Ya, aku cuma bisa diam dan tersenyum. Entahlah,
tak bisa lagi bibir ini merangkai kata. Ah, lucu sangat semua ini. Bukankah aku
sudah terbiasa melihat orang pergi? Apa-apaan semua ini?
Memang, aku sudah biasa melihat orang
pergi—menyaksikan punggung yang perlahan semakin menjauh, hingga hilang dari
hadapanku. Kafan tertimbun tanah pun, sudah menjadi sahabat pemandangan bagiku.
Bukan, bukan itu yang membuatku diam dan
tersenyum. Itu sudah kawan bagiku.
Aku tak bisa berkata-kata, jika air
mata tumpah di depan mataku. Aku tak sanggup menyaksikan kepedihan yang mereka
derita. Air mata begitu deras membanjiri pipi lembutnya. Duhai Allah, tidak
tega aku menyaksikannya. Tentu, aku hanya bisa diam. Harus pulakah aku
menangis? Oh tidak, apalah gunanya jika aku menambah duka yang mereka rasakan? Karena
sesungguhnya, aku juga turut berduka. Ya, air mata mereka adalah duka besar
bagiku.
Ah, lagi-lagi aku hanya bisa diam dan
tersenyum. Ya, harapanku—mereka bisa sejenak melupakan pedih yang sedang
diderita dengan menatap senyum di wajahku. Walau sesungguhnya, amat pedih harus
senyum sambil menelurusi butiran air matanya.
Aku tidak bisa memberi apa-apa selain
itu. Karena sungguh, cuma itu yang kubisa.
So
difficult to say..

jika tidak bisa di ucapkan, maka tersenyumlah.. :)
BalasHapus