Waktu = Kesempatan

Mari Menjadi Generasi yang Beretika

Kindly Bookmark and Share it:
MARI MENJADI GENERASI YANG BERETIKA
Kita adalah manusia yang lahir dan tumbuh di bumi Indonesia. Airnya yang jernih, lautnya yang biru, hutannya yang hijau, satwanya yang beraneka, dan terutama adalah penduduknya yang ramah dan berhati baik. Berbicara mengenai penduduk, mengingatkan kita kepada pendidikan. Insan yang berpijak di bumi pertiwi ini, berperilaku baik, bercita-cita baik, dan berusaha dengan baik. Segala yang baik akan selalu membaikkan. Karena, baik itu identik dengan budi. Orang yang berbudi hidupnya akan baik. Berbudi. Kata ini memiliki makna yang kalau orang baru mendengarnya, pikiran orang langsung pada sopan santun. Dan sopan santun bersahabat dengan etika. Etika merupakan sesuatu yang tidak semua orang dapat memilikinya. Namun, tidak mustahil kita menjadi orang yang beretika. Agar kita dapat menjadi siswa yang beretika, maka diperlukan kesadaran yang tinggi dalam menjalani hidup.

Satu lembaga formal yang dapat kita lihat adalah sekolah. Dari kita masih bayi, orang tua kita sudah berencana untuk menyekolahkan kita ke sekolah yang menurut mereka dapat mendidik kita menjadi orang yang terdidik. Bagi orang tua, yang paling utama adalah pendidikan anak-anaknya. Dan satu tujuan mereka mencari uang, yaitu untuk biaya sekolah anak. Mereka bekerja keras untuk mencari uang dengan harapan anaknya dapat bersekolah dan menjadi orang sukses. Niat mulia para orang tua harus kita refleksikan melalui cara dan proses belajar kita. Jangan sampai kepercayaan yang telah diberikan oleh orang tua kepada kita, tidak kita jaga dengan baik. Tanda bahwa kita menghargai kepercayaan yang telah orang tua kita berikan, adalah belajar dengan sepenuh hati. Tidak hanya orang tua yang menginginkan anaknya sukses. Tapi, negara ini juga mengharapkan para calon pemimpin yang cerdas otaknya dan baik budinya.
Sepertinya, saat ini tujuan dari pendidikan yang sebenarnya telah terabaikan. Mengapa? Banyak siswa pada masa ini yang sekolah tidak dengan sepenuh hati. Hanya sekedar ingin melepas kewajiban. Padahal, sebenarnya banyak sekali pelajaran yang bisa kita peroleh dengan bersekolah. Beruntunglah orang yang telah dapat bersekolah. Tapi, lebih beruntung lagi siswa yang sekolah dengan sebenar-benarnya. Datang ke sekolah dengan niat yang tulus, yaitu untuk belajar, untuk pendidikan. Karena pendidikan itu adalah ibadah. Betapa bahagianya jika kita mempunyai banyak waktu untuk beribadah. Tapi, semangat siswa untuk bersekolah makin lama semakin memudar. Jika bisa, mungkin negara ini telah menangis melihat generasi muda yang sudah loyo. Negara ini meraung merindukan generasi yang penuh dengan semangat.
Pada masa ini, yang menyebabkan kerusuhan adalah siswa. Yang berhadapan dengan hukum adalah siswa. Yang mencemari nama baik keluarga adalah siswa. Dan sedikit demi sedikit, pondasi negara kita hancur, juga karena siswa. Mengapa siswa? Mengapa tidak pejabat? Mengapa juga tidak seniman atau pun orang-orang yang ahli di bidangnya? Sebenarnya, orang-orang cerdas itu, dulunya mereka adalah seorang siswa. Mereka duduk di bangku, menulis di atas meja, dan menghadap ke papan tulis. Di sana mereka mendapatkan ilmu. Di sana mereka belajar untuk bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan. Namun, duduk di bangku sekolah hanya sekedar untuk melepas kewajiban untuk menjalankan wajib belajar. Bukannya tercipta generasi yang berbudi baik dan dapat dijadikan contoh. Melainkan generasi yang merepotkan orang banyak.
Kita tentu tidak menginginkan ini semua berkelanjutan. Keadaan yang seharusnya tercipta adalah ketentraman dan kedamaian. Menciptakan generasi yang beretika memang tidak semudah membalik telapak tangan. Melainkan harus dengan perjuangan yang sungguh. Sebenarnya, hal pertama yang harus diperbaiki adalah niat. Niat untuk menjadi yang baik dan membaikkan. Pendidikan haus akan orang-orang yang beretika. Namun, pendidikan yang semestinya adalah etika itu sendiri. Orang tahu bersopan santun karena dididik. Orang tahu yang mana benar dan yang mana salah juga karena dididik. Orang berbudi juga hasil didikan. Namun, yang sedang suburnya sekarang adalah anak yang tidak mau dididik. Mereka lebih memilih caranya sendiri. Menganggap dia yang paling benar. Dia yang paling hebat, dan yang lain dianggap salah. Tentu ini yang tidak kita inginkan.
Dapat kita lihat pada pelaksanaan ujian. Sebelum ujian dilaksanakan, generasi yang menganggap dirinya hebat itu, lebih setuju menghabiskan waktunya dengan melakukan hal-hal yang tidak membaikkan. Bermain game, di warnet (warung internet) sampai lupa waktu, hura-hura dengan teman-teman dan lupa untuk belajar. Tidak jarang mereka hanya mengiyakan perkataan orang tua, tanpa menurutinya sedikit pun. Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran generasi seperti itu? Apakah mereka tidak berfikir, bahwa negeri ini membutuhkannya? Apakah mereka tidak tahu untuk apa mereka bersekolah? Yang sangat menyedihkan sekali, ketika ujian generasi itu lebih setuju untuk menjadi generasi pembohong. Bukannya mati-matian untuk belajar, tapi malah mati-matian untuk mempersiapkan jimat. Bekerja sama dengan teman dalam ujian, sudah menjadi kebiasaan. Namun, itu bukanlah kerjasama seseorang yang terdidik. Guru-guru kita tidak melarang kita untuk bekerja sama dengan teman. Asalkan kerja sama itu tidak dalam ujian. Tapi, kebanyakan dari siswa lebih memilih untuk bekerja sama dalam ujian. Yang sangat disayangkan, siswa yang menyontek itu bangga dengan nilai yang ia peroleh. Apalah artinya nilai 9 jika itu hasil dari ketidakjujuran? Lebih baik nilai 7, asalkan itu didapat dengan jalan halal. Jika ditanya pada diri tiap siswa, pasti mereka akan merasa bangga menerima hasil usahanya sendiri. Tapi kenapa mereka masih mencontek? Memang tidak ada siswa yang tidak ingin remedial (ujian ulang). Tapi haruskah kita menjauhkan remedial (ujian ulang) dengan jalan yang tidak benar? Kalau memang itu bentuk generasi muda saat ini, berarti mereka sekolah hanya untuk mengejar nilai. Mereka lebih memilih untuk berusaha dengan jalan haram. Dan menjauhi jalan halal yang tentu membaikkan. Mungkin dia pikir, jalannya itu adalah yang paling tepat. Padahal dia begitu jauh dari etika. Apa jadinya negeri ini jika generasi mudanya seperti itu?
Coba kita tanya pada nurani. Kita dengarkan dengan sungguh bisikan jiwa. Pasti kita tidak menginginkan terciptanya generasi pembohong. Generasi pembohong hanya menghancurkan segala yang telah dibangun dengan penuh perjuangan. Memang awalnya terasa manis. Tapi, yakinlah bahwa suatu saat nanti semuanya akan hilang. Kesuksesan yang dicapai dengan kebohongan tidak akan bertahan lama. Tapi, kesuksesan yang dicapai dengan perjuangan yang sungguh akan kekal. Karena sukses itu adalah buah dari usaha yang halal bukan usaha yang haram. Marilah kita mulai untuk beretika dan jauh dari bohong. Sesungguhnya kebahagiaan akan berpihak pada jiwa yang baik.

Rahmizakia Rifka
SMA Negeri 3 Batusangkar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar