Berawal disaat itu. Seseorang memberi nomor handphone mu padaku. Saat itu biasa
saja. Tak ada yang istimewa—begitu aku merasa. Ya, dirimu tahu presdir—aku
bukanlah orang yang penuh dengan kelembutan. Namun, aku hanya pandai berterus
terang. Ya, walau terkadang keberterusteranganku itu, belum pada tempatnya. Maklum,
aku masih belajar.
Hari itu, aku takut untuk menemuimu. Walau sebenarnya,
mungkin kamu sedang menunggu. Ya, kamu tahu—saat itu aku benar-benar sedang
terpuruk. Takut—kalau-kalau akan membuat kesalahan jika aku datang. Maka aku
putuskan untuk tidak datang dan juga tidak memberi kabar.
Namun, setelah hari itu—aku benar-benar merasa
semakin tidak baik. Benar, aku merasa bersalah. Walau sebenarnya dirimu
menungguku atau pun tidak—aku tak peduli. Aku tidak menghormatimu—itu yang
membuatku merasa amat bersalah.
Setelah hari itu, aku tak berani untuk tidak datang
lagi. Aku yakinkan diriku, bahwa aku harus datang. Aku tak peduli dengan
keterpurukan ini. Masa bodoh dengan semua luka ini. Yang jelas, dirimu adalah
sosok yang mesti aku hormati. Bukan saatnya aku menjadi cengeng—itu pikirku. Bahagianya,
dirimu menyambutku dengan senyum. Tentu, aku merasa amat diterima.
Ya, itu beberapa moment
awal yang kuingat. Kurasa, tak perlu kuuraikan satu per satu. Untuk apa? Dia
tetap ada di sini—di hatiku. Tentu, akan kujaga s’lalu.
Aku juga suka memanggilmu “bos”. Sungguh, semakin aku
menghormatimu. Bukan bermaksud lancang atau apa. Aku hanya ingin semakin
bersahabat—itu saja. Dirimu tidak pernah mempermasalahkan panggilan itu.
Dirimu tak hanya “presdir” bagiku. Lebih dari itu,
kamu adalah temanku—sahabatku. Bahagia rasanya, disambut oleh cinta disaat hati
luka. Dirimu mengajarkanku banyak hal. Satu yang amat sangat terasa. Tak satu
detik pun dirimu mengajarkanku kelemahan. Aku bahagia. Ya, bahagia meninggalkan
kelemahan-kelemahan dan tangisan-tangisan cengeng itu.
Aku tidak berani kalau harus serius denganmu. Mungkin—tepatnya
tidak pandai. Aku hanya suka tersenyum jika sudah di dekatmu. Jauh darimu pun,
akan kuusahakan untuk selalu tersenyum. Presdirku, aku amat sangat
menghormatimu. Maaf, jika caraku selama ini tidak benar. Aku hanya berani
memanggilmu itu—bos dan presdir. Bukankah dirimu tahu, bahwa aku sangat ingin
memiliki perusahaan? Bukankah pemimpinnya bos dan presdir? Sekali lagi maaf,
jika caraku itu tidak tepat. Karena, cuma itu yang kubisa. Membuatmu bangga? Entah
kapan itu bisa kulakukan. Setidaknya, itu yang bisa kulakukan. Ya, selalu
menghormatimu. Cuma itu presdir.
Sungguh, habis sudah kata-kataku. Sulit sebenarnya
untuk diungkapkan. Tapi, aku tetap kuatkan hati. Karena, aku cuma bisa ini. Sampai
kapan pun, aku akan selalu menghormatimu presdir. Semoga, kata yang tak sempat
kuungkapkan, dapat kusampaikan lewat helaian-helaian indah dari doa-doaku.
Cuma ini yang kubisa.
Aku amat menghormatimu..
Salam..
:)...............
BalasHapus