Waktu = Kesempatan

Cappuccinoku Tak Hangat Lagi

Langit sore itu begitu elok. Udaranya begitu bersahabat. Duduk aku sejenak di bangku di sudut teras rumahku. Pikiranku melayang jauh. Mataku mengikuti arah terbang burung-burung itu. Sungguh, entah apa namanya. Perasaanku sedang campur aduk. Rasanya, terlalu banyak partikel-partikel duka yang melayang di alam pikirku. Kondisi ini, memutar memoriku beberapa tahun lalu. Persis seperti ini langit di waktu itu. Burung-burung pun, terbang mengikuti irama angin, persis seperti saat dulu.

every day is lebaran day..

waktu itu, ada seorang anak yang sedang duduk dengan ayahnya. nampaknya, mereka sedang bercerita. suara mereka sayup-sayup terdengar di telingaku. sedikit-sedikit, aku masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. dilihat dari tubuhnya, anak itu kira-kira berusia 6 tahun. dan ayahnya kira-kira 40 tahun. nampaknya, pembicaraan mereka asyik sekali. karna itu, aku menjadi makin penasaran. ingin tahu lebih jauh, mendekatlah aku semakin dekat kepada mereka. hingga, hanya beberapa meterlah jarak ku dengan mereka.

Rumah Puisi, Rumah Bagi Pemilik Jiwa yang Cinta Indonesia

Rumah Puisi, Rumah Bagi Pemilik Jiwa yang Cinta Indonesia

Manusia yang cerdas adalah manusia yang dapat berguna bagi dirinya dan orang lain. Pribadi yang sukses adalah pribadi yang dapat berguna bagi dirinya dan orang lain pula. Bukan sukses namanya, jika kita hanya berjuang keras demi kesenangan kita semata. Bukan sukses pula namanya, jika kita tidak bisa menjadikan lingkungan bagian dari kehidupan kita. Lingkungan yang akan kita ajak untuk sama-sama berbahagia dengan kita. Lingkungan yang akan senantiasa kita libatkan dalam usaha peningkatan kualitas diri kita. Dan lingkungan yang akan selalu bersedia membantu kita dalam pencerahan wajah negeri Indonesia.

SEMANGAT = HIDUP

SEMANGAT = HIDUP
Memang, tidak mudah untuk mempertahankan semangat yang telah dimiliki. Saat semangat itu pergi, rasanya tidak ada lagi yang bisa dilakukan dengan baik. Hanya “Pasrah dan lalui” saja. Mungkin itu yang selalu ada dalam pikiran orang-orang yang kehilangan semangat. Menanti sampai saat berbahagia itu datang. Berharap, agar masa-masa tanpa semangat itu, dapat berakhir. Walaupun tidak tahu kapan berakhirnya. Memang, tidak pernah berhenti untuk menyemangati diri. Tapi, disebabkan keadaan-lah semangat itu perlahan pergi.

Mari Menjadi Generasi yang Beretika

MARI MENJADI GENERASI YANG BERETIKA
Kita adalah manusia yang lahir dan tumbuh di bumi Indonesia. Airnya yang jernih, lautnya yang biru, hutannya yang hijau, satwanya yang beraneka, dan terutama adalah penduduknya yang ramah dan berhati baik. Berbicara mengenai penduduk, mengingatkan kita kepada pendidikan. Insan yang berpijak di bumi pertiwi ini, berperilaku baik, bercita-cita baik, dan berusaha dengan baik. Segala yang baik akan selalu membaikkan. Karena, baik itu identik dengan budi. Orang yang berbudi hidupnya akan baik. Berbudi. Kata ini memiliki makna yang kalau orang baru mendengarnya, pikiran orang langsung pada sopan santun. Dan sopan santun bersahabat dengan etika. Etika merupakan sesuatu yang tidak semua orang dapat memilikinya. Namun, tidak mustahil kita menjadi orang yang beretika. Agar kita dapat menjadi siswa yang beretika, maka diperlukan kesadaran yang tinggi dalam menjalani hidup.

Menjadikan Siswa Bermartabat Melalui Pendidikan

Menjadikan Siswa Bermartabat Melalui Pendidikan
Oleh: Rahmizakia Rifka
Siswa SMAN 3 Batusangkar
Minang adalah salah satu suku dari sekian banyak suku yang ada di Indonesia. Seperti yang banyak disebut orang, bahwa Padang-lah asal orang Minang. Yang orang mengenalnya dengan adanya sebutan uda dan uni. Uda untuk saudara laki-laki, dan uni untuk saudara perempuan. Orang Minang ini, adalah orang yang kaya dengan aneka ragam rahmat Tuhan. Kita lihat saja daerahnya. Daerah Sumbar begitu kaya. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada alam ini. Insan Minang pun, cerdas dan berhati baik. Sesuai dengan program pemerintah, anak Indonesia harus mengikuti wajib belajar 9 tahun. Untuk mendukung program pemerintah itu, maka anak-anak Minang berkesempatan untuk berpendidikan dan juga berpeluang untuk berhasil.

Pentingnya IT

Pentingnya IT Bagi Siswa
Oleh: Rahmizakia Rifka



Dulu, pada saat nenek dan kakek kita masih berusia 16 tahun, mereka belum kenal dengan yang namanya internet atau handphone. Untuk berkomunikasi dengan pacarnya mungkin, harus menulis surat sekian panjang untuk dikirimkan kepada sang tambatan hati. Namun, pada zaman ini, yang namanya internet dan handhpone sudah tak asing lagi. Dulu, siapa yang punya Hp terlihat sangat mewah. Namun, sekarang siapa pun bisa memiliki Hp. Tak hanya orang dewasa. Anak SD pun, sudah mempunyai Hp. Entah untuk apa Hp baginya. Mungkin saja, untuk bermain game.