Pernah aku begitu terobsesi menjadi
manusia yang sempurna. Sempurna kemampuannya, sempurna gaya hidupnya, sempurna
segala sisi kehidupannya. Jika boleh jujur, aku mengalami kesulitan dalam
menjalaninya. Gerak langkahku menjadi tidak natural—dibuat-buat rasanya. Tidak
hanya itu. Aku juga terbebani dalam menjalaninya. Maka, aku putuskan untuk
mengevaluasi dan memperbaiki tujuanku.
Dan memang benar. Itu saja, sudah
kuawali dari sebuah obsesi. Tentu, tidak tepat kurasa. Karena, hidup ini bukan
obsesi. Hidup adalah cinta yang berisi penuh dengan pengorbanan dan pengabdian.
Syukurlah, aku sadar itu.