Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 27)

Aku suka saat diriku bersedih, aku juga suka saat diriku bahagia. Aku suka nilai rendah, aku juga suka nilai tinggi. Aku suka huruf A, aku juga suka huruf E. Aku suka dimanja, aku juga suka dimarahi.

Ya..aku suka saat-saat itu. Meski, tak semua kondisi dapat kuuraikan satu per satu.

Jika tidak ada sedih, bagaimana kutahu bahwa bahagia itu sebenarnya anugerah?? Bukankah di saat aku sedih, aku sangat ingin untuk kembali tertawa?? Mungkin, jika aku tak pernah sedih—aku tidak akan merasakan betapa harusnya aku bersyukur dengan kebahagiaan yang kumiliki. Begitu juga dengan nilai rendah, huruf E, dan dimarahi.

Aku dan Aku (# 26)

Aku cukup heran dengan orang-orang yang tidak jujur. Semoga, aku dan kamu dilindungi dan dijauhkan oleh Allah dari ketidakjujuran. Aamiin..

Aku harus ulangi. Aku heran dengan mereka yang tidak jujur. Padahal, jujur itu adalah hal prinsip yang sudah jelas tidak boleh dilanggar. Tentu, tak sedikit pun boleh diabaikan. Kamu tentu tau kawan, apa makna dari tidak jujur itu? Ya, sebut saja—bohong. Bohong, jelas tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Aku amati dan aku rasakan, kebohongan telah merasuk lini-lini kehidupan.

Kamu tidak usah kaget saat aku begitu yakin untuk ungkapkan, bahwa kebohongan telah merasuki lini-lini kehidupan. Dan mungkin, seluruhnya.

Aku dan Aku (# 25)

Salam kawan..
Aku tau dan sangat yakin, bahwa kelelahan selalu menghampiri hari-harimu. Lelah memang—tapi kamu tetap bertindak walau sebenarnya mata ini minta untuk dipejamkan. Aku tau kamu lelah. Aku juga tau kalau kamu tidak ingin menghentikan semua kebaikan ini. Kamu tidak sadar, kawan—bahwa kamu telah menerjang tembok lelah itu. Sampai-sampai, kamu sendiri lupa kalau kamu cukup lelah.

Aku tidak ragukan lagi. Kelelahanmu bukan berarti apa-apa jika dibandingkan dengan panjangnya jalan kebaikan ini. Seujung jarum pun, belum kurasa. Walaupun begitu, itu usaha yang bagus, kawan. Bisa-bisanya manusia yang sangat kikir dan penuh dengan keluh kesah, tidak ingat kalau sebenarnya dia lelah. Sungguh, sangat hebat. Aku apresiasi itu.

Aku dan Aku (# 24)

Aku tau tidak ada orang yang bisa hidup sendiri. Tapi, ternyata tidak cukup hanya dengan aku mengetahuinya saja. Lebih dari itu, sebenarnya aku mesti memahaminya.

Aku menemukan sesuatu malam ini, kawan. Aku menemukan arti sebuah kesetiaan. Ternyata, tanpa aku dan kamu sadari—dengan selalu berceritanya aku dan kamu, itu adalah wujud dari kesetiaan. Mengapa bisa begitu?? Ya, bisa saja. Sebelumnya, apa perlu aku jelaskan arti kata setia padamu? Kurasa tidak usah kawan. Tentu, kamu sudah tau arti kata itu. Jikalau kamu berkata tidak tau, aku rasa bukan tidak tau. Aku yakin, kamu tau. Hanya saja, tidak mudah untuk diuraikan dalam bentuk kata-kata. Benar kan?

Aku dan Aku (# 23)

Kemarin aku buka internet. Aku buka email di yahoomail.com. Kemudian, dihadapkan ke muka-ku beberapa headline. Dan aku cukup tertarik pada satu judul. Maaf, aku lupa judul lengkapnya. Yang jelas, maksud judul itu mengatakan bahwa DPR setuju dengan keputusan Polda Metro Jaya untuk menolak kedatangan Lady Gaga ke Indonesia. Ya, menolak untuk konser di Indonesia. Kamu tentu tau kawan? di Negara kita sedang marak-maraknya budaya asing—yang semoga tidak menenggelamkan budaya asli Indonesia, kuharap.

Karena tertarik, kemudian aku bacalah berita itu. Senyum-senyum sendiri aku saat membacanya. Kira-kira isinya begini. Di sana dikatakan, bahwa alasan penolakan konser Lady Gaga di Indonesia adalah karena budaya barat yang dijunjung oleh Lady Gaga tidak sesuai dengan ideologi Pancasila—yang tentu sangat dijunjung tinggi oleh Indonesia. Di samping itu, juga dikatakan, bahwa aksi panggung Lady Gaga yang terlalu vulgar—sangat dikhawatirkan akan merusak moral bangsa. Scara, Indonesia berbeda dengan barat. Indonesia sangat menjunjung tinggi budaya. Sedangkan barat, tidak berbudaya.

Aku dan Aku (# 22)

Hhhh….baru saja aku berbagi cerita dengan seseorang—yang sudah lumayan lama menghirup udara dunia. Cukup jauh memang—jarak kami. Maksudku jarak usia. Tapi, pembicaraan kami sangat menyenangkan, kurasa.

Aku ingin menyampaikan ini. Baru saja beliau mengatakan, bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat. Dan aku rasa, memang benar. Karena, tadi baru saja aku menonton televisi. Di dalamnya muncullah orang-orang yang memamerkan barang-barang mewah miliknya. Kemudian, bermainlah analisaku. Hha. Lucu juga jika aku membahasakannya analisa. Tapi, whatever lah. Yang penting maksudnya itu. Yup, aku lanjutkan. Dengan mereka memamerkan barang-barang mewah itu, apa akan berpengaruh pada kehidupanku? Seandainya jika sekarang aku sedang ada masalah, apa mereka bisa memberi solusi dengan tindakan pemernya itu?? Kurasa tidak, kawan. Malah itu seperti angin lalu, menurutku. Tak ada rasa, tak ada tanda.

Aku dan Aku (# 21)

Pernah aku begitu terobsesi menjadi manusia yang sempurna. Sempurna kemampuannya, sempurna gaya hidupnya, sempurna segala sisi kehidupannya. Jika boleh jujur, aku mengalami kesulitan dalam menjalaninya. Gerak langkahku menjadi tidak natural—dibuat-buat rasanya. Tidak hanya itu. Aku juga terbebani dalam menjalaninya. Maka, aku putuskan untuk mengevaluasi dan memperbaiki tujuanku.

Dan memang benar. Itu saja, sudah kuawali dari sebuah obsesi. Tentu, tidak tepat kurasa. Karena, hidup ini bukan obsesi. Hidup adalah cinta yang berisi penuh dengan pengorbanan dan pengabdian. Syukurlah, aku sadar itu.