku akui, ini terasa berat—tanpa ada orang tua di sampingku. Saudara-saudaraku, juga begitu—tidak di sampingku. Biar pun begitu, aku terima. Aku ikhlas kawan. Tak apa bagiku. Aku sangat berharap, aku berada dalam ridhoNya. Karena, aku yakin—mulianya seseorang di mata manusia, tidak jaminan dia juga mulia di mata Allah. Begitu juga sebaliknya. Seorang wanita pezina saja, dapat masuk surga Allah, hanya karena tulus memberi minum seekor anjing. Biar pun aku begini—tak lebih baik darimu, namun ku yakin dan percaya dengan janji Allah.

Aku dan Aku (# 15)

Aku sudah duga, kawan. Kamu sibuk dengan impianmu yang luar biasa itu. Tidak salah lagi dugaanku. Ternyata, kamu memang selalu disibukkan dalam kebaikan, dan semoga itu selalu, aamiin. Aku teramat bersyukur mendengar kabar itu darimu. Mendengarnya saja, sudah membangkitkan kembali semangat dan energi positifku. Syukurlah kawan, aku tidak terlalu lama dalam palung keterpurukan ini. Ya, aku yakin.

No problem. Aku banyak belajar dari semua yang kualami. Meski beberapa waktu yang lalu, aku merasa berada dalam hari-hari yang cukup sulit, tapi tak apa, kawan. Aku malah sangat bahagia. Hh! Lucu juga ternyata, saat aku mengingat saat kuterpuruk. Sempat aku kehilangan semangat—yang bagiku itulah hidupku. Aku terasa mati, jika tanpa semangat. Ya, semangat itu nyawaku.