Duhai, beda benar rasanya malam ini. Tak
seperti malam-malam sebelumnya. Sungguh berbeda aku merasa. Entah apa namanya
ini, aku tak bisa ungkapkan. Mungkin saja aku sudah tak lama lagi. Setelah ini
atau pun saat ini, aku bisa saja disuruh pulang. Jika itu benar, aku hanya
ingin pulang dengan tenang. Tanpa gelisah, tanpa takut, tanpa jeritan. Ah, andai
saja..
Beberapa hari belakangan ini aku merasa
semuanya amat berharga. Tidak seperti hari-hari sebelumnya—yang hanya ingin
melakukan apa yang kuinginkan, dengan selalu menganggap semua yang tak kuminati
adalah masa bodoh. Syukurlah aku sempat menyadarinya. Sadar—bahwa nyawa ini
amat berharga. Sadar—bahwa hidupku saat ini adalah anugerah. Sadar—bahwa mereka
di sekelilingku amat harus kusayangi dan kujaga perasaannya. Sadar—bahwa
semuanya untuk Allah. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk tidak bersyukur,
untuk takut, untuk gelisah. Karena ada Allah yang akan selalu menguatkan
perjalananku—hingga aku pulang nanti.
Kawan, jika aku pulang terlebih dulu, lanjutkanlah mimpi-mimpi kita. Anggap saja perjalanan ini adalah
estafet indah yang musti ditunaikan. Tidak usah takut, gelisah, atau pun ragu.
Berbuatlah semampumu dengan tetap menggantungkan harapan itu padaNya.
Perjalanan ini amat indah, kawan. Sungguh, banyak benar cinta yang kutemui di
sepanjang perjalanan ini. Tak sedikit pun kusesali. Memang benar, air mataku sering
jatuh, dadaku sering remuk, hatiku sering terasa perih. Tapi, semua itu amat
bermakna di persinggahan nan tak abadi ini.
Kawan, ingatlah ini. Dunia adalah
persinggahan. Bukan di sinilah keabadian itu. Karenanya, tidak usah terlalu
mencintai dunia. Jika benar aku pulang setelah ini atau saat ini, tak satu pun
perhiasan dunia dapat kubawa. Dirimu yang selalu mendampingi perjalananku pun,
tidak akan bisa menemaniku pulang. Karena, kita datang ke dunia ini sendiri.
Maka, kita pun akan pulang sendiri. Keabadian itu setelah ini, kawan. Boleh—dan
sangat boleh malah, cita-cita untuk berjumpa di keabadian itu kita jaga. Agar
asa itu dapat terwujud, maka hanya kesamaan imanlah yang dapat mempertemukan
kita. Akrab sangat kita di dunia, bukanlah jaminan kita akan bertemu saat sudah
pulang nanti.
Sungguh..persinggahan ini tetap
kujalani, hanya karena ingin pulang dengan damai, dalam limpahan cinta dan kasihNya.
Semoga kita berjumpa lagi di masa nan abadi..

Subhanallah
BalasHapus:)
maka berbekal lah untuk kehidupan yang abadi kelak...
BalasHapus