Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 1)


Hei!! Apa kamu tau, mengapa kamu bisa merasa sedih atau bahagia?
Kamu tau, mengapa kamu bisa mengeluarkan air mata dan tertawa bahagia?
Karena kamu hebat? Karena kamu manusia? Atau karena kamu punya hati?

Ya, seluruh jawaban itu benar. Apa pun itu, silakan kamu jawab sesuai dengan versi kamu sendiri. Itu jawaban yang benar.

Proyek Untuk Bunda





Tak ada cicak malam ini. Jangkrik pun tak ada. Aku sendiri di sini. Di kamarku ini. Bertemankan melodi indah yang sayup-sayup terdengar di telingaku. Kasur di kamarku masih rapi seperti tadi pagi. Tak kusut sedikit pun. Bantal dan selimutku masih tersusun rapi. Hari ini, belum ada aku menjamahnya.
Malam ini, semua orang telah kembali ke kasur empuknya masing-masing. Mmmm….tentu mereka telah lelah seharian beraktifitas. Nyenyak sekali tampak olehku. Sampai-sampai, tak sedikit pun suara makhluk yang kudengar malam ini. Ya, aku ucapkan selamat beristirahat kepada mereka di dalam hatiku.  

Cappuccinoku Tak Hangat Lagi

Langit sore itu begitu elok. Udaranya begitu bersahabat. Duduk aku sejenak di bangku di sudut teras rumahku. Pikiranku melayang jauh. Mataku mengikuti arah terbang burung-burung itu. Sungguh, entah apa namanya. Perasaanku sedang campur aduk. Rasanya, terlalu banyak partikel-partikel duka yang melayang di alam pikirku. Kondisi ini, memutar memoriku beberapa tahun lalu. Persis seperti ini langit di waktu itu. Burung-burung pun, terbang mengikuti irama angin, persis seperti saat dulu.

every day is lebaran day..

waktu itu, ada seorang anak yang sedang duduk dengan ayahnya. nampaknya, mereka sedang bercerita. suara mereka sayup-sayup terdengar di telingaku. sedikit-sedikit, aku masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. dilihat dari tubuhnya, anak itu kira-kira berusia 6 tahun. dan ayahnya kira-kira 40 tahun. nampaknya, pembicaraan mereka asyik sekali. karna itu, aku menjadi makin penasaran. ingin tahu lebih jauh, mendekatlah aku semakin dekat kepada mereka. hingga, hanya beberapa meterlah jarak ku dengan mereka.

Rumah Puisi, Rumah Bagi Pemilik Jiwa yang Cinta Indonesia

Rumah Puisi, Rumah Bagi Pemilik Jiwa yang Cinta Indonesia

Manusia yang cerdas adalah manusia yang dapat berguna bagi dirinya dan orang lain. Pribadi yang sukses adalah pribadi yang dapat berguna bagi dirinya dan orang lain pula. Bukan sukses namanya, jika kita hanya berjuang keras demi kesenangan kita semata. Bukan sukses pula namanya, jika kita tidak bisa menjadikan lingkungan bagian dari kehidupan kita. Lingkungan yang akan kita ajak untuk sama-sama berbahagia dengan kita. Lingkungan yang akan senantiasa kita libatkan dalam usaha peningkatan kualitas diri kita. Dan lingkungan yang akan selalu bersedia membantu kita dalam pencerahan wajah negeri Indonesia.

SEMANGAT = HIDUP

SEMANGAT = HIDUP
Memang, tidak mudah untuk mempertahankan semangat yang telah dimiliki. Saat semangat itu pergi, rasanya tidak ada lagi yang bisa dilakukan dengan baik. Hanya “Pasrah dan lalui” saja. Mungkin itu yang selalu ada dalam pikiran orang-orang yang kehilangan semangat. Menanti sampai saat berbahagia itu datang. Berharap, agar masa-masa tanpa semangat itu, dapat berakhir. Walaupun tidak tahu kapan berakhirnya. Memang, tidak pernah berhenti untuk menyemangati diri. Tapi, disebabkan keadaan-lah semangat itu perlahan pergi.

Mari Menjadi Generasi yang Beretika

MARI MENJADI GENERASI YANG BERETIKA
Kita adalah manusia yang lahir dan tumbuh di bumi Indonesia. Airnya yang jernih, lautnya yang biru, hutannya yang hijau, satwanya yang beraneka, dan terutama adalah penduduknya yang ramah dan berhati baik. Berbicara mengenai penduduk, mengingatkan kita kepada pendidikan. Insan yang berpijak di bumi pertiwi ini, berperilaku baik, bercita-cita baik, dan berusaha dengan baik. Segala yang baik akan selalu membaikkan. Karena, baik itu identik dengan budi. Orang yang berbudi hidupnya akan baik. Berbudi. Kata ini memiliki makna yang kalau orang baru mendengarnya, pikiran orang langsung pada sopan santun. Dan sopan santun bersahabat dengan etika. Etika merupakan sesuatu yang tidak semua orang dapat memilikinya. Namun, tidak mustahil kita menjadi orang yang beretika. Agar kita dapat menjadi siswa yang beretika, maka diperlukan kesadaran yang tinggi dalam menjalani hidup.