Waktu = Kesempatan

Ah, dunia..

Kindly Bookmark and Share it:



Sulit sungguh mulutku untuk berucap. Lagi-lagi aku tertegun. Tidak satu kali dua kali. Berkali-kali sudah Dia membuatku tertegun. Subhanallah..tahukah kamu, kawan? Itu tepat menohok dadaku. Entah apa rasanya, aku tak bisa ungkapkan. Ya, ungkapkan syukur ini. Bahagia sangat, hidup jauh dari kufur.

Jatuh—terpuruk—bangkit—renovasi hidup..

Itulah perjalananku, kawan. Aku bahagia diizinkan untuk sempat menempuhnya. Setidaknya, sebelum nyawaku diambil, aku sempat—untuk benar-benar mempertanggungjawabkan kesaksianku. Ya, syahadat itu.

Aku kehilangan teman dalam hidup. Dan rasanya amat pedih, kawan. Sudah tak punya orang tua. Ya, saat itu aku begitu merasa jatuh. Serasa kehilangan tempat bersandar—kehilangan tempat bergantung. Entahlah, apa masih bisa aku menempuh hidup ini?—begitu aku memikir. Rumahku sepi. Kursi tempat orang tuaku sering duduk, kosong sudah. Kemana pun pandangan ini kulayangkan, hanya benda mati yang kulihat. Ya, hari-hariku sepi. Sunyi sangat aku merasa.


Jika sudah hujan lebat, aku ingat pusara mereka. Jasad mereka basahkah? Dinginkah mereka di sana? Aku bisa saja memakai selimut dan membaringkan tubuhku di kasur. Sedangkan mereka? Kedinginankah? Menggigilkah? Hh..aku tak tahu.
Begitulah hari-hariku berlalu—bertahun-tahun.

Sampai di satu waktu, aku dititipkan kawan seperjuangan dalam perjalananku. Aku kembali mulai bersemangat. Sudah mulai berani untuk bermimpi. Sudah mulai optimis menjalani hidup. Sungguh, itu kebahagiaan besar bagiku. Tidak mudah untuk bangun setelah jatuh. Ya, dia selalu setia menemaniku dalam merajut asa. Senyumnya, candanya—membangkitkan semangat hidupku.

Namun, kembali aku dikagetkan. Kawanku itu juga pergi. Aduh, remuk sudah seluruh tulangku. Sudah kembali gelap hari-hariku—begitulah perasaanku. Hidupku kembali hening. Air mata sudah menjadi sahabat karibku. Aku merasa, terbengkalai sudah asa yang sempat kurajut. Duhai, lemah sangat hati ini. Kemana hendak kuberlari? Apa yang sebenarnya kubutuhkan?

Biar pun hari-hariku mendung, kuputuskan untuk terus melangkah. Aku telan saja air mata ini. Tak ada guna menjadi lemah—pikirku. Nyatanya, sampai saat ini aku masih diberi nyawa. Itu berarti, pekerjaanku belum selesai. Aku simpan seluruh luka, kumulai langkah baru. Berusaha menjadi manusia yang baik. Ternyata, bukan orang tua atau pun kawan tempatku bersandar. Ya benar, hanya Allah lah tempatku bersandar. Bukankah Allah tidak pernah meninggalkanku? Aku saja yang menjauhkan diri dari Allah. Bukankah Allah akan lebih mendekati kita jika kita mendekat kepadaNya?

Aku telah kufur, kawan..
Aku malu dengan Allah. Sampai saat ini, Allah masih mengizinkan napasku berhembus. Sudah seharusnya aku kembali padaNya. Bergantung dan berharap hanya padaNya.

Biar pun mereka yang kukasihi perlahan pergi, bagiku tak apa. Pedih, sakit, luka—itu sudah biasa. Itulah hidup. Semakin pedih hidup ini, bukankah itu aba-aba dari Allah supaya kita harus semakin merangkak mendekat padaNya?

Aku sudah tidak kaget lagi dengan hidupku. Untuk apa aku takut mereka menggigil di sana? Bukankah Allah itu Maha Ada? Untuk apa aku terus menangisi kepergian kawanku? Bukankah pertemuan dan perpisahan itu hakikat kehidupan?

Ah, dunia—hanya secuil dari kebahagiaan di surga. Dunia ini tak selamanya. Lebih baik, sebelum aku mati, kulakukan yang terbaik dariku untukNya—cuma itu yang bisa membuatku tenang dan bahagia..

Allah..

2 komentar:

  1. sip
    rangtalu suka pilihan bahasanya

    BalasHapus
  2. perjalanan menuju pada keharmonisan yg abadi memang tak seelok kata2 yg dituturkan, lebih buruk dan bertambah-tambah... hanya saja kebebasan hati 'tuk memilih antara kebahagiaan dan kesedihan adalah langkah pasti seiring dgn kepastian perputaran wktu.. titisan menuju sang Rabb, walau berat, tapi itulah dunia, dunia adalah pilihan... keep smile sahabat... Allah bersamamu,

    BalasHapus