Waktu = Kesempatan

every day is lebaran day..

Kindly Bookmark and Share it:
waktu itu, ada seorang anak yang sedang duduk dengan ayahnya. nampaknya, mereka sedang bercerita. suara mereka sayup-sayup terdengar di telingaku. sedikit-sedikit, aku masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. dilihat dari tubuhnya, anak itu kira-kira berusia 6 tahun. dan ayahnya kira-kira 40 tahun. nampaknya, pembicaraan mereka asyik sekali. karna itu, aku menjadi makin penasaran. ingin tahu lebih jauh, mendekatlah aku semakin dekat kepada mereka. hingga, hanya beberapa meterlah jarak ku dengan mereka.

aku coba dengar, lebih mendengar, dan lebih mendengar lagi, ternyata mereka sedang membicarakan tentang hari raya. atau bisa juga kita sebut hari lebaran. cerintanya begini.
ada anak bertanya pada bapaknya. "ayah, apakah hari raya itu?" sang ayah menjawab, "hari raya adalah hari, dimana semua orang kembali fitri. itulah hari yang disebut hari kemenangan." kemudian sang anak bertanya lagi, "fitri itu apa, yah?" ayah menjawab," fitri adalah suci. dalam suci itu, ada 3 komponen. pertama, kebenaran. kebenaran menghasilkan ilmu. kedua, kebaikan. kebaikan menghasilkan budi. dan yang ketiga adalah keindahan. keindahan menghasilkan seni. "lalu, mengapa hari raya itu hanya ada 2 kali dalam setahun, yah? idul fitri dan idul adha? tidakkah bisa sepanjang tahun menjadi hari raya, yah? bukankah ayah bilang, suci itu adalah kebenaran, kebaikan, dan keindahan? apakah hanya 2 kali dalam setahun orang hidup dalam kebenaran, kebaikan, keindahan, yah?" bertubi-tubi anak itu melempar ayahnya dengan pertanyaan yang tak berkesudahan. itulah tanda, betapa besar rasa ingin tahu seorang anak. dengan tenang, ayah anak itu menjawab, "anak ayah, ayah tidak bilang hari raya itu hanya 2 kali dalam setahun. siapa saja yang dalam satu hari itu, hidup dalam kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang tidak cacat, maka hari itu adalah hari raya untuknya. jadi, anak ayah bisa menjadikan sepanjang tahun, sebagai hari raya. begitulah hakikatnya ananda."
dengan raut wajah agak bingung, anak itu seperti sedang memutar-mutar otaknya. sepertinya dia sedang mencoba untuk memahami perkataan ayahnya. dan, di ujung kebingungannya, anak itu melemparkan seulas senyum, pertanda dia memahami penjelasan ayahnya.

saudaraku, semoga kita termasuk ke dalam golongan itu. aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar