Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 4)


Salam kawan. Senang sekali bisa bertemu kembali.
Saat ini aku akan menceritakan sesuatu padamu.

Hari ini adalah hari yang begitu kompleks. Banyak yang kutemui hari ini. Banyak rasa yang mengalir di pembuluh darah seluruh tubuhku.

Tadi, baru saja aku sampai di rumah, setelah mengikuti sidang umum. Katanya, ini adalah forum pengambilan keputusan tertinggi. Tepat sekali, aku mendapat posisi sebagai pengamat. Ya, aku bersyukur, karena aku diberi kesempatan masuk ke ruangan itu, meski hanya untuk mengamati. Sekarang aku tidak akan membahas jalannya sidang, siapa presidiumnya, atau pun komunikasi yang cukup alot.

Aku dan Aku (# 3)


Banyak cara untuk menemukan makna cinta. Caraku tentu berbeda dengan caramu. Bisa jadi, cinta bagiku belum tentu berarti cinta juga bagimu. Aku tidak mempersoalkan tentang itu. Terserah, yang penting dia tetaplah cinta. Siapa saja berhak atasnya. Soal cara, itu jelas berbeda.

Cinta. Aku tidak akan membahas tentang versi cinta oleh aku, kamu, atau pun mereka. Karena, aku tak berminat untuk itu.

Aku dan Aku (# 2)


Siapa yang mengajarimu hidup? Bapak Ibumu? Adik kakakmu? Teman-temanmu?

Bukan kawan. Bukan mereka yang mengajarimu hidup. Tapi, kamulah yang belajar tentang kehidupan ini sendiri. Coba kamu renungkan kembali. Andaikan mereka tidak ada, apa kamu akan berhenti untuk tetap belajar dalam hidup ini? Tentu tidak bukan? Maka, segera perbaiki mindset kamu tentang itu. Kamu tidak boleh bergantung kepada mereka. Ingat! Mereka adalah titipan. Hidupmu masih akan tetap berlanjut tanpa mereka. Termasuk, kamu akan tetap belajar tentang hidup ini.

Aku dan Aku (# 1)


Hei!! Apa kamu tau, mengapa kamu bisa merasa sedih atau bahagia?
Kamu tau, mengapa kamu bisa mengeluarkan air mata dan tertawa bahagia?
Karena kamu hebat? Karena kamu manusia? Atau karena kamu punya hati?

Ya, seluruh jawaban itu benar. Apa pun itu, silakan kamu jawab sesuai dengan versi kamu sendiri. Itu jawaban yang benar.

Proyek Untuk Bunda





Tak ada cicak malam ini. Jangkrik pun tak ada. Aku sendiri di sini. Di kamarku ini. Bertemankan melodi indah yang sayup-sayup terdengar di telingaku. Kasur di kamarku masih rapi seperti tadi pagi. Tak kusut sedikit pun. Bantal dan selimutku masih tersusun rapi. Hari ini, belum ada aku menjamahnya.
Malam ini, semua orang telah kembali ke kasur empuknya masing-masing. Mmmm….tentu mereka telah lelah seharian beraktifitas. Nyenyak sekali tampak olehku. Sampai-sampai, tak sedikit pun suara makhluk yang kudengar malam ini. Ya, aku ucapkan selamat beristirahat kepada mereka di dalam hatiku.  

Cappuccinoku Tak Hangat Lagi

Langit sore itu begitu elok. Udaranya begitu bersahabat. Duduk aku sejenak di bangku di sudut teras rumahku. Pikiranku melayang jauh. Mataku mengikuti arah terbang burung-burung itu. Sungguh, entah apa namanya. Perasaanku sedang campur aduk. Rasanya, terlalu banyak partikel-partikel duka yang melayang di alam pikirku. Kondisi ini, memutar memoriku beberapa tahun lalu. Persis seperti ini langit di waktu itu. Burung-burung pun, terbang mengikuti irama angin, persis seperti saat dulu.

every day is lebaran day..

waktu itu, ada seorang anak yang sedang duduk dengan ayahnya. nampaknya, mereka sedang bercerita. suara mereka sayup-sayup terdengar di telingaku. sedikit-sedikit, aku masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. dilihat dari tubuhnya, anak itu kira-kira berusia 6 tahun. dan ayahnya kira-kira 40 tahun. nampaknya, pembicaraan mereka asyik sekali. karna itu, aku menjadi makin penasaran. ingin tahu lebih jauh, mendekatlah aku semakin dekat kepada mereka. hingga, hanya beberapa meterlah jarak ku dengan mereka.