Aku tau kamu juga
manusia. Walau telah lama kamu hidup, kamu tetap saja manusia. Jika semakin
lama hidup bisa jadi malaikat, sesuatu yang sangat mengejutkan. Tapi tentu
tidak. Manusia tetap manusia dan malaikat tetaplah malaikat.
Apa pun yang kamu
coba ungkapkan, itu benar adanya. Dan apa pun yang kamu coba simpan, juga benar
adanya. Pilihan itu di tanganmu, kawan.
Aku tidak kaget
saat kamu bicara soal rasa. Karena tentu, semua kita memilikinya. Aku juga
tidak kaget saat kamu berharap dipertemukan dengan sosok yang serasa denganmu.
Karena, aku juga begitu. Ingin berbuat dengan rasa. Maaf, mungkin lebih
tepatnya—berbuat karena rasa. Rasa itu yang mendorongmu untuk melakukan itu.
Sabar saja kawan, kamu tidak sendiri.
Aku tau, kamu lebih
berpengalaman dariku. Tapi kamu juga mesti akui, aku hari ini juga buah dari
pengalaman. Bukan sesuatu yang menyedihkan kurasa, jika kamu sempat terhenti di
tengah perjalanan panjang ini. Aku yakin, kamu sedang berhenti sejenak untuk menghela
napas panjang. Ombak saja tidak selamanya menggulung dengan hebat. Ada juga
saatnya laut tenang dan hanya menghempaskan ombak kecil ke tepian. Biar pun
begitu, dia tetap menghempas. Begitu juga denganmu dan juga denganku. Meski tak
selamanya langkah ini tegap, tapi aku dan kamu tidak pernah berhenti melangkah.
Walau itu hanya langkah kecil.
Aku tau, kamu
sangat menantikan saat—dimana semua rasamu terjawab sudah. Sebelumnya, tolong
kamu akui bahwa aku punya kapasitas untuk bicara tentang ini. Hha. Apa
kedengarannya begitu lucu?? Terserah lah..
Apa ya?? Aku merasa
kehabisan kata-kata.
Yup! Tentu kamu
sudah mengerti. Hha. Apa aku terkesan memaksa?? Kurasa tidak kawan. Memang
beginilah aku. Kamu tenang saja. Tunggu saja sosok yang kamu harapkan. Yakinlah,
dia akan datang. Allah tau betul, yang kamu butuhkan. Jika kamu memang
membutuhkan teman (walau sebenarnya banyak teman di sisimu), Allah akan beri
itu. Ya, tentu pembicaraanku sejalan dengan rasa dan pemikiranmu. Aku yakin
itu.
Berilah selamat
kepada dirimu. Selamat untuk diri yang masih bisa bertahan. Selamat untuk diri
yang tetap memegang teguh rasa itu. Dan selamat untuk langkah hebatmu dengan
atau tanpa sosok yang kamu harapkan.
Ingat, Allah
melimpahkan seluruh kasihNya di jagat raya ini. Tak terkecuali untukmu dan juga
untukku.
Apa kamu mulai
bosan membaca tulisan ini, kawan?? Kurasa tidak. Kamu sangat senang membacanya,
bukan?? Hha..tenang, aku tidak memaksa.
Tapi kurasa, jika
tulisan ini kulanjutkan—itu ke itu saja yang akan kutulis. Ya, aku tau. Lebih
baik aku cukupkan. Aku tau kamu lega. Ya, senyum seperti itu lebih baik.
Aku tau kamu tidak puas
dengan ceritaku hari ini. Maafkan aku..
Salam..
:)... (senyum)........
BalasHapus