Waktu = Kesempatan

Aku dan Aku (# 30)

Kindly Bookmark and Share it:
Hhh.....lumayan letih aku hari ini. Seharian sudah melanglang buana. Aku keliling dunia hari ini. Ya, keliling dunia versiku sendiri.

Aku ingin sampaikan sesuatu padamu, kawan. Ini tentang diriku. Aku dan hidupku. Kamu tentu tau, aku bukanlah anak yang jenius dan cerdas versi mereka—kebanyakan orang. Termasuk bagi keluargaku sendiri. Boleh dibilang, aku adalah anak paling bodoh di antara kami bersaudara. Entah dari kaca mata mana mereka memandangku. Tapi, kurasa tak hanya mereka yang memandangku begitu. Orang-orang di luar sana memandang sama, kurasa.

Ya, benar. Aku bukan sosok yang rajin. Bukan sosok yang bisa dibanggakan oleh mereka. Tak apa bagiku. Karena, bukan itulah tujuan hidupku. Bukan! Sesekali bukan itu. Aku hidup tidak untuk membuat mereka bangga. Aku hidup bukan untuk menjadi barang yang dijajakan kesana kemari demi prestise. Aku hidup untuk Allah, Tuhanku—Tuhan semesta alam. Biarlah aku tidak bisa menaikkan prestise keluargaku di mata orang banyak. Bukan di sana jalanku.


Soal bangga atau tidaknya mereka memilikiku, itu bukan urusanku. Terserah, itu hak mereka. Aku tidak ada hak di situ. Aku sadar dan teramat menyadari, bahwa sosok aku yang hidup di tengah-tengah keluargaku bukan sosok yang mereka harapkan. Hah! Lucu kurasa. Mengapa semua orang tua sangat ingin anaknya menjadi dokter? Memangnya, begitu hebatkah profesi dokter di mata mereka? Begitu sempurnakah?? Hah, tidak kurasa.

Tentu, aku tidak mengecilkan profesi dokter. Bukan itunya yang kulihat. Melainkan, keseragaman di kalangan orang tua yang terus menuntut anaknya untuk menjadi dokter. Syukur syukur, itu sejalan dengan cita dan impian anaknya. Kalau tidak?? Kurasa, masalah yang akan timbul. Entah itu masalah pada pribadi sang anak, atau masalah pada pribadi orang tua.

Benar memang, tidak ada orang tua yang menginginkan keburukan untuk anaknya. Tapi, yang aku ingin tegaskan—cobalah sesekali berganti kaca mata dengan kaca mata yang lebih indah. Kaca mata yang lebih bisa membantu kita untuk memandang lebih luas dan jelas. Tentunya melihat lebih dalam.

Aku tidak salahkan keluargaku yang memandang begitu kepadaku. Terserah mereka. Dan tentu, juga terserah aku ingin menjadi seperti apa. Mereka juga tidak punya hak untuk mengintervensiku. Karena, akulah yang berkuasa atas diriku. Biar pun di mata mereka aku tidak cerdas dan jenius—tapi bagiku aku adalah segalanya. Bagaimana bisa aku menjalankan tugasku sebagai abdi Allah, jika aku saja tidak percaya dengan diriku sendiri?? Bukan begitu kawan?

Memang, hari ini aku belum bisa memberi apa-apa untuk mereka. Entah pernah mereka tersenyum karena aku, entah tidak. Aku tak tahu. Tapi yang jelas, terlepas dari segala sudut pandang tentangku, aku tetap berpengang teguh pada yang aku yakini. Tentu, agamaku Islam dan seluruh mimpiku. Ya, takkan pernah kulepaskan walau sedetik pun. Karena, hanya dengan Islam dan lautan mimpiku aku bisa bertahan.

Bagaimana denganmu kawan?? Aku rasa, kamu tidak jauh beda. Yang jelas, apa pun itu—kamu harus berdiri di kakimu sendiri. Apakah itu semangat, keyakinan, kepercayaan diri, atau apa pun itu. Aku perlu tekankan ini. Jangan kamu menggantungkan harapanmu kepada manusia. Gantungkanlah semuanya kepada Allah. Kamu kira, aku tidak sedih melihat keluargaku?? Hha..sedih sudah tentu ada, kawan. Tapi, itu tidak berarti apa-apa bagiku—dibanding lautan mimpiku yang menunggu untuk kuwujudakan satu per satu.

Ya, harapanku hanya pada Allah. Semoga, niat suciku untuk selalu berkarya diberi ridho olehNya.

Tentu kawan, begitu juga denganmu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu.  Aku tunggu kamu dengan ombak-ombak karyamu yang luar biasa itu.
Salam..

1 komentar:

  1. :)....
    apapun pilihan hidupmu hari ini.. yakinlah mereka orangtua kita, pasti akan tetap bangga dengan diri kita hari ini....
    ketika kita merasa menjadi bagian yang tidak terlalu penting di keluarga, maka jadikan itu lecutan semangat kita untuk berbuat lebih banyak lagi... berjuang lebih keras, lebih gigih,, segigih deburan ombak yang tidak pernah bosan untuk mencapai tepian pantai... walaupun dia harus pecah ketika menabrak bebatuan pantai, tapi itu tidak membuatnya berhenti untuk terus mengulangnya...

    BalasHapus