Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 8)

Entah kenapa, aku tiba-tiba merasa jenuh dengan hidupku. Aku merasa tidak ada inovasi. Tidak ada hal-hal baru yang kutemui. Itu ke itu saja yang kutemui. Sungguh, mungkin ini yang namanya jenuh. Tiap harinya aku hanya menghadapi itu ke itu saja. Aku bosan.

Hhhh….
Kamu selalu ingatkan aku dengan hidup dengan gaya yang sederhana. Tapi, apalah namanya ini? Aku tidak yakin— bahwa penyebab hidupku jenuh, bukanlah gaya hidupku yang— entah iya entah tidak tergolong ke dalam kategori sederhana.

Aku dan Aku (# 7)


Wow!! Hari ini cukup melelahkan. Banyak yang kuhadapi hari ini. Beragam orang telah kujumpai. Tiba saatnya aku kembali bercerita padamu, kawan.

Di luar sana hujan deras. Aku katakan padamu, bahwa aku lelah. Seharian sudah aku di luar rumah bersama teriknya matahari dan sejuknya gerimis.
Tadi, saat aku sedang duduk mendengarkan seseorang yang berbicara di depan kelas, aku sedikit tergelitik dengan perkataannya. Tidak semua pembicaraannya yang tertangkap oleh telinga dan otakku. Hanya beberapa saja. Inilah kalimat yang membuat aku— entah apa kata yang tepat, aku tak tau. Kira-kira kalimatnya begini,” Yang memilih kalian semua untuk hadir di sini adalah Allah.

Aku dan Aku (# 6)


Hai kawan.
Apa kabar? Apakah akhir-akhir ini kamu sibuk sekali? Sibuk boleh-boleh saja. Tapi kamu harus ingat kesehatanmu. Aku bahagia melihatmu dapat melakukan hal-hal berarti setiap harinya. Karena, jika kamu semangat, aku juga akan lebih semangat.

Akhir-akhir ini aku jarang melihatmu. Aku tau bahwa kita sama-sama sibuk. Semoga kita selalu disibukkan dalam kebaikan, aamiin.

Aku dan Aku (# 5)


Subhanallah..
Aku suka pagi hari. Aku suka matahari.

Sungguh, suatu kebahagiaan besar bagiku dapat menikmati udara sepertiga malam. Eh, sedikit ralat. Udara di ujung sepertiga malam. Maklum, aku masih belajar. Aku baru akan menuju seperti orang-orang shalih. Doakan ya..

Rasanya, seperti disiram air sejuk yang begitu membangkitkan energi-energi positifku. Setelah sekian lama aku hidup dalam terangnya pagi, baru kali ini perjuanganku berhasil. Semoga, tidak kali ini saja. Aku harap, ini akan menjadi kehidupanku selalu. Aamiin..

Aku dan Aku (# 4)


Salam kawan. Senang sekali bisa bertemu kembali.
Saat ini aku akan menceritakan sesuatu padamu.

Hari ini adalah hari yang begitu kompleks. Banyak yang kutemui hari ini. Banyak rasa yang mengalir di pembuluh darah seluruh tubuhku.

Tadi, baru saja aku sampai di rumah, setelah mengikuti sidang umum. Katanya, ini adalah forum pengambilan keputusan tertinggi. Tepat sekali, aku mendapat posisi sebagai pengamat. Ya, aku bersyukur, karena aku diberi kesempatan masuk ke ruangan itu, meski hanya untuk mengamati. Sekarang aku tidak akan membahas jalannya sidang, siapa presidiumnya, atau pun komunikasi yang cukup alot.

Aku dan Aku (# 3)


Banyak cara untuk menemukan makna cinta. Caraku tentu berbeda dengan caramu. Bisa jadi, cinta bagiku belum tentu berarti cinta juga bagimu. Aku tidak mempersoalkan tentang itu. Terserah, yang penting dia tetaplah cinta. Siapa saja berhak atasnya. Soal cara, itu jelas berbeda.

Cinta. Aku tidak akan membahas tentang versi cinta oleh aku, kamu, atau pun mereka. Karena, aku tak berminat untuk itu.

Aku dan Aku (# 2)


Siapa yang mengajarimu hidup? Bapak Ibumu? Adik kakakmu? Teman-temanmu?

Bukan kawan. Bukan mereka yang mengajarimu hidup. Tapi, kamulah yang belajar tentang kehidupan ini sendiri. Coba kamu renungkan kembali. Andaikan mereka tidak ada, apa kamu akan berhenti untuk tetap belajar dalam hidup ini? Tentu tidak bukan? Maka, segera perbaiki mindset kamu tentang itu. Kamu tidak boleh bergantung kepada mereka. Ingat! Mereka adalah titipan. Hidupmu masih akan tetap berlanjut tanpa mereka. Termasuk, kamu akan tetap belajar tentang hidup ini.