Hhh.....lumayan
letih aku hari ini. Seharian sudah melanglang buana. Aku keliling dunia hari
ini. Ya, keliling dunia versiku sendiri.
Aku ingin sampaikan
sesuatu padamu, kawan. Ini tentang diriku. Aku dan hidupku. Kamu tentu tau, aku
bukanlah anak yang jenius dan cerdas versi mereka—kebanyakan orang. Termasuk
bagi keluargaku sendiri. Boleh dibilang, aku adalah anak paling bodoh di antara
kami bersaudara. Entah dari kaca mata mana mereka memandangku. Tapi, kurasa tak
hanya mereka yang memandangku begitu. Orang-orang di luar sana memandang sama,
kurasa.
Ya, benar. Aku
bukan sosok yang rajin. Bukan sosok yang bisa dibanggakan oleh mereka. Tak apa
bagiku. Karena, bukan itulah tujuan hidupku. Bukan! Sesekali bukan itu. Aku
hidup tidak untuk membuat mereka bangga. Aku hidup bukan untuk menjadi barang
yang dijajakan kesana kemari demi prestise. Aku hidup untuk Allah,
Tuhanku—Tuhan semesta alam. Biarlah aku tidak bisa menaikkan prestise
keluargaku di mata orang banyak. Bukan di sana jalanku.
Soal bangga atau tidaknya
mereka memilikiku, itu bukan urusanku. Terserah, itu hak mereka. Aku tidak ada
hak di situ. Aku sadar dan teramat menyadari, bahwa sosok aku yang hidup di
tengah-tengah keluargaku bukan sosok yang mereka harapkan. Hah! Lucu kurasa.
Mengapa semua orang tua sangat ingin anaknya menjadi dokter? Memangnya, begitu
hebatkah profesi dokter di mata mereka? Begitu sempurnakah?? Hah, tidak kurasa.
Tentu, aku tidak
mengecilkan profesi dokter. Bukan itunya yang kulihat. Melainkan, keseragaman
di kalangan orang tua yang terus menuntut anaknya untuk menjadi dokter. Syukur
syukur, itu sejalan dengan cita dan impian anaknya. Kalau tidak?? Kurasa,
masalah yang akan timbul. Entah itu masalah pada pribadi sang anak, atau
masalah pada pribadi orang tua.
Benar memang, tidak
ada orang tua yang menginginkan keburukan untuk anaknya. Tapi, yang aku ingin
tegaskan—cobalah sesekali berganti kaca mata dengan kaca mata yang lebih indah.
Kaca mata yang lebih bisa membantu kita untuk memandang lebih luas dan jelas.
Tentunya melihat lebih dalam.
Aku tidak salahkan
keluargaku yang memandang begitu kepadaku. Terserah mereka. Dan tentu, juga
terserah aku ingin menjadi seperti apa. Mereka juga tidak punya hak untuk
mengintervensiku. Karena, akulah yang berkuasa atas diriku. Biar pun di mata
mereka aku tidak cerdas dan jenius—tapi bagiku aku adalah segalanya. Bagaimana
bisa aku menjalankan tugasku sebagai abdi Allah, jika aku saja tidak percaya
dengan diriku sendiri?? Bukan begitu kawan?
Memang, hari ini
aku belum bisa memberi apa-apa untuk mereka. Entah pernah mereka tersenyum
karena aku, entah tidak. Aku tak tahu. Tapi yang jelas, terlepas dari segala
sudut pandang tentangku, aku tetap berpengang teguh pada yang aku yakini.
Tentu, agamaku Islam dan seluruh mimpiku. Ya, takkan pernah kulepaskan walau
sedetik pun. Karena, hanya dengan Islam dan lautan mimpiku aku bisa bertahan.
Bagaimana denganmu
kawan?? Aku rasa, kamu tidak jauh beda. Yang jelas, apa pun itu—kamu harus
berdiri di kakimu sendiri. Apakah itu semangat, keyakinan, kepercayaan diri,
atau apa pun itu. Aku perlu tekankan ini. Jangan kamu menggantungkan harapanmu
kepada manusia. Gantungkanlah semuanya kepada Allah. Kamu kira, aku tidak sedih
melihat keluargaku?? Hha..sedih sudah tentu ada, kawan. Tapi, itu tidak berarti
apa-apa bagiku—dibanding lautan mimpiku yang menunggu untuk kuwujudakan satu
per satu.
Ya, harapanku hanya
pada Allah. Semoga, niat suciku untuk selalu berkarya diberi ridho olehNya.
Tentu kawan, begitu
juga denganmu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Aku tunggu kamu dengan ombak-ombak karyamu
yang luar biasa itu.
Salam..
:)....
BalasHapusapapun pilihan hidupmu hari ini.. yakinlah mereka orangtua kita, pasti akan tetap bangga dengan diri kita hari ini....
ketika kita merasa menjadi bagian yang tidak terlalu penting di keluarga, maka jadikan itu lecutan semangat kita untuk berbuat lebih banyak lagi... berjuang lebih keras, lebih gigih,, segigih deburan ombak yang tidak pernah bosan untuk mencapai tepian pantai... walaupun dia harus pecah ketika menabrak bebatuan pantai, tapi itu tidak membuatnya berhenti untuk terus mengulangnya...