Waktu = Kesempatan

So difficult to say..

Kindly Bookmark and Share it:


Ya, aku cuma bisa diam dan tersenyum. Entahlah, tak bisa lagi bibir ini merangkai kata. Ah, lucu sangat semua ini. Bukankah aku sudah terbiasa melihat orang pergi? Apa-apaan semua ini?

Memang, aku sudah biasa melihat orang pergi—menyaksikan punggung yang perlahan semakin menjauh, hingga hilang dari hadapanku. Kafan tertimbun tanah pun, sudah menjadi sahabat pemandangan bagiku.

Bukan, bukan itu yang membuatku diam dan tersenyum. Itu sudah kawan bagiku.

Aku tak bisa berkata-kata, jika air mata tumpah di depan mataku. Aku tak sanggup menyaksikan kepedihan yang mereka derita. Air mata begitu deras membanjiri pipi lembutnya. Duhai Allah, tidak tega aku menyaksikannya. Tentu, aku hanya bisa diam. Harus pulakah aku menangis? Oh tidak, apalah gunanya jika aku menambah duka yang mereka rasakan? Karena sesungguhnya, aku juga turut berduka. Ya, air mata mereka adalah duka besar bagiku.


Ah, lagi-lagi aku hanya bisa diam dan tersenyum. Ya, harapanku—mereka bisa sejenak melupakan pedih yang sedang diderita dengan menatap senyum di wajahku. Walau sesungguhnya, amat pedih harus senyum sambil menelurusi butiran air matanya.

Aku tidak bisa memberi apa-apa selain itu. Karena sungguh, cuma itu yang kubisa.

So difficult to say..


1 komentar: